
Acara lamaran dan pertunangan itu selesai. Para tamu dan saksi yang ada pamit untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, sementara zha dan om edo masih disana menemani ayah sam dan papa Lukman berdiskusi menentukan hari pernikahan kedua putrinya. Mereka berdua saat ini seperti menganggap om edo dan zha sebagai keluarga inti mereka.
“Zha kenapa?” tanya van yang melihat keanehan pada adiknya itu. Mereka tengah duduk berdua sementara lidya tengah membereskan bekas riasannya.
“Zha aneh daritadi sama om suami.”
“Apanya yang aneh, semua terlihat biasa saja bagiku pada kalian berdua.” Van dengan begitu santai menjawabnya.
“Aneh, mendadak perhatian banget. Zha jadi curiga,” tatapnya tajam tertuju pada suaminya disana. Om edo bersikap wajar disana dengan serius dan tatapan seperti biasa yang selalu bisa melelehkan hatinya. Tapi kali ini, rasa aneh lebih kental dari pada debaran hati itu sendiri.
“Memang menjadi pria itu akan selalu serba salah, apalagi ketika Sudah menjadi seorang suami. Perhatian salah, cuek salah. Peka dicurigai, ngga peka kena omel lagi.”
“Curhat?” toleh zha padanya. Apalagi ucapan van yang benar-benar terdengar berasal dari lubuk hatinya terdalam.
“Hey, ayolah… Sesekali kita bicara berdua seperti ini. Taka da salahnya, bukan?” Apalagi ketika lidya tak ada, maka van butuh sesekali meluapkan perasaan yang sedikit menekan hatinya. Bukan karena tak sayang, tapi ia masih berusaha mendalami karakter gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Van sadar, jika selama ini lidya yang lebih paham dia dibanding van sendiri untuk lidya. Maka dari itu, van akan berusaha belajar untuk peka dan memahami bagaimana sikap para wanita yang ada didekatnya. Tapi tidak termasuk mama ana.
Pernikahan mereka berdua disepekati akan digelar pertengahan tahun ini. yang artinya akan diselenggarakan hanya dalam beberapa bulan lagi. Tapi dengan perjanjian, jika lidya belum boleh hamil selama beberapa tahun demi pprofesi yang akan ia jalani nanti. Bahkan untuk menikah saja, harus dengan izin khusus karena lidya baru akan mendapat kontraknya. Itu saja jarang didapatkan jika bukan karena om edo dan calon ayah mertua yang mengurus semuanya.
Ya, lagi-lagi om edo dna zha yang berjasa dlaam keluarga mereka.
**
“Sayang kenapa?” tanya zha saat perjalanan mereka pulang ke rumah. Ia masih terheran heran dengan tingkah suami yang sedikit tampak aneh dan berlebihan baginya sejak tadi.
“Kenapa apanya? Ada yang salah?”
“Mccckk!!” Zha justru tampak kesal dan melipat tangan di dadanya. Bibir ia manyunkan dan terus menatap fokus kedepan dengan perasaan penuh curiga, dan dengan beban fikiran yang mulai aneh merejalela dihatinya.
Bahkan hingga mereka tiba dirumah, om edo bahkan melarang zha membuka pintu mobil karena ia yang akan melakukannya saat itu. Om edo langsung keluar, dan setekah itu ia menggendong tubuh mungil zha masuk hingga kedalam kamar mereka. Zha cengo, ia hanya bisa bengong melihat tingkah aneh itu saat ini. Zha bahkan berfikir keras, ada moment special apa hari ini hingga om edo seperti itu.
Dan kini hari mulai malam, mereka makan malam bersama berdua dengan makanan yang begitu nikmat dimasak oleh bibik untuk sang nyonya muda. Entah memang bibik ikut merasakan, atau om edo yang memesan itu semua untuk istrinya.
“Mau nambah lagi?” tanya om edo yang bahkan mengambilkan nasi dan lauk tambahan untuk sang istri. Zha yang mulai terbiasa hanya tertawa melihatnya.
“Sayang, jangan kebanyakan, nanti zha gendut gimana?”
“Tak apa, itu akan membuatmu jadi lebih menggemaskan.”
“Ya, tapi ngga gini juga.” Zha lantas menyendok nasi itu kembali dan memberikan Sebagian untuk sang suami.
“Hey!”
“Biar sama-sama dadutnya nanti,” jawab zha menjulurkan lidahnya. Om edo hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya, ia nyaris tak percaya jika baby bearnya itu sebentar lagi akan memiliki baby. Baby akan punya baby? Pasti akan sangat lucu sekali.
Om edo pamit sejenak menuju ruang kerjanya. Saat itu ia sempai berfikir, jika tak mungkin melakukan penerbangan dengan jarak jauh jika zha benar-benar tengah mengandung saat ini. Tapi bagaimana karena ia Sudah terlanjur berjanji pada sang istri.
“Aku harus membawa zha untuk memeriksakan dirinya setelah ini. Dan apakah dia tak merasakan tanda-tanda ditubuhnya?” Bahkan om edo mengingat kapan terakhir zha datang bulan. “Baru beberpa minggu lalu,”
Om edo yang justru tak tenang saat ini. Ia galau dan begitu risau, sedangkan zha tertangkap sudah tidur lelap di kamar mereka usai makan malam tadi. Om edo hanya tak ingin terlalu berharap dan membuat zha kecewa untuk yang kesekian kalinya denga napa yang ia duga. Ia paham jika zha menginginkan bayi itu demi membahagiakan dirinya, dan ia sendiri begitu ingin menjadi seorang ayah di usianya yang memang sudah terbilang sangat matang saat ini.
Bahkan terkadang om edo takut sendiri, jika tertundanya kehamilan zha itu karena dirinya. Entah, mungkin itu hanya ketakutannya semata. Padahal dokter sudah menyatakan jika keduanya sehat dan baik-baik saja.
“Sayaaaang,” panggil manja zha yang bangun dari tidur dan menyusul ke ruang kerjanya. Matanya masih tampak mengantuk, ia berjalan lunglai menuju om edo dikursi kemudian duduk tepat diatasnya saat itu.
Zha melebarkan kedua kakinya, Ia memeluk om edo berhadapan dengan wajah ia tenggelamkan tepat ada diceruk leher sang suami dan menghirup aroma maskulinnya dengan begitu dalam.
“Seger,” lirihnya yang kemudian terus bersandar disana. Bahkan om edo hanya membiarkan dan justru mengusap punggung zha agar kembali tidur nyaman diatas pangkuannya. Om edo sama sekali tak beranjak dari sana untuk segera memindahkan tubuh zha hingga semua pekerjaan yang ia lakuakn itu selesai tepat pada waktunya.