I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Mama Ana dan Vina



“Zhavira, keluar kamu!” panggil mama ana sebelum membuka semua pintu yang ada.


Dya mulai cemas dan berhharap jika zha tak tertangkap, tapi yang ada justru zha keluar dari sana dengan wajah yang tampak begitu tenang. Ia membulatkan mata meski ia takjub dengan keberanian zha.


“Mama cari zha? Mau apa, mau culik zha?” tanyanya santai, bahkan memberikan tangannya pada sang mama. Dan benar saja, mama ana saat itu langsung menarik tangan zha dan menahan tubuhnya persis seperti penculik prifesional.


“Zha!!” pekik lidya, tapi zha mengedipkan sekali matanya agar lidya sedikit tenang saat itu.


“Lepasin zha, Tante. Tante itu mau apa sebenarnya? Apa salah kami sama tante?” tanya lidya yang memengangi kepalanuya. Ia melihat mama ana sudah mengunci kamar mandi itu hingga ia akan sulit untuk lari, dan justru menambah situasi makin rumit. Sayangnya hp dya dibawa oleh van hingga ia yak bisa memanggilnya.


“Kalian tanya salah apa? Kenapa tanya padahal kalian sumber masalah dihidupku. Terutama kamu, Zha. Kamu telah merusak semuanya,” ucap mama ana sembari mencengkram rahang zha dengan tangannya. Cukup kuat zha rasakan, seperti mama saat itu tengah memakai kekuatan supernya.


“Kau sudah menolak menuruti mauku, menolak ku jodohkan dan memilih pria itu. Dan kabarnya, dia memberikan Enam puluh persen saham padamu. Benar?” Zha menyipitkan mata mendengarnya, ia bahkan tak mengetahui itu semua dan dari mana mama ana dapat kabar hingga lebih tahu mengenai perusahaan?


“Van, mana zha dan dya? Mereka lama sekali ke toilet,” tanya om edo yang menghampiri kakak iparnya itu. Tapi tak memanggilnya kakak karena usianya sendiri lebiih tua 10tahun dari van.


“Entah, aku saja menunggunya daritadi.” Tapi van masih santai meski menunggu dengan segelas minuman ditangannya.


Hingga hp om edo berdenting, dan ia segera melihat pesan yang masuk padanya. Bukan hanya pesan pribadi, melainkan pemberitahuan jika zha melakukan live di media sosialnya saat ini. Ia memicingkan mata, “Kenapa melakukan live di toilet? Aneh,” gumamnya.


Tapi seketika matanya membulat ketika melihat apa yang sebenarnya terjadi disana pada zha dan lidya, terutama dengan kehadiran mama ana yang tenagh menyekap keduanya. Sayangnya, om edo tak melihat orang lain disana hingga belum bisa menerawang bagaimana keadaan sebenarnya.


Van yang yang ikut menyaksikan itu semua lantas mengepalkan tangan saat itu juga. Apalagi calon istrinya terluka disana.


“Kita tak oleh gegabah. Perintahkan beberapa orang untuk mengawasi tempat itu, karena bisa jadi ia tak bergerak sendiri disana.” Mendengar itu vanl langsung bergerak. Ia menelpon beberapa kenalan untuk mengawasi mereka semua disana terutama CCTV yang mungkin ada.


Mereka berusaha bergerak secara halus agar suasana pest aitu tak rusak, meski mungkin akan tetap terganggu atas semua situasi yang ada.


“Kau memiliki banyak harta saat ini, Zha. Mama memiliki hak meski sedikit dari semua yang kamu punya. Dan sepertinya kamu begitu mahal dimatanya saat ini,” tatap mama dengan smirknya, seakan memang begitu ingin dengan sesuatu yang ada pada zha saat ini.


“Ingin apa? Bahkan apa yang mama katakana saat ini zha ngga paham sama sekali,” balas zha.


“Jangan berkilah!! Kau ini polos atau bodoh, Zha? Bahkan hal sebesar itu kau tak tahu.” Mama ana mengikat zha dan berusaha membawanya pergi entah kemana. Ia juga tak sadar jika hp zha ada dan menyala di ventilasi toilet yang baru zha pakai barusan. Semua menyaksikan itu, dan bahkan bukan hanya om edo dan van.


