
Zha dan om edo akhirnya tiba di rumah mereka. Zha memperahatikan sebuah mobil yang terparkir di halaman, dan ia begitu paham siapa pemiliknya. “Kak van?” Zha langsung tampak tegang dan menggenggam sabuk pengaman yang ia pakai saat itu juga.
Om edo yang paham kepanikan zha segera meraih tangan zha dan menggenggamnya dengan erat. “Zha takut?” tanya om edo yang perlahan memarkirkan mobil meski hanya dengan satu tangannya. Mengangguk,hanya itu yang dapat zha lakukan saat itu karena ia memang tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.
Om edo hanya datar menyikapinya, ia turun kemudian berputar membukakan pintu untuk zha dan memintanya keluar. Ia membujuk agar zha tetap tenang menghadapi kakak tirinya saat itu, apalagi ia tak mungkin datang sendiri kesana.
“Sama mama?” takut zha yang semakin menjadi.
“Kau fikir mamamu akan berani untuk bertemu denganku?” Om edo meraih tangan zha dan masuk bersama. Dan benar, van ada disana bersama lidya yang menemaninya. Mereka berdua lantas menatap zha, terutama van yang wajah sendunya.
Zha sedikit bersembunyi dibalik tubuh sang suami ketika melihat van ingin menghampiri.
“Zha!” panggil lidya yang langsung mengulurkan tangan dan memeluknya erat. Ia amat bahagia dengan pernikahan zha, meski ia sedih karena tak bisa ikut andil dalam pesta itu.
Zha dibawa duduk didekatnya, lidya berada ditengah antara van dan zha kemudian bergantian menatap mereka berdua.
“Ada apa?” tanya om edo yang menatap datar keduanya, terutama van.
Saat itu lidya ingin menjadi penengah dan bicara, namun om edo segera mengulurkan telapak tangan untuk menghentikannya. Lalu bibir lidya seolah terkunci seketika melihat kedinginan om edo. Kadang ia bertanya, bagaimana bisa zha betah dengan pria sedingin itu yang bahkan terasa begitu beku untuknya yang mudah flu.
“Katakan,” tatap tajam om edo pada van saat itu.
Van tampak menghela napas panjang sejenak dan mengepalkan tangannya. Lalu menghembuskan napas itu dengan begitu lega untuk memulai bicara.
“Tuan tahu? Aku memang sudah sangat terpesona ketika bertemu dengan zha. Gadis yang tak bisa dibilang pendiam, tapi ia juga tak bisa akrab dengan siapapun yang ia temui disekolah baru kami kala itu. Senyumnya, ramahnya, bahkan hanya dengan kedipan matanya saja sudah membuatku begitu terpesona.”
Ucapan gamblang van itu membuat zha membulatkan mata. Ia takut jika om edo akan semakin salah paham ketika mendengar itu semua keluar lacing dari mulutnya. Bagaimana tidak, seorang pria muda tengah memuji dan mengatakan jika ia mengagumi seorang istri di depan suaminya saat itu. Tapi, ketakutan zha sama sekali tak terbukti, saat itu justru om edo tampak begitu tenang mendengar semua ucapan zha padanya.
“Apalagi ketika melihatnya begitu tenang ketika dibully sahabatnya.” Saat itu Lidya yang deg-degan mendengar ucapan van dan lantas mengingat semua kesalahan yang ia perbuat.
“Ku kira memang dia setegar itu karena sudah menerima semua takdir buruk yang ia terima dalam hidupnya saat itu. Aku semakin ingin menjadi pelindung untuknya dan semakin dalam perasaan itu padanya, yang bahkan aku sudah tenggelam terlalu dalam pada pesona zha hingga semua tampak buram dimataku,” imbuh van dengan segala isi hatinya yang terdalam.
Ia ingin melindungi zha dari semua yang menyakitinya, ia ingin menjadi orang yang dicintai oleh zha dan orang yang bisa membawa zha kedalam kehidupan yang bahagia dengan segala tekanan yang ada. Ia menjelaskan semuanya, bahkan air matanya tumpah ketika mulai menyesali semua kesalahannya.
