I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Resmi pacaran



"Enaknya makan disuapin. Coba kalau begini terus, pasti bahagia."


"Kau sudah melupakan sedihmu?"


"Sedikit," lirih zha menjentikkan jarinya.


Om edo merapikan semua itu, lalu membersihkan bibir zha dengan tisu yang ia bawa. Zha memejamkan mata dan bahkan memonyongkan bibirnya.


"Lalu apa yang kau fikirkan tentang mamamu?"


"Kenapa mulai lagi, baru aja zha lupa tentang dia. Sulit sekali mendapatkan moment seperti ini," keluh zha lalu membuang muka.


Zha hanya bisa menghela napaa berat ketika diajak bicara mengenai mamanya. Sosok yang pernah ia rindukan dalam foto satu-satunya yang diberikan ayah itu sekarang menjadi sosok yang berbeda. Padahal sejak dulu cantik, dan meski sekarang lebih cantik tapi zha tetap tak suka.


"Dia aja lupa sama zha. Bahkan, dia ngga kenalin zha saat itu. Jadi apa yang mau zha perjuangkan darinya."


"Ini serius, Zha. Kemungkinan terburuknya nanti adalah dia ingin kamu bersamanya, atau Van yang ingin kamu menjadi miliknya."


"Tapi kan, zha udah punya Om edo. Dan_" Zha mencolek-colek lengan om edo dengan jemari mungilnya. Om edo tahu apa maksud zha saat itu, yang pastinya ia akan membahas ucapannya pada sang mama mengenai zha adalah calon istrinya.


"Itu bener ngga?" tanya zha lagi yang kemudian menelengkan kepala agar menatap om edo tepat dimatanya.


"Apa?" Om edo justru tampak gugup dan menghindarinya.


"Itu, yang tadi. Masa zha harus jelasin lagi? Udah deh, ngga asyik." Zha cemberut lagi dan bersedekap didada.


"Kau mau?"


"Mau lah, tapi kenapa Om ngga jawab ketika zha tembak saat itu?"


"Harus jawab bagaimana? Kau tahu aku orang yang tak bisa berkata-kata."


"Iya, ngomong aja seadanya. Jawab gini loh, Om.. I Love You too, Zhavira. Gitu," ucap zha yang tengah mengajari omnya. Atau bisa dibilang, saat ini telah menjadi kekasihnya.


Om edo hanya diam menggaruk kepala, bibirnya terasa berat meski ingin mengucapkan apa yang zha ucapkan padanya. Gengsi, kenapa harus zha duluan yang mengucapkan hal itu padanya.


"Apa? Ngga boleh pergi, bilang dulu pokoknya." Zha meraih pergelangan tangan om edo dan menahannya agar tetap duduk disana. Ia menatap om edo dengan berbagai ekspresi dan mimik wajah penuh pengharapan agar om edo mau mengucapkan itu padanya. Meski ia tahu om edo sudah membalas semua hanya dengan senyuman manisnya.


"Ngga usah senyum-senyum, itu cuma bikin zha deg-degan. Maunya itu tadi," rengek zha mengguncang tubuhnya.


"Yaudah kalau ngga mau. Tandanya, kita belum resmi dan zha masih bisa jalan sama siapa aja. Kak van pasti_"


"Hey..."


"Apa? Zha ngomong apa adanya. Lagian kalau iya mau nikah, kan masih lama. Zha masih bebas dong, untuk berpetualang kemana saja sesuka hari zha?" gadis itu justru meracau tak karuan dengan segala kekesalan yang ada.


"I Love You, Zha." Akhirnya om edo mengucapkan itu padanya.


Wajah cemberut zha langsung berubah melengkung dengan senyum indahnya. Ia menutup wajah tersipu malu dengan debarab hati dan jantung yang tak karuan rasanya. Ia salah tingkah, berbaring lalu menggulingkan tubuhnya kesana kemari tanpa bisa mengontrol dirinya sat ini.


"Aaaawhh! Zha jadian sama om beku. Zha punya pacar, aarrgghh!" gadis itu meracau tak karuan, bahkan bicara pada bear tentang perubahan status mereka saat ini.


Om edo yang melihatnya hanya mengerenyitkan dahi penuh tanya, apa yang terjadi pada zha saat ini. Ia baru tahu, seperti itu jika seorang gadis bahagia dengan status barunya. Yang bahkan semua masalah pelik akan ia lupakan atau bahkan hilang seketika.


"Om Edo, sekarang jadi pacar zha. Atau... Calon suami? Aaaarrhhh! Nikahnya kapan?" Zha bahkan mempertanyakan pernikahan mereka segera, yang bahkan om edo belum sama sekali memikirkannya.


"Menunggumu siap, Zha." Om edo meraih kepala dan membelai rambutnya. Pernikahan tak semudah yang zha duga. Karena perlu banyak persiapan yang matang dan menunggu usia zha cukup untuk melakukannya. Apalagi, dengan cita-cita zha yang belum ter realisasikan saat ini.


" Kau masih harus kuliah, bukan?" tanya om edo, dan saat itu zha menganggukkan kepalanya.


Zha memang masih kecil, tapi ia sudah bisa menjaga konsisten pada perasaannya sendiri yang selama ini juga menyukai omnya. Yang meski kadang begitu menyebalkan, tapi om edolah yang selalu ada ketika ia butuh sandaran dipundaknya.


Om edo keluar sesaat peresamian hubungan mereka, meninggalkan zha debgan perasaan bahagianya sendiri dikamar itu. Ia tersenyum di depan pintu, tak percaya jika begitu mudah mendapat hati zha untuknya. Karena ia fikir selama ini zha hanya menganggapnya sebagai pengasuh selama ayahnya tak ada.


"Apa ini serius, Zha? Ini dari hatimu?"


Guyz, kreji upnya nanti awal bulan lagi ya😍 tetep pantengin terus cerita ini karena akan banyak kejutan yang menanti.