Entah sudah berapa komentar cemas yang masuk kedalam livestreaming zhavira saat itu, dan bahkan sudah banyak yang melaporkan itu ke polisi sebelum om edo dan van bergerak menghubungi mereka. Bahkan sebaliknya, justru polisilah yang menghubungi om edo saat ini.


“Maaf Tuan, apakah Tuan sudah memlihat semuanya?”


“Datang dan jangan bunyikan sirine kalian,” titah om edo yang langsung disanggupi rekannya itu.


Akhirnya rekan mama ana muncul, ia membawa tali dan ikut mengikat lidya saat itu. Sebenarnya target mereka adalah zha, tapi lidya ada dan bisa menghalangi rencana mereka. Siapa lagi kalau bukan vina, mantan calon istri dari suami zha yang rupanya masih menyimpan dendam pada mereka.


Rupanya ia masih memiliki orang dalam di perusahaan yang memberinya info akan apapun yang terjadi disana. Ia tak terima jika zha mendapatkan itu semua, sementara ia dibuang sia-sia tak mendapatkan apapun hanya karena kesalahan keluarganya.


“Kamu?” tatap tajam zha.


“Kaget, iya? Kamu anak kecil yang merusak semuanya. Bisa-bisanya kamu dapat apa yang seharusnya aku dapatkan.”


“Kamu merasa berhak mendapatkan? Ngga salah dengar?” tawa zha padanya, membuat wanita itu begitu rengam dan bahkan melayangkan satu tampaaran ke pipi zha hingga langsung merah dibuatnya.


Zha hanya kembali menatapnya tajam penuh kebencian. Ia bersumpah akan membalasnya berkali lipat dari ini, karena tak ada yang pernah kasar dengannya kecuali sang mama. Sementara siapa vira? Hanya buangan dari suaminya yang tak pernah lagi dianggap sama sekali.


Usai mengikat mereka, rencanya mama ana dan vira membawa keduanya keluar untuk dibawa pergi ke suatu tempat. Tapi, mereka melihat om edo dan van mulai mencari zha dan lidya ketika vira keluar terlebih dulu. Untungnya mulut lidya sudah disumpal hingga tak bisa berteriak dan memanggil van saat itu.


“Gawat! Mereka sudah mencari. Kita harus lewat jalan yang aman agar tak ketahuan,” ucap mama ana. Ia tahu Gedung itu karena beberapa kali mengadakan arisan brondong dihotel itu bersama beberapa rekannya.


Keduanya menyeret tubuh lidya dan zha menuju sebuah Lorong, tapi justru mereka melihat ada beberapa polisi dengan mobilnya diujung sana. Mereka mulai bingung, merasa terkepung dan berusaha berfikir mencari arah lain agar bisa kabur dari mereka semua.


“Sudah dikepung kah? Bagus, mama fikir bisa semudah itu menyekap zha disini?” seringai zha ketika melihat ekspresi bingung mamanya.


“Kamu bisa diam? Bagaimana mereka bisa mengepung, atau kamu diam-diam menelpon suamimu sejak tadi?” omel mama ana, tapi zha hanya tertawa membalasnya.


“SIAL!!” amuk vira yang baru sadar jika zha melakukan live sejak tadi. Karena ada wajahnya disana, bahhkan beberpa orang mengetag namanya secara terang-terangany di live itu.


Bayangkan betapa marah dan geram kedua wanita itu saat ini. Rasanya ingin sekali menghajar zha sekuat tenaga hingga ia lemah tak berdaya.


“Lalu bagaimana? Semua orang mengawasi kita saat ini?” tanya cemas mama ana.


“Dia yang kita butuhkan dan lebih penting saat ini. Aku membawa dia dan mengalihhkan perhatian mereka, kau pergi cari tempat lain dan kabur sebisanya.” Mama ana mengangguk pada ucapan vira, ia membawa zha kembali bersembunyi dan vira keluar bersama lidya menuju mobilnya.


Meski tak dibungkam, zha sama sekali tak berteriak saat ini. Ia seperti masih ingin bermain bersama sang mama hingga waktu tertangkapnya tiba.