
Zha berdiri menatap semua pemandangan yang tampak dari kaca ruangan kerja suaminya. Pemandangan disana begitu indah, ia juga sendirian karena papa bear masih melakukan sebuah pertemuan saat ini. Untung saja pertemuan yang dilakukan masih dilakukan di kantor mereka hingga zha tak akan menunggu terlalu lama.
“Tapi laper,” lirih zha mengusap perut ratanya. Serba salah, ia ingin memesan makanan tapi ia sudah berjanji untuk mekan bersama sang suami siang ini diluar.
“Nyonya, apa anda lapar?” tanya Nita yang diutus om edo menghampiri zha. Agaknya pria itu sudah paham jika di jam seperti ini biasanya zha sudah makan siang dan mengistirahatkan diri.
“Lapar sih, tapi_ Rapatnya masih lama kah?”
“Mungkin setengah jam lagi karena ada bahasan tambahan disana. Jika mau, saya akan pesan makanan,”
“Ngga usah, Kak nit. Zha tunggu aja disini, masih bisa tahan kok,” jawabnya. Ia kemudian duduk disofa sembari memainkan hpnya.
Nita mengangguk, ia lantas keluar untuk kembali ketempatnya saat ini, yang jelas semua titah sang tuan sudah ia lakukan dan siap dipanggil kapan saja dibutuhkan. Nita kembali fokus pada pekerjaannya sembari menunggui sang nyonya.
“Kenapa tergesa sekali? Apakah anda serius akan mengambi cuti?” tanya seorang rekan kerja padanya.
“Cuti pun, sepertinya hanya berpindah tempat kerja karena saya akan mengunjungi yan dan wika di tambang. Zha belum pernah kesana,”
“Anda yakin, sudah baik-baik saja?” Sang rekan mengingatkan. Pasalnya, kecelakaan itu terjadi di tambang ketika ayah zha dan om edo tengah melakukan kunjungan kesana. Sebuah Excavator oleng dan nyaris mengenai om edo, namun pria itu langsung di dorong oleh ayah zha hingga justru ia yang terkena.
Jika diingat, memang om edo berhutang nyawa pada mertuanya itu hingga tak dapat ditebus oleh apapun selama hidupnya. Bahkan, jika ia memberikan semua hartanya pada zha sebagai gantinya.
Ya, Om edo sudah meghibahkan 60% harta yang ia miliki untuk sang istri, namun zha sama sekali belum tahu perihal itu. Setidaknya menunggu zha berusia 20tahun dan ia akan mengumumkan semuanya.
“Sangat yakin, ada zha bersamaku.” Dengan begitu antusias om edo menjawabnya, dan mereka melakukan hal yang sama. Mereka memang merasakan jelas perubahan om edo setelah ada zha dalam hidupnya, terutama setelah menjadi istrinya.
Rapat selesai, om edo segera pamit keluar untuk menghampiri sang istri di ruangannya. Ia menatap Nita, tapi sang asisten hanya menggelengkan kepala yang berarti hingga saat ini zha belum makan siang. Om edo segera masuk dan menemuinya.
“Kasihan sekali istriku,” kecup om edo diperut rata zha. Saat itu zha hanya menunduk menatap tingkah aneh sang suami yang bahkan beberapa kali mengusap perutnya.
“Udah selesai?”
“Aku tak akan disini jika belum selesai, bukan? Persiapkan diri, kita akan pergi sekarang juga.” Om edo langsung beranjak dari tubuh zha dan merapikan dirinya. Telapak tangan besar itu ia ulurkan untuk meraih zha lalu berdiri untuk berjalan bersama mencari makan siang keduanya.
Mereka tak perlu berdebat lagi akan kemana mereka pergi. Bahkan sejak saat keluar dari kantor, om edo sudah memesan sebuah tempat di Restaurant langganan zha. Ia sulit mencari yang lain ketika sudah menambatkan hatinya dengan makanan yang ada disana.
Saat itu om edo seakan ingin mengerjai zha. Ia pura-pura mecari sesuatu kebelakang, hingga wajahnya tak segaja mengecup pipi zha dan ketika menunduk wajahnya menyentuh dada zha. Saat itu juga zha tertunduk, menatap sang suami sembari memainkan bibirnya.
“Hey?” panggil zha padanya.
“Apa? Aku hanya ingin_”
“Ingin apa?” Zha menarik tubuh om edo dari sana dan menghadapkan wajah mereka berdua lalu menatap tajam padanya.
“Hey, Sayang, kita sedang di jalan.” Om edo sesekali melirik kedepan agar tak oleng dan terjadi sesuatu pada keduanya.
“Sayang duluan yang mancing zha, ngaku!” cengkramnya kuat diwajah sang suami.
Sensitifitas zha memang luar biasa, jiwa mudanya begitu mudah terlena meski hanya dengan sentuhan kecil darinya. Kadang om edo lah yang kwalahan untuk menuruti segala keinginan zha, meski ia masih bisa mengimbanginya. Jiwa muda memang begitu gila.
Zha meraih kerah jas yang om edo pakai saat itu hingga kemejanya sedikit terbuka. Ia menelengkan kepala untuk mengecupinya, membuat sensasi geli luar biasa menjalar di tubuh suaminya saat itu juga yang bahkan sampai memejamkan mata.
“Hey, Sayang…. Jangan seperti ini, kita sedang ada dijalan.” Om edo merinding, beberpa kali tubuh tampak mengejang dengan tingkah liar zha yang semakin menjadi. Hingga sepertinya makan siang mereka lah yang harus ditunda karena keduanya harus mencari pemberhentian darurat saat ini.