I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Apakah kita kencan?



"Om?" panggil zha yang menerobos masuk kedalam ruang kerja om edonya.


"Hmm..."


"Oooom..." Gadis itu merengek ketika omnya tak merespon seperti apa yang ia mau. Zha bahkan menutup layar laptop om edo dengan telapak tangan kecilnya, yang cukup bisa mengganggu om edo dengan pekerjaannya saat ini.


"Zha!" panggilnya cukup kuat hingga membuat gadis itu tersentak dan diam mengatupkan bibirnya. "Ada apa?" sambung om edo, menghela napas dan menyabarkan dirinya sendiri.


"Zha ada tabungan. Bolehkah, zha minta tambah buat beli motor? Seken aja ngga papa,"


" Tidak..." jawab tegas om edo padanya. Zha memang langsung bungkam, tapi bukan zha Namanya jika menyerah dengan sekali gertakan. Itu hanya sebuah tantangan, yang membuatnya akan semakin maju meski hambatan


"Oom, ayolah. Zha minta ngga berlebihan. Zha butuh motor, supaya kemana-mana gampang dan ngga ngerepotin lagi." Zha mengeluarkan rengekan manjanya. "Lagian, Zha sebentar lagi ujian. Zha harus cari bahan ke toko buku, cari materi dan_"


"Bermain bersama teman barumu?" Om edo benar-benar tahu isi fikiran zha saat ini. Dan itu di dukung dengan anggukan zha padanya, membenarnya semua tebakan yang ia utarakan.


"Ada Om jek yang siap mengantarmu kemana saja, Zha. Dijala sendirian berbahaya, kau juga belum punya SIM."


Zhavira tertunduk lesu. Ia yang tadinya semangat memeluk celengan ayamnya, langsung memutar tubuh dan melenggang pergi dari hadapan om yang masih fokus pada pekerjaannya. Zha tak melakukan perlawanan dan rengekan lagi, dan om edo beralih dari laptop lalu menatapnya pergi dari ruangan tenang itu. Hingga zha membuka pintu, lalu menutupnya kembali dengan kasar.


Om edo berusaha kembali memfokuskan pandangan pada laptopnya. Namun, fokusnya seakaan hilang pada wajah nelangsa zha yang kemudian terus membayang dikepalanya. Ia menautkan kedua tangan, lalu menumpukan dagu disana dengan hembusan napas beratnya. "Haruskan ku turuti maunya? Tapi ku akui ia memang mmmebutuhkannya saat ini. Jek dan wika juga sibuk dengan urusan masing-masing." Om edo bergumam sendirian tanpa teman, bahkan ia seperti butuh untuk bertanya pada om yan.


"Kenapa?"


"Zha minta motor," jawab om edo ketika sahabatnya bertanya.


"Lalu? Kalau kau mampu, belikan saja. Apa salahnya,"


"Yan_..." tegur Om edo ketika sahabatnya justru mendukung zha saat ini.


Sebenarnya mudah jika hanya memberlikan sebuah motor untuk zha. Tapi ini bukan perkara uang, melainkan pada keselamatan zha dijalanan. Om edo yang masih terbayang-bayang akan kecelakaan itu, seketika mencemaskan bagaimana jika zha mengalami hal yang sama di jalan nanti. Penyesalan terhadap ayahnya saja belum sembuh, bagaimana jika zha mengalami hal yang sama.


"Do, semua hal itu tak akan bisa kita prediksi kapan datangnya. Meski kita kurung zha dirumah tanpa bisa kemana-mana, jika takdir zha begitu maka kita harus bilang apa. Kita sudah menjaga dan melundungi dia semaksimal mungkin saat ini,"


Om yan berusaha meredam keraguan sahabatnya. Ia memaklumi, jika rasa cemas memang selalu menghantui dalam fikiran sahabatnya itu


"Baiklah... Sore ini aku akan pulang, dan aku akan membantumu bicara pada zha. Bagaimana?"


"Well, sepertinya dia memang lebih mendengarkanmu daripada aku."


"Sama, hanya saja jika denganmu harus melalui sebuah perdebatan." Tawa menggelegar om yang terdengar ditelinga. Ia seperti amat sangat behagia ketika meledek kebiasaan sahabat dan keponakannya itu. Bahkan kadang ia sengaja tak melerai ketika mereka tengah memperdebatkan sesuatu yang tak penting didepan matanya.


