I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Full service



Hingga malam hari om edo masih diam seribu bahasa, ia menjawab semua pertanyaan zha alakadarnya seperti dahulu kala sebelum pernikahan mereka ada. Zha saat ini tengah kebingungan untuk terus merayu agar suaminya kembali bicara.


Kini om edo tengah ada di balkon, duduk diam dengan cerutu di apit dikedua jemari besarnya sembari menatap suasana yang ada. Zha datang dan langsung duduk disebelahnya, diam juga dan belum menyapa hingga beberapa saat disana.


"Huufftzzz!" Zha melenguh napas kasar, barulah om edo manoleh menatapnya.


"Kenapa? Kau harusnya tidur jika lelah, apalagi kau sibuk hari ini." Suara bariton itu terdengar begitu mendebarkan bagi zha.


"Sayang kenapa daritadi? Zha udah minta maaf loh, kenapa masih marah?"


"Aku tak marah,"


"Terus, kenapa diam daritadi?"


"Kau mengingatkanku pada mereka," jawab om edo dengan netranya yang beralih menatap langit penuh bintang yang begitu terang.


"Papi Mami? Maaf, kalau buat sayang sedih, zha tadi cuma_"


"Ya, hanya itu." Om edo mematikan cerutu ditangannya saat itu. Ia lantas menghela napas sejenak untuk menceritakan masa kecilnya, yang amat jarang ia ingat karena cukup menyedihkan.


Zha sempat mendengar kisah itu dari sang ayah, tapi juga tak begitu jelas dan ia ingat. Baginya itu hanyalah sebuah cerita, yang bahkan ia tak tahu siapa tokoh yang ada didalamnya. Tak pernah ia sangka jika tokoh itu kini telah menjadi suami yang amat cinta.


Om edo begitu serius menceritakan itu semua, bahkan tanpa sadar air matanya mulai menganak sungai disana. Zha dengan sigap langsung mengusapnya.


"Kapan kita ke makam? Zha belum pernah diajak kesana," pintanya.


"Nanti, kita akan kesana bersama. Bahkan aku lebih sering ke makam ayah daripada makam mereka." Dan Om edo saat itu menyibakkan rambutnya, memperlihatkan jidat luar biasa yang amat menggoda untuk mata zha.


"Awwwwhhh!" pekik zha di dalam hatinya.


"Sudah, hanya itu." Om edo menghentikan ceritanya lalu kembali diam. Ia duduk bersila, sesekali tampak menghela napas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri.


Zha memiringkan tubuh, menelengkan kepala lalu sedikit berputar menatap suaminya. Kedua mata mereka bertemu, zha memperhatikan wajah tampan penuh wibawa itu dengan seksama lalu mengulurkan senyum padanya. Siapa sangka, saat itu om edo langsung menunduk mengecup bibirnya.


"Iiiih, kesempatan." Zha melepaskan kecupan itu dan kembali merapikan posisi duduknya.


Namun, tangan besar itu dengan cepat kembali menarik tