
“Kenapa diam saja? Jawab apa rencana kalian sebenarnya?” tekan wika pada om edo yang sejak tadi tak menjawabnya. Wika terus mendesak, ia geregetan, kesal dan marahh bercampur aduk menjadi satu didalam hatinya saat ini.
“Dia sudah pergi?” tanya om edo dan suaranya terdengar begitu tenang. Dan itu membuat wika memejamkan mata serta mengepalkan tangannya. “Aku meminta zha kesana, agar ana tahu bagaimana gadis yang ia anggap anak kecil itu. Bukan karena takut ancaman atau apapun yang sering ia ucapkan.
“Kenapa? Ngga ada jaminan dia aman disana, siapa yang mengawasi dia nanti?” geram wika sekali lagi, tapi om edo lagi-lagi memintanya tenang. Dan bahkan ia mempersilahkan wika menyusul om yan dan menikmati masa-masa indah bulan madu mereka.
“Pergilah jika kau mau,” titah om edo padanya.
“Bagaimana bisa pergi, fikiranku saja tak tenang saat ini. Atau, mas yan juga sudah tahu rencana kalian? Kenapa aku yang merasa paling bodoh disini?” Suara serak wika mulai terdengar, ia menahan tangis disana merutuki dirinya.
Mungkin lebay, tapi memang ia sudah menganggap zha lebih dari segalanya saat ini, yang bahkan rela jauh dari suami hanya demi zha. Ia masih kesal. Dan andai mereka tak memiliki rencana matang, wika mungkin akan mengendarai mobil dan segera mengejar zha untuk kembali membawanya pulang saat ini juga.
Wika mematikan panggilan itu, ia termenung sejenak di dapurnya dengan segala perasaan gelisah yang ada. Baru sebentar saja ia rindu zha, tapi saat itu juga seketika teringat bahwa zha berpesan agar fokus mempersiapkan pesta pernikahannya dan om edo yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
“Tapi bagaimana jika? Ah, zha… Kau ini ada saja ulahnya, masih buat pusing meski sudah dewasa,” rutuk wika membayangkan gadis kecilnya.
Tingg!! Sebuah pesan terkirim untuk zha dalam hpnya. Tak banyak, hanya papa bear mengirim sebuah stiker bergambar beruang memeluk hati. Hal itu saja sudah membuat zha berbunga-bunga dan tersenyum lepas seakan beban yang sejak tadi ia pikul menghilang. Padahal sejak tadi ia diam, perasaannya juga tegang sama sekali tak berminat untuk mengobrol dengan sang mama yang ada didekatnya.
“Siapa, Sayang?” tanya mama yang penasaran pada senyum zha.
“Om edo,” jujur zha padanya, kemudian menyimpan hp.
“Bagaimana dia selama mengasuh zha? Di aitu pria yang kaku dan dingin, apalagi setelah gagal menikah beberapa tahun lalu.”
“Ya, sangat dingin hingga bisa meredam jiwa zha yang panas.” Zha hanya memberi jawaban singkat, kemudian bersandar di bahu sofa. Ia memejamkan mata agar mama ana tak terlalu banyak bertanya lagi padanya.
Hingga keduanya tiba disebuah rumah mewah, tak kalah mewah dengan milik om edo yang selama ini ia tinggali dan fasilitasnya juga lengkap disana. Pantas saja mama rela meninggalkan ayah dan mengobrak abrik wajahnya, semua demi yang ada didepan mata dengan segala kemewahan yang ada.
“Masuk, Sayang, Kakak kamu sudah menunggu.” Mama menggandeng tangan zha untuk masuk kedalam. Dan benar saja, saat itu van terkejut melihat mama benar-benar membawa zha kerumah mereka.
Van langsung tersenyum begitu bahagia, menghampiri dan langsung memeluknya. “Welcome, zha. Aku bahagia sekali ketika kamu benar-benar datang. Kita akan bersama.” Van meluapkan segala rasanya untuk zha, sementara gadis itu hanya diam menanggapinya.
