I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Wedding Om yan dan Wika



Rumah megah itu saat ini telah dihias dengan begitu indah dengan bunga mawar putih nyaris diseluruh halamannya. Sebuah altar pernikahan juga telah dipersiapkan untuk mengikat janji suci sepasang pengantin yang saling mencintai.


Mereka yang telah begitu lama bersama itu akhirnya Bersatu hari ini, tampak jelas wajah merona bahagia tergambar diwajah sang mempelai Wanita yang telah dirias dengan begitu cantik sesuai dengan gaunnya yang sederhana tapi indah. Ya, begitu indah meski untuk pencariannya juga begitu dadakan oleh zha dan om edo yang akhirnya seharian kemarin sibuk mempersiapkan pernikahhan om yan dan wika.


Bahkan keributan demi keributan mewarnai kegiatan mereka berdua dalam perjalanan panjang keduanya saat itu, apalagi zha yang tahu selera wika dan om edo lebih banyak diam dan cenderung meng’iyakan semua pilihan zha untuk kakaknya. Tapi kini lega, meskipun kemarin menyebalkan namun mereka bahagia karena hasil jerih payah itu benar-benar memuaskan.


“Kak wika, cantik sekali,” puji zha yang masuk kedalam kamar pengantin itu, yang bahkan dipesan dadakan dengan sebuah keributan dan paksaan karena memang waktunya mepet dengan acara yang akan dilaksanakan.


“Hey, Zha… Astaga, kamu juga cantik sekali, Sayang.” Wika juga memuji zha yang telah rapi dengan gaun indahnya, yang dipilih dadakan oleh om edo ketika zha sibuk memilih gaun pernikahan untuk wika.


Aura waja wika begitu bahagia saat ini, apalagi yang telah lama ia nantikan akhirnya terwujud dan ia merasa begitu lega dengan semuanya. Meski harus bertengkar terlebih dulu dan sempat ingin menyudahi hubungan yang sudah terjalin begitu lama selama ini. Meski juga harus menjalankan pesta sederhana yang hanya mereka gelar di rumah, karena itu perintah om edo pada keduanya.


Saat mereka disidang berdua di dalam ruang kerja itu dan saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, disana om edo berusaha mencari titik tengah diantara keduanya. Hinga akhirnya om edo meminta mereka menikah dengan cara sederhana, hingga nanti akan menggelar pesta bersama ketika ia menikahi Zhavira_kekasihnya.


Menurut akte, zhavira akan genap berusia Delapan belas tahun Tiga bulan lagi. Dan setidaknya saat itu ia akan menikahi zha meski harus bertabrakan dengan masa kuliahnya, untung saja zha menyanggupi itu semua demi mereka berdua. Untung saja tak ada yang terpaksa dan dipaksa dalam keputusan itu.


Usai berbincang dan saling mengungkapkan kebahagiaan, zha keluar untuk menghampiri omnya. Ia sudah pasti telah ada diluar karena harus menjadi wali wika saat ini, dan zha menghampiri untuk membantunya merapikan diri.


“Zha cantik nggga?”


“Kenapa bertanya seperti itu? Kau perempuan, jadi wajar jika kau cantik,” jawab datar om edo padanya. Zha langsung memanyunkan bibir untuk merespon ucapan om edo padanyya.


Dasi dan jas itu sudah sangat rapi, dan ia mengusapnya dengan lembut serta mencium aroma maskulin dari parfum yang om edo pakai disana. Ia menyukainya, dan bahkan ia menempelkan dahinya disana. Entah kenapa rasanya ingin bermanja, seperti begitu rindu padahal setiap hari sudah bertemu dan bahkan beberapa bulan lagi dipastika akan menikah.


“Zha kenapa?” tanya om edo yang merasa aneh pada tingkahnya. Ia menyentuh bahu zha, berniat melepas agar ia dapat menatap wajah dan mata zha. Tapi zha menggelengkan kepala, meminta agar om edo membiarkan zha tetap seperti itu hingga beberapa lama.


“Ngga pengen apa-apa, cuma pengen begini aja. Sebentar,” pinta zha padanya.


“Hey, acara akan segera dimulai, Setelah ini kau bebas memelukku kapan saja dan selama kau mau, oke?” bujuk om edo padanya. Yang saat itu ia meraih wajah dan mengecup kening zha dengan bibirnya.


Zha mendongakkan kepala, ia menatap bibir om edo dan tampak menginginkannya. “No,” ucap om edo ketika jemari zha merayap menuju wajahnya. Zha tampak kecewa.


Akan tetapi, om edo kemudian melihat disekitar mereka. Membungkam mulut zha dengan telapak tangan besarnya, kemudian mengecupnya dari luar. Meski tak terasa, tapi zha bahagia menerimanya. Dari mata itu om edo dapat merasakan senyum zha yang bergitu indah merekah dari bibirnya.


Acara benar-benar dimulai, Om yan sudah amat siap berdiri di altar menunggu sang calon istri tercinta untuk datang menghampirinya. Ia menatap zha dan om edo yang berdiri, begitu berterimakasih dengan kebesaran hati mereka yang mau berkorban untuknya. Ia akan membalas semua jasa itu lagi, mempersatukan mereka bagaimanapun caranya.


Hingga akhirnya wika turun. Semua yang hadir disana langsung berdiri untuk menyambutnya. Tak banyak, hanya beberapa pegawai di kantor sebagai saksi atas pernikahan keduanya. Dan bahkan yang lain tak diminta datang karena nantinya akan ada pesta kedua yang disinyalir lebih mewah dari ini semua.


Wika berjalan dengan buket bunganya yang indah, langkahnya tegap dan pasti semakin mendekat hingga tiba dihapan om edo dan langsung menggandeng tangannya membawa wika pada om yan yang telah menunggunya disana.


“Ku serahkan dia padamu,” ucap om edo, yang kemudian mengecup tangan rika kemudian pergi darinya. Ia Kembali pada zha dan saat itu langsung menggenggam tangannya.


Acara demi acara berlangsung, janji suci juga telah mereka ucapkan bersama hingga pendeta mengesahkan pernikahan mereka berdua. Sorak sorai mewarnai pernikahan itu, dan kelopak bunga mawar mengiringi perjalanan mereka berdua. Wika dan om yan berciumaan dihadapan mereka semua, seketika itu om edo segera menutup mata zha dengan telapak tangan besarnya.


“Iiih, apaan sihh? Zha pengen lihat. Romantis tauk!!” kesal zha yang berusaha melepaskan tangan yang bahkan memenuhi seluruh wajahnya. Tapi sayang, ketika terlepas adegan mesra itu juga telah selesai, hingga kesalnya zha melayangkan tinju didada om edonya dengan cukup kuat.


“Aakkhh!! Haiissh, kau ini. Seperti aku tak pernah memberikannya saja,” geram om edo padanya.


Zha tak menjawab lagi, ia hanya hanya memfokuskan dirinya pada pesta yang ada disana. Bunga-bunga berterbangan, begitu indah dimatanya. Ia juga ingin seperti itu, ia ingin banyak bunga ketika pernikahannya nanti.


“Aku akan memberinya lebih dari ini,” bisik om edo yang memeluk tubuhnya dari belakang, berbisik dengan lembut ditelinganya.


Zha tersenyum, hatinya kegirangan mendengar semua itu apalagi dengan moment yang memang begitu romantis untuknya. Rasanya ia ingin menjerit, berjingkrak mengelilingi halaman itu meluapkan segala rasa bahagia yang ada hingga semua orang tahu betapa bahagia gadis itu saat ini. Ia tak perlu menunggu lama lagi, ia tak perlu menanti kepastian lagi untuk sebuah pernikahan indah yang pernah ia impikan sewaktu kecil.


Hingga akhirnya pelukan itu lepas, mereka harus menyapa tamu yang ada disana meski tak seberapa, apalagi zha yang saat itu juga menjadi pusat perhatian mereka. Ya, siapa yang tak bertanya akan gadis yang bahkan dipeluk mesra oleh bos besar mereka, bahkan hanya tatapan yang diberikan saja bergitu tergambar penuh dengan cinta.


Zha menyapa semua dengan ramah, mempersilahkan mereka menikmati semua jamuan yang ada disana. Ia menjadi tuan rumah saat itu yang biasanya adalah tugas wika. Untungnya zha mengerti apa yang harus dilakukan itu, hingga ia melihat seorang Wanita yang justru tampak kebingungan didepan pintu masuk seakan mencari sesuatu.


“Permisi, Nyonya, para tamu tengah menikmati semua hidangan. Apakah anda_”


“Maaf, saya bukan tamu disini.” Wanita itu membalik badan, lalu membuka kaca mata hitam mewahnya ketika melihat zha ada didepan matanya saat ini. Tersenyum, seperti begitu bahagia dapat menemukan zha pada akhirnya.


Namun yang terjadi pada zha berbeda. Ia justru diam, tegang dan tampak mengepalkan tangan ketika melihatnya.