“Semakin aku mencoba rela, semua semakin berat.”
“HIngga akhirnya kau mencoba membawa lari zha begitu jauh? Kau kira sejauh apapun itu aku tak akan menemukannya?” tanya datar om edo.
“Kau selamat, karena saat itu lidya ada disana hingga aku hanya bisa memanfaatkannya. Aku bahkan sudah mengerahkan beberapa petugas yang bahkan bisa memenjarakanmu dengan segera.” Meski santai, rahang tegas om edo tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia berusaha membuat dirinya tenang saat ini, meski entah bagaimana yang ada didalam hatinya.
Van mengangguk pelan. Ia paham akan kekuasaan yang dimiliki pria itu yang bahkan melebihi kuasa ayahnya sendiri. Van lantas memutar tubuhnya menghadap zha, dan ia berusaha meraih tangan zha meski zha sempat menepisnya.
Lidya memang merasakan akral zha dingin saat itu, hingga ia harus menggenggam dan membantu van untuk menjelaskan semuanya pada zha mengenai semua penyesalan van padanya. “Yakinlah, kak van bersungguh sunguh minta maaf sama zha. Aku jadi jaminannya,” jelas lidya.
Zha menganggukkan kepala pada akhirnya. Genggaman tangan lidya ia lepas dan meraih tangan van yang masih menantinya untuk permohonan maaf yang ia ucapkan barusan.
“Zha mau maafin kakak? Kakak janji akan jadi kakak yang baik setelah ini meski tanpa mama diantara kita. Bahkan ayah juga begitu menyesal mendengar ini semua, yang harusnya ikut bahagia atas pernikahan zha.”
“Zha ngga marah, hanya zha sedikit trauma dengan kakak yang bisa senekat itu pada zha kemarin. Setelah itu, zha ngga terlalu ambil hati.” Zha sesekali melirik sang suami untuk melihat ekspresinya. Jika cemburu, zha siap untuk segera melepas genggaaman itu dari van.
Untungnya tidak. Om edo hanya sesekali menyaksikan mereka berdua sembari memainkan hpnya. Justru wika yang kesal memainkan bibir menatap mereka dari kejauhan. Bahkan ia tak membuatkan minum untuk tamunya tersebut karena terlalu enggan melihat wajah van yang ada disana.
Hati van akhirnya terasa lega saat ini. Ia bahkan sudah bisa mengulur senyum yang sempat hilang beberapa hari ini. Senyum yang hilang karena zha, dan saat ini juga kembali karena zha. Tapi lidya begitu lega melihat keduanya yang sudah keluar dari inti masalah mereka.
Lidya lantas mengajak van pulang, karena sebentar lagi ia menjemput papa dan mamanya di Bandara. “Cieeee, yang mau itu. Iiihiiiwwww!!” goda zha pada keduanya.
Wajah lidya lantas bersemu merah dan terus berkilah atas tuduhan zha padanya. Sebenarnya ia sendiri belum begitu siap dengan semua kemungkinan yang ada, apalagi dengan perasaan van yang sepertinya masih belum bisa pergi dari zha. Ia hanya tak ingin berharap terlalu besar akan hubungan keduanya terutama jika masih ada mama ana disana.
Van pulang, zha mengantarnya hingga ke pintu depan saat itu. Ia kembali pada om edo dan mengajaknya kembali ke kamar segera. “Sudah?” tanya om edo padanya.
“Daritadi ngga perhatiin. Hp mulu yang dilihat,” kesal zha memanyunkan bibirnya. Ia lantas nekat membawa tasnya sendiri untuk naik keatas, hingag om edo menggaruk dahi lalu menyusulnya.
“Eeeeh… Kesini!” Om edo meraih kerah leher zha bagian belakang untuk masuk ke kamarnya. Zha awalanya kaget, tapi ia seketika sadar karena mereka memang harus sekamar sejak saat ini.
“Heheee… Lupa,” garuk zha pada kepalanya yang tak gatal.