I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Berusaha menepis kenyataan



“Ngapain senyum-senyum sendiri, lagi bales Wa sama siapa?” tanya van yang datang ke kamar adiknya.


“Mau tau aja, atau mau tau banget? Yang jelas sama orang yang bisa buat zha bahagia.” Zha kemudian membenarkan posisi duduk dan menyimpan hpnya dibawah bantal. Tindakan itu membuat van sedikit curiga, tapi ia memilih untuk tak mengatakannya.


Zha meraih jus yang ada ditangan vian kemudian meminumnya dengan begitu dahaga. Ia haus, tapi begitu malas untuk keluar karena mama ana ada dirumah saat ini. Mama ana beberapa hari ini terus memaksanya ikut keluar, dan nantinya akan ia perkenalkan dengan seorang pria yang katanya akan dijodohkan dengan zha.


Pernah mama ana menjebaknya dan mengajak keluar dengan alasan mengunjungi makam ayah seto, namun rupanya mengajak zha ke café dan bertemu dengan seorang pemuda berkaca mata yang akan menjadi calon jodoh zha. Dan itu entah sudah yang keberapa dan zha terus saja menolak semuanya.


“Kamu masih suka dijodohin sama mama?” tanya van. Rupanya ia tahu, dan mama selalu mencari kesempatan membawa zha pergi ketika van tengah sibuk diluar sana. Zha hanya melirik van lalu menganggukkan kepala menjawab semua pertanyaan darinya.


“Kenapa kamu menolak mereka?” imbuh van. Ia juga tahu jika yang dijodohkan oleh mama ana itu bukanlah pria sembarangan, masih muda dan rata-rata adalah pewaris sebuah perusahaan besar.


“Perlu zha jawab? Nih, makasih jusnya.” Zha tersenyum sembari memberikan gelas yang telah tandas di tangan van, ia tersenyum membersihkan sisa jus yang ada dibibirnya saat itu dengan lengan dari kaos oblong yang ia pakai.


“Pakai tisu, Zha,” ucap van yang kemudian akan membersihkan itu semua, namun zha langsung memundurkan kepala untuk menghindarinya. “Kenapa?” fikir van, padahal kala itu zha seperti sangat terbiasa ketika om edo yang mengusap bibir dan membersihkannya dari makanan ketika mereka makan siang bersama.


“Sorry refleks, ngga terbiasa soalnya. Seperti ngga biasa kalau bukan dengan yang punya,” jawab zha, yang kemudian meraih tisu itu sendiri dari tangan van.


Kata Yang Punya itu sedikit zha tekan, hingga membuat van mengerenyitkan dahinya mencerna setap ucapan yang keluar dari mulut zhavira. Ia terkadang mulai mengerti, tapi ia tak bisa untuk menerima semua apa yang ia fikirkan dan berusaha membuang prasangka itu jauh-jauh. Ia tak akan bisa menerima zha denga nisi fikirannya saat ini.


“Menurut kakak, gimana kalau zha dijodohin sama orang yang ngga zha cinta?”


“Cinta? Aku bahkan masih menambatkan cinta pada seseorang yang bahkan tak menganggapku didepan matanya.” Zha justru tertawa dengan ucapan van padanya, padahal saat itu ia tengah bertanya dan meminta pendapat pada seorang pria yang harusnya berperan sebagai kakak yang baik.


Pembicaraan mereka terhenti ketika sebuah panggilan masuk dari hp zha. Saat itu van begitu penasaran dengan siapa yang memanggil, karena zha langsung tersenyum lebar ketika menggeser layar hpnya. Zha menyadari itu, dan justru meloundspeaker panggilan agar van ikut mendengarnya.


“Lidya?” panggil ramah zha pada gadis yang kini jadi sahabat dekatnya.


“Zha lagi apa? Temenin aku yuk?” ajak lidya.


“Kemana? Kebetulan lagi gabut. Eh iya, ada kak van nih, disini.” Zha menggoda lidya yang pasti langsung gugup disana, sementara van hanya memberi tatapan datar pada adiknya.


Semua ajakan lidya segera didengar oleh van, bahwa lidya mengajak zha mencari sesuatu ke mall untuk hadiah ulang tahun mamanya besok. Zha melirik van dan meminta izin padanya, bahkan lidya juga meminta izin van untuk menjemput zha sebentar lagi kerumahnya.


“Ya, pergilah. Urusan mama biar aku yang tangani nanti,” jawab van yang membuat mereka berdua bernapas lega.


Zha segera memtikan hpnya, dan meminta van keluar agar ia bisa merapikan diri.


“Atau… Mau ikut? Ayuk ikut, biar_”


“Apaan sih zha?” tanya datar van menonyor kepala adiknya bahkan hingga mundur kebelakang. Ia tahu apa maksud zha ketika mengajaknya, yang pasti akan mencoba mendekatkannya dia dengan lidya. Van kemudian memilih segera keluar karena tak ingin terlibat pembahasan lebih panjang dengannya.


“Bahkan aku tak bisa melirik siapapun ketika kau ada didekatku, zha.” Van membatin sembari menarik napasnya panjang saat menuruni tangga.


Semua pakaian zha sudah diganti dengan gaun oleh mama hingga zha harus menyesuaikan diri dengan apa yang ada. Untung saja om edo tak terlalu banyak protes melihatnya karena ia juga menyukai perubahan zha yang menjadi semakin feminism baginya, dan bahkan memberi panggilan baru untuk zha dengan yang lebih manis dari biasanya.


Suara mobil datang, mama ana yang mendengarnya langsung melihat karena ia tahu jika lidya yang datang kali ini. ya, sudah beberapa kali lidya datang dan mengajak zha bermain bersama selama zha ada disana.


“Tante, Zha ada?” tanya lidya yang turun dari mobil dan langsung mencium tangan mama ana.


“Ada!” sahut zha yang berlari turun dari tangga. Ia segera menghampiri lidya yang telah menunggunya.


“Zha mau kemana?”


“Kan lidya udah jelasin, kenapa tanya lagi? Zha juga udah izin sama kak van tadi, zha pergi.” Gadis itu meraih tangan mama ana dan menciumnya, karena meski tak ingin, mama ana adalah ibu kandungnya sendiri.


Perjalanan zha dan lidya dimulai, mereka berdua menuju mall seperti apa yang lidya pamitkan pada van. Ia tak bohong jika akan mencari kado ulang tahun pernikahan mamanya, yang saat itu juga sekaligus kado ulang tahun pernikahan mama papa lidya ke 25tahun. Mereka akan merayakannya beberapa hari lagi.


“Cari kado apa?” tanya zha, yang memang buta dengan sebuah kejutan dalam hidupnya. Bahkan ulang tahun saja ia tak pernah pesta, hanya diberi kue oleh ayah dan mereka tiup bersama dengan lilin kecil yang dinyalakan diatasnya.


“Aku nabung, mau kasih hadiah perhiasan sama mama,” jawab lidya yang tak lepas menggandeng tangan zha masuk ke dalam mall besar itu. Ia mengajak zha untuk masuk ke sebuah toko perhiasan besar dan terlengkap disana, dan memilih beberapa yang cocok untuk hadiah mamanya.


Zha menunggu dengan diam sementara lidya memilih semuanya, tak segan sesekali lidya bertanya dan meminta zha menilai semuanya.


“Mana aku tahu tentang perhiasan loh, aku aja ngga punya.” Jawab zha padanya. Tapi saat itu zha tengah fokus menatap sebuah cincin dengan hiasan permata yang begitu indah terpajang disana, dan ia seperti menginginkkannya.


“Cantik,” gumam zha, hingga ia terlonjak ketika sebuah telapak tangan besar menutup matanya. Tapi bukan zha jika tak bisa dengan cepat mengetahui siapa yang menghampirinya.


“Om edo?” kaget zha menyebut nama dan melepas tangan itu darinya. Ia membalik tubuh, menatap pria itu dan langsung begitu ingin memeluknya andai tak ditempat ramai sekarang.


“Kau selalu paham dengan ku, Nduk. Kau ingin itu?” tanya om edo, menunjuk cincin yang zha lihat sejak tadi.