
Zha segera menegakkan tubuhnya lalu duduk bersimpuh tepat disebelah om beku yang membenarkan posisi kakinya saat itu. Ia menggigit bibir dan menatap om edo dengan tajam seperti orang yang tengah kesal. "Kenapa? Kau memikirkan apa?" tanya om edo yang memakai kembali jasnya.
"Ngga papa, kaget aja tadi."
"Salahmu seperti itu, seperti Wanita yang tengah menggoda pasangannya."
"Mccckkk!!" Zha mencebik, kemudian segera berdiri meraih tas yang ada dilantai dalam rumah itu. Ia tahu, ketika om beku mulai memakai jas maka mereka akan segera pamit dari sana.
Pak arman yang melihat mereka juga segera berdiri, ia beranjak menuju dapur dan tak lama kemudian keluar lagi membawa setengah karung besar karung dan beberapa hasil panen lain. "Aku kemari untuk berkunjung, bukan untuk mengemis," ucap om edo dengan semua yang akan diberikan padanya.
"Untung apa aku memberi pengemis yang puluhan kali lebih kaya dariku? Saudaraku banyak, biarkan semuanya." Pak arman membawa semua itu berjalan menuju mobil mewah yang cukup jauh dari rumahnya. Saat itu om edo mengikuti, tapi ia tak membantu sahabatnya sama sekali dengan bawaan itu.
"Ish, memang dasar tak peka. Anak buahnya kerepotan, dia malah diam saja," cibir em yang berjalan disebelahnya.. Om edo hanya mendiamkannya, ia melirik hp yang ada ditangan dan membuka beberapa pesan yang masuk disana. Meski persawahan, tapi internet dan jaringan disana bagus hingga tak membuat om edo harus menunda pekerjaannya.
Krook ... kroook! Zha langsung terdiam ketika mendengar suara itu ditelinganya. Tubuhnya mematung, dan ia menelan saliva berusaha menoleh dan mencari sumber suara dari yang ia dengar barusan.
Om edo yang berjalan cukup jauh itu segera menoleh ketika sadar bahwa zha tak ada didekatnya, "Apa?" tanya Om edo yang menaruh hpnya kembali ke dalam saku.
"Itu," tunjuk zha ke arah atas, karena masih belum menemukan sumber suara yang makin terdengar jelas direlinganya. Om edo saat itu spontan ikut mencari, meski yang ia dengar begitu samar ditelinganya. Bahkan om edo menyibak tanaman padi yang ada didepan matanya saat itu.
Krookkk!! Seekor kodok langsung meloncat pada zha. "Om_" wajah zha memucat seketika.
"Kau mau itu?"
"Huaaa!!! Kodok!!" Zha sekejap meloncat ke dalam gendongan om edo. Tangannya mengalung du leher pria itu dan kakinya melingkar di pinggangnya. Begitu erat, dan bahkan zha menenggelamkan wajah di leher om edo saat itu.
Untung saja om edo masih bisa menjaga keseimbangan diri ketika zha meloncat tadi hingga ia tak jatuh. Tapi ia ragu untuk menopang tubuh zha hingga membiarkan zha sendiri menggantung pada tubuhnya. "Kau takut?" tanya Om edo dengan wajah bodohnya. Ia kira, tadinya zha suka hingga ia ikut mencari Keara sumber suara yang ada
Zha mengangguk, dekapannya semakin erat dan kuat hingga membuat leher om edonya tercekat. "Bisa kau longgarkan? Aku akan menopang tubuhmu." Om edo memohon dengan suara seraknya saat itu dan zha mengangguk.
Akhirnya zha melonggarkan pelukannya, dan om edo bisa bernapas sedikit lega dengan tangan meraih paha zha untuk menopangnya. Kenapa tak lari sejak awal jika zha takut, dan justru membuat om edo ikut mencarinya. Kadang-kadang memang aneh, ketika harus mencari bukti baru ia bisa berlari.
"Turun, dia sudah pergi."
"Ngga mau... Nanti dia dateng bawa temennya yang lain," geleng zha yang masih dalam gendongan omnya. Hingga akhirnya om edo hanya bisa menarik napas kasar, lalu ia berjalan dengan tetap menggendong zha menuju mobilnya.
"Kenapa?" tanya pak arman pada mereka berdua.
"Iiih, malah diledekin... Namanya juga takut, gimana." Wajah zha memerah seketika mendengar ledekan mereka berdua.
Om edo segera pamit dan bersalamman dengan anak buahs sekaligus sahabatnya itu. Ia masuk dan duduk dikursi setir, hingga akhirnya mengemudi kembali membawa zha pulang kerumahnya.
Sepanjang jalan mereka hanya diam. Zha malu dengan tatapan yang diberikan om edo padanya, merasa seakan tatapan yang diberikan itu hanya untuk meledeknya semata. Mengetahui keadaan itu, om edo menutup mata zha dengan telapak tangannya. Cukup lama seperti itu, hingga ia merasakan zha tak bergerak dan memastikan jika gadisnya telah tidur dengan begitu pulas.
"Kalian dari mana?" tanya wika yang menyambutnya.
"Hanya bermain sebentar. Keluarkan semua yang ada di mobil, itu pemberian dari arman untuk kita semua."
"Arman?" Wika menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rupanya mereka bermain hingga sejauh itu, wajar saja jika sampai dirumah hampir malam seperti ini.
Om edo menurunkan tubuh zha, lalu ia sendiri kembali berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
**
Hari van terasa begitu sepi saat ini. Bahkan ketika ia di tengah semua keramaian, tetap saja rasa sepi terus menggelanyut dihatinya. Rasanya saat ini tak lengkap, tanpa suara zha yang sudah beberapa bulan ini terus terdengar nyaring ditelinga dan menghiasi hari-harinya.
"BAgaimana hasil rapat hari ini, Van?" tanya sang ayah yang kebetulan ada didekatnya. Sangat jarang ketika mereka bisa berkumpul bersama seperti ini, tapi hati van masih saja terasa sangat sepi.
"Semua laporan ada pada Niki, tanya saja padanya." Van menjawab seadanya. Hubungan mereka memang tak terlalu baik sejak mereka semua memaksavan untuk sekolah lagi, padahal ia sudah nyaman dengan dunianya yang bebas tanpa banyak aturan dari orang tuanya.
"Kamu ngga suka libur sekolah, Van?"
"Ya, kemarin kalian selalu memaksaku masuk. Tapi sekarang, kalian selalu memaksaku untuk izin dan ikut megurusi urusan kantor. Mereka akan marah ketika tahu, perusahaan besar kita memiliki Ceo yang bahkan belum lulus SMA." Van menjawab cukup panjang pada ucapan mama ana. Membuat Wanita itu tersenyum menahan tawa, sedangkan membuat sang ayah bertanya-tanya.
"Anak kita sedang sedang semangat untuk sekolahnya," ucap mama ana pada suaminya.
"Tumben, ada apa? Adakah penyemangat disana?" Ayah Sam semakin penasaran pada mereka berdua. Mama ana mengedipkan mata beberapa kali pada sang suami, memberi sebuah kode yang begitu mudah untuk mereka pecahkan bersama hingga Ayah Sam Ber'Oh' ria mendengar semuanya.
Van hanya diam. Ia tak menanggapi cicit mereka berdua sama sekali, bahkan tak menoleh meski Namanya beberapa kali disebut dalam obrolan mereka. Ia seperti kosong, merindukan sesuatu yang membuat hati dan harinya ramai. Tapi, sesekali ia juga terngiang dengan ucapan om edo padanya. Ia masih mencerna dan mencari tahu tentang apa arti yang ia ucapkan tadi siang.
"Dan meski memang benar... Zha masih belum milik siapapun dan aku masih bisa meraihnya."