I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Kenapa dia datang?



"Kau masih ingat aku?"


"Ya, suaramu tak ikut kau rubah. Aku masih mengenalinya." Jawaban om edo membuat mama ana tertunduk dan merapikan anak rambutnya kebelakang. Ia malu, jika semua orang mendengar apa yang om edo ucapkan akan dirinya. Ia lantas memperhatikan zha Kembali untuk mengalihkan pembicaraan.


“Dia cantik, Namanya zhavira? Aku tahu dari_”


“Bahkan kau tak ingat dengan Namanya. Zhavira Anastasia. Dan dia celon istriku,” jawab om edo dengan senyum miringnya. Itu biasanya menawan bagi zha, tapi kali ini ia tak dapat melihat senyuman indah itu dan merasakan bahagianya. Justru terdengar mengerikan.


Wajah mama ana seketika menegang mendengarnya. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya gemetar saat ini hanya dengan mendengar nama lengkap zha. Seakan tak percaya, tapi ia tahu jika om edo bukanlah pria yang suka bercanda dan mempermainkan ucapannya.


“Ma, kenapa lama sekali?” panggil van yang menghampirinya. Dan saat itu ia segera menyapa om edo yang ada didepan mata. Namun ia juga penasaran dengan ekspresi zha dan mamanya saat ini. Terutama pada mama ana yang justru tampak ketakutan melihat mereka berdua.


“Ini anakmu? Anak dari suamimu yang baru?” tanya om edo. Dunia terasa begitu sempit, tapi kenapa ia begitu sulit melacak wanita itu selama ini. Tak hanya karena wajahnya yang berubah, tapi memang mungkin takdir masih ingin mempermainkan mereka selama ini.


“Ada apa ini?” tanya van yang semakin penasaran. “Zha?”


“Aku baru ingat, Ana. Kau pasti sudah lupa dengan wajah aslimu hingga tak ingat jika kau begitu mirip dengan putrimu,”


“Om… Udah! Ayo kita pulang,” mohon zha dengan suara seraknya. Sedaritadi diam, tapi ia amat tahu arah pembicaraan mereka berdua sebenarnya. Apalagi ketika om edo menyebut nama wanita itu dengan begitu lengkap.


Ya, mama ana rupanya adalah mama zha yang selama ini ia tunggu dan berharap menjemput setelah ayahnya meninggal. Pantas saja ia tak mengenali, karena wajah itu ia rombak cukup jauh dari foto yang ia miliki dan ia dapat dari ayahnya. Mama zavan adalah mama zha, semua terasa rumit bagi gadis itu meski sebenarnya telah menolak cinta van untuknya.


“Apa-apaan ini?” tanya van melirik kaget pada sang mama.


“Zha anak mama? Selama ini mama tinggalin zha untuk_... Astaga, monster macam apa yang tinggal bersama van selama ini?” Ia benar-benar tak menyangka dengan semua kenyataan yang ada. Seorang wanita yang selalu mencari kasih sayang van sebagai putranya, tapi ia sendri tega meninggalkan putrinya disana


“Van, mama bisa jelasin semuanya. Kita pulang, yuk?” ajak mama meraih tangannya.


Mereka tiba dimobil dan langsung berjalan pulang dalam keadaan diam. Mama tak bersuara sedikitpun, hanya tampak cemas dan sesekali menggigiti kuku di jarinya. Dan van juga seperti itu, ia fokus menatap kedepan dengan perasaan kecewa dan semua yang bercampur aduk di dalam hatinya saat ini.


Begitu juga zha dan om edo. Setelah mengusap air mata zha yang Kembali mentes dipipinya, om edo menggandeng tangan gadis itu untuk keluar dan pulang ke rumah mereka. Disambut wika yang memberinya selamat dan kado, tapi saat itu wika justru cemas melihat keadaan zha dengan raut wajah sedihnya. Ia segera menghampiri dan membawanya ke kamar.


“Zha kenapa?” tanya wika, karena om edo sama sekali belum bicara apa-apa.


Akan tetapi, zha juga tak menjawab dan memilih miring membelakanginya saat itu. Wika yang ikut sedih, hanya bisa mengusap rambut kemudian meninggalkan zha untuk menjaga ketenangannya. Dan saat itu zha hanya bisa memeluk bear dan menenggelamkan wajahnya disana.


Wika turun. Ia menghampiri om edo yang tengah melepas jasnya diruang kerja. Ia membantu, sembari bertanya ada apa dengan zha hari ini. Tak mungkin, jika gadis kecil pintarnya itu tak lulus ujian, bahkan seharusnya yang ia mendapat nilai sempurna di lembar kerja kerasnya.


“Ana, kami bertemu dengannya.” Om edo menjawab singkat semua pertanyaan wika padanya.


“Ana? Ana mama zha? Bagaimana bisa kalian bertemu? Di Sekolah?” tanya wika, seakan masih tak percaya. Hingga akhirnya om edo menceritakan yang sebenarnya, bahwa ana menjadi mama tiri va saat ini dan mungkin Sudah sekian lama.


Memang ia sempat mendengar ayah van menikah lagi setelah istrinya wafat. Namun, pernikahan itu tertutup hingga bahkan koleganya tak ada yang hadir disana. Wajar jika om edo sama sekali tak siapa yang menjadi istrinya selama ini.


“Astaga, Zha…” lirih wika merasa kasihan pada gadisnya. Ia lantas Kembali berlari kekamar untuk menghiburnya saat ini. Ia mengetuk pintu dan masuk meski tanpa izin zha yang masih menangis dalam pelukan bearnya.


“Zha, kamu jangan seperti ini. Kalau zha sedih, kakak juga ikut sedih sama zha.” Wika meraih tubuh zha dan berusaha memeluknya.


“Kenapa muncul? Kenapa muncul di saat sepert ini? Harusnya zha bahagia, berjingkrak dan memeluk om edo saat itu dengan kelulusan zha. Tapi kenapa dia datang dan buat zha menangis seperti sekarang, disaat zha mulai lupa sama dia?” tangis zha pecah, bahkan ia mengatakan itu semua dengan bibirnya yang bergetar menahan semua rasa sakitnya.


Wika tak tahan, hingga akhirnya ikut menangis bersama zha saat ini. Ia menarik dan memeluk zha dalam dekapan hangatnya, menepuk punggung zha agar sedikit lega usai meluapkan segala perasaan kecewanya.