“Apa benar kak van yang begitu menginginkan zha?” gumam zha dalam hati.
Van yang masih tenggelam dalam kebahagiaan itu pun segera menarik zha untuk masuk kedalam kamarnya, kamar yang sudah ia isi dengan beberapa bear baru sesuai kesukaan zha selama ini. Bahkan ia juga membelikan bear super besar seukuran milik zha yang ada dikamar lamanya.
“Aku harap kau betah disini,” ucap van padanya.
“Tapi, aku akan berusaha membuatmu melupakan rumah lama itu.”
“Coba saja, zha menunggu bagaimana caranya.” Zha justru menantang van dengan ucapannya, dan itu membuat van diam seketika bahwa zha sudah bukan seperti yang zha kenal selama ini. Zha lebih berani dan tenang dengan segala apa yang ada dihadapannya. Ia ingin zha yang lembut dan manja seperti zha yang sering bersamanya, dan ia akan terus membuat zha kembali seperti apa yang ia inginkan.
*
Om edo saat itu tak langsung ke kantornya, ia justru berbelok arah menuju makam ayah zha dan mengunjunginya sendiri. Makam itu begitu terawatt karena ia membayar satu orang khusus untuk makam itu dan beberapa keluarga yang ada disana. om edo menaikkan sedikit celana bahan yang ia pakai, kemudian berjongkok disana menatap nisan llau mengusapnya.
“Maaf, jika aku melepasnya kali ini. Aku hanya ingin ana tahu bagaimana putrinya, dan zha tahu bagaimana ibunya. Kau tak kecewa kan? Lagipula aku dan zha telah memantapkan hati untuk menikah sesuai apa yang kau inginkan. Kami tak terpaksa, karena zha juga menginginkanku.”
Om edo menceritakan semuanya panjang lebar, mewakili semua perasaannya yang juga begitu menginginkan zha dalam hidupnya.
“Maaf, jika aku memperlakukan dan mendidiknya keras saat itu. Aku hanya ingin ia tahu bagaimana jalan hidup yang ada didepan mata, apalagi ketika mamanya datang.”
Tak banyak yang ia bicarakan saat itu disana. Ia melihat jam tangan dan kembali berdiri dari sana meninggalkan makam sahabat yang akan menjadi mertuanya sebentar lagi.”Terimakasih telah memberikan zha padaku. Aku yang bahkan sempat nyaris gila karena kejadian itu, segera bisa melupakannya karena zha,” ucap om edo lalu berjalan pergi .
“Pak edo?” panggil pembersih makam suruhannya.
“Pak amir, apa kabar?”
“Saya baik, Pak. Sudah lama tak kesini, sibuk?” tanya pak amir yang kemudian dijawab anggukan om edo padanya.
Pak amir kemudian mengajaknya mengobrol sejenak, ia menceritakan jika ada wanita yang sempat berkunjung ke makam sahabatnya, wanita cantik dengan rambut panjang dan kacamata hitamnya. Tapi wanita itu tak melakukan apapun disana, hanya diam menatap makam Ayah seto bahkan tak berjongkok untuk mengusap batu nisannya.
“Setelah itu dia pergi, dan bahkan memberi saya uang Lima ratus ribu.” Pak amir menjelaskan semuanya sembari menunjukkan uang yang sama sekali belum ia pakai.
“Itu rejekimu, pakailah untuk kelaurga. Bukankah putramu membutuhkannya?” ucap om edo yang bahkan menambah uang itu dengan jumlah dua kali lipat.
“Saya belum tenang memakainya, dan saya tak tahu dia siapa.”
“Ya, aku mengizinkanmu menggunakan uang itu. Dia bukan siapa-siapa,” ucap om edo, Palk amir mengangguk sembari menerima uang tambahan darinya dengan wajah yang begitu bahagia.
Om edo kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, mengusap air mata yang sempat terjatuh untuk sahabatnya. Entah bagaimana harinya tanpa zha setelah ini, tanpa senyum, manja, dan bahkan tanpa bibir manis yang kadung menjadi candu untuknya.