Memang hari minggu seperti ini terasa membosankan bagi zha yang tak bisa kemana-mana.ia ingin keluar dan berlibur seperti teman sebaayanya, setidaknya meski hanya ke mall dan bermain. Ia tak meminta lebih dari itu karena sadar kesibukan omnya. Zha hanya bisa diam, melamun didalam kemar sembari memeluk bear besar kesayangan dengan posisi terbalik kepala diujung ranjang besarnya.


"Zha kenapa?" tanya wika yang masuk ke kamarnya. Ia sangat sibuk dihari minggu, mengurusi semua keperluan rumah tangga yang menjadi kewajibannya disana. Bahkan para Art yang ada, semua bekerja atas perintahnya dan menerima gaji semua dari tangan wika.


"Ngga belajar?"


"Belajar mulu, stress ntar." Gerutunya. Hal itu membuat wika menggelengkan kepala melihat tingkah zha, seperti orang tengah frustasi.


Hingga sebuah telepon membangunkan zha, dan ia segera meraih hp untuk mengangkatnya, "Kak Van?" sapa zha dengan wajah yang bahagia.


"Kau sedang apa?" Pertanyaan dengan suara yang amat lembut dari van saat itu cukup membuat hati zha berdebar dengan kuat.


Zha seakan melupakan kebosanan yang sejak tadi menghantui, dan semangat seketika ketika mendapat teman ngobrol yang sefrekuensi. Wika sampai tak diperdulikan lagi, bekerja sendiri menyusuni semua pakaian bersih zha didalam lemari. Bahkan hingga zha tak sadar, sudah hampir satu jam ia mengobrol seperti itu dengan van di hpnya.


"Telinga zha ngga panas?" tanya wika yang Sudah tiga kali bolak balik ke kamar zha.


"Iya, bentar kak wika..." jawab zha padanya, yang kemudian ia pamit pada van untuk mengakhiri obrolan mereka.


Usai zha mematikan obrolan, wika segera memberikan handuk untuk zha. Ia tak banyak berkata, dan hanya memberi kode untuk zha menatap jendela kamarnya, "Astaga, sudah gelap," kaget zha yang kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Hari ini Om yan pulang loh," ucap wika dari tempatnya.


"Iya, bentar lagi zha turun." Jawabnya. Dan memang benar, tak perlu lama untuk zha menyusul wika turun kebawah sana. Ia segera duduk manis menunggu Om yan nya pulang, dan bahkan ia akan membujuk om yan mengenai motor yang ingin ia beli saat ini.


Om edo menyusul turun. Ia telah rapi dengan kemeja navy dan celana bahan hitam yang ia pakai, tak lupa dengan acesoris jam tangan mewah ditangannya.


"Kemana om, cari cewek?"


"Hmmm?" tatap om edo penuh tanya.


"Iya, cari cewek ngga papa biar ngga sensi mulu ama zha." Gadis itu tak menoleh sama sekali, bahkan ketika om edo memanggilnya beberapa kali.


"Kau kesal perkara motor itu?"


"Engga, zha ngga kesel. Pergi aja ngga papa, memang takdir zha terkurung dalam rumah sendirian dengan suasanya yang begitu sepi dan menyesak dihati.


"Jika kau mau ikut bersiaplah, kita akan pergi bersama meski_..."


Ucapan om edo terpotong. Zha seketika menghilang dari pandangan matanya dalam hitungan detik seperti Naruto yang menggunakan hiraishin no jutsunya. Dan tak perlu waktu lama juga, zha telah kembali turun dengan dandanan yang sedikit rapi dan mengenakan tas selempang dibahunya. Ia menghampiri om edo dan segera menggandeng tangannya dengan mesra.


"Tak jadi memintaku mencari pacar? Apakah kita kencan?"


"Ih, Om.... Kan tadi ngajak, gimana sih?" kesal zha padanya.


Dan entah kenapa, saat itu om edo tanpa sengaja melengkungkan senyum manisnya pada zha. Manis sekali, hingga zha sepontan menggambar ulang dengan jari jemarinya. "Om ganteng kalau begini. Rajin rajin senyum sama zha, ya?" pinta gadis kecil itu padanya.