
"Mam, dimana?" panggil om edo sepulang dari kerja. Ia pulang malam kali ini karena ada lembur di kantornya.
Zha kemudian keluar, dan ia telah mengenakan gaun malam indahnya saat itu. Membuat mata om edo membulat seketika dengan mulutnya yang ternganga. Zha selalu saja bisa menggoda dan membuat sesuatu berkedut dibawah sana dan begitu sulit untuk dikendalikan..
"Ini masih sore,"
"Lantas?" tanya zha yang membantunya membuka jas dan kemeja yang ia pakai. Lalu mencarikan handuk untuknya agar mandi dengan segera.
"Kenapa sudah pakai ini? Haish," racau om edo, sembari mengintip belahan dada zha yang terbuka memperlihatkan si kembar indahnya.
"Ini juga ngga terlalu terbuka, Papi. Fikiran papi aja yang itu,"
"Apa?" potong om edo dengan tatapan tajam dan senyum miringnya. "Katakan saja jika kau memang sengaja menggodaku, kan?"
Om edo mendekat hingga keduanya tanpa jarak. Jemari besar itu membelai wajah zha dan sesekali menyingkirkan anak rambut yang mengganggu pandangannya saat ini.
Zha hanya menggigit bibir, ia masih saja tersipu malu dengan perlakuan suaminya yang manis itu. Umum, tapi begitu manis bagi zha yang selalu merasa berbunga-bunga.
"Zha ingin yang seperti Zayan. Atau, seperti Vanya." Zha berjinjit dan berbisik pada sang suami akan keinginannya saat ini.
Ya, sudah setahun lebih berlalu sejak keguguran menimpanya dan ia belum dinyatakan hamil juga.
Zayan adalah putra Wika dan Om yan, berusia setahun dua bulan saat ini dan tengah aktif-aktifnya. Sedangkan Vanya adalah anak Van dan Lidya yang baru lahir beberapa minggu lalu dan Zha membantu mengurus baby V saat sang ibu masih dalam keadaan lemah.
"Kau benar-benar ingin?" tanya om edo, yang bahkan kasihan ketika zha harus suntik vitamin setiap bulan demi mencapai keinginannya saat ini.
"Iya, mau. Ayo buat," rengek zha. Bahkan tangannya langsung menelusup ke kaos oblong yang baru saja om edo pakai dan menggelitiknya dengan gemas. Seperti balas dendam dan melakukan apa yang sering om edo lakukan padanya ketika memulai permainan.
"Aaarrghh!" Om edo mengeraang, memejamkan mata dengan serangan brutal istrinya. Padahal itu belum apa-apa. Hanya sesekali zha menghisap benda kecil yang ada didadanya.
Zha tersenyum nakal, sepertinya amat puas dengan ekspresi sang suami hanya karna perbuatannya.
Om edo yang gemas langas meraih paha zha agar naik ke gendongannya. Ia berjalan membawa tubuh yang masih bertahan mungil itu naik ke ranjang tanpa melepaskan panguutan intens keduanya.
Tubuh zha terasa semakin panas, bahkan entah sejak kapan blezer tipis yang ia pakai lepas dari tubuhnya. Bahkan lengan gaun indah itu juga sudah melorot dan tak karuan lagi bentuknya.
Kali ini om edo membiarkan zha yang lebih banyak bergerak mengekspresikan cintanya. Zha mengecupi wajah maskulin pri yang matang itu, terus turun hingga mengecapi jakunnya yang menonjol disana.
Tapi zha tak meninggalkan tanda, hanya begitu gemas memainkan lidah hingga terasa basah. Lalu mendorong tubuh suaminya berbaring diatas ranjang besar yang sudah menjadi saksi bagaimana ganas keduanya.
Sebelum berbaring zha meloloskan kaos oblong crem itu dari tubuh om edo hingga bibirnya semakin bebas menjelajah seakan tak meloloskan satu centipun dari lidah lincahnya.
Bisa dibayangkan betapa frustasi om edo saat ini dengan tingkah liar sang istri yang semakin menjadi.
"Aaaaahhh...." pekik panjang zha ketika sang anaconda mulai menembus sarangnya.
Zha terlalu lemah dengan posisi itu, apalagi ketika om edo menekuk kaki mempedalam hujamannya. Tubuh zha melenting mendongakan kepala hingga akses ke dada indahnya semakin terbuka. Om edo pasti amat tahu apa yang harus dilakukan saat itu.
Zha bergerak perlahan, ia memekik dan merintih menyesuaikan diri dengan benda besar yang tengah memenuhinya saat ini. Kadang om edo merasa kasihan, tapi kadang ia juga membiarkan agar zha semakin terbiasa dengan miliknya yang luar biasa.
Skip....
Wajar, karena mereka tak mungkin hanya sebentar ketika tengah asyik dalam lingkaran gelora panas mereka dikamar. Makin tua makin matang, sangat pantas disematkan untuk suami zhavira itu.
"Besok mami mau temenin Vanya imunisasi pertama, boleh ya? Sekalian mau suntik vitamin lagi," tanya zha.
"Sudahlah, tak perlu melakukan itu jika kau tersiksa. Aku tak tega melihatnya,"
"Papi, ngga papa kok. Lagian bisa bikin badan jadi seger, iya kan?" Zha terus mencari sisi positif dari semua yang ia rasakan. Padahal semua orang tahu jika zha sempat merasakan efek samping terparah dari suntik hormon kesuburan itu.
Om edo sampai ikut menangis melihatnya merintih kesakitan ketika pertama mendapatkan suntikannya. Tapi apa daya, ia tak mungkin mematahkan semangat zha saat ini.
Hingga esoknya tiba. Zha saat itu menemani lidya imunisasi baby vanya dengan dokter langganannya. Bahkan zha membantu menenangkan baby vanya agar tak menangis lagi usai imunisasi.
Kenapa zha? Karena van tengah ada diluar kota untuk segala urusan kerjanya.
"Katanya mau periksa? Udah telat kan?" tanya lidya pada adik iparnya itu.
"Iya, tapi atut."
"Ih, kenapa? Kan udah telat, jadi tinggal tes aja. Malah segala atut. Ndang toh, biar vanya ada temennya."
"Nanti kalo anu, gimana?"
"Anu apa? Ayo, aku anter. Ribet ih, katanya pengen hamil malah kebanyakan takutnya." Akhirnya kemampuan lidya mengomeli zha muncul lagi. Tapi memang, siapa yang tak gemas memiliki sahabat seperti zha saat ini.
Tak bisa dibayangkan jika zha akan memiliki baby.
Usai dari pemeriksaan, zha mengantar vanya dan mamanya. Ia lantas pulang dari sana, tapi menuju kantor om edo karena ingin bertemu dengan suaminya.
"Tuan sedang rapat. Nyonya bisa menunggu sebentar," sang sekretaris langsung menyambutnya saat itu.
Zha menurut, ia duduk di sofa itu sebentar. Tapi seakan tak sabar, ia menaruh sesuatu yang ia ambil dari tas diatas meja. Ia menaruhnya dengan rapi agar tampak estetik ketika ia mengambil foto saat itu.
Cekrek... Cekrek! Bahkan sebuah foto ketika zha memegangnya dengan senyum yang begitu bahagia. Dan ia langsung mengirim foto itu pada suaminya yang masih ada diruang rapat saat ini.
Ting! Sebuah pesan masuk di hp om edo saat itu. Ia awalnya tak ingin membuka, tapi penasaran karena itu dari istrinya.
Om edo saat itu langsung terlonjak membulatkan mata, bahkan nyaris jatuh dari kursi hingga semua orang justru cemas padanya.
Tapi ia tak apa. Ia justru beberapa kali melengkungkan senyumya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, tapi itu nyata karena zha yang mengirimnya.
Serasa ingin berteriak dan berjingkrak sekuat tenaga dihadapan merek semua, tapi om edo memilih keluar untuk menghampiri sang istri yang ada di ruang kerjanya saat ini.
Braak! Om edo sampai membuka pintu ruangan itu dengan kasar sangking tak sabarnya. Ia tersenyum, melihat zha merentangkan tangan menyambut om edo dalam pelukannya.
"Kau serius?"
"Serius... Bener kan, garisnya dua? Padahal baru dibuat semalem," goda zha, mengundang tawa suaminya yang bahkan tak mampu berkata apa-apa hingga berderai air mata.
"Terimakasih," ucap om edo dengan segala rasa cinta untuk zha, yang bahkan sudah tak lagi bisa ia gambarkan dan uraikan dengan kata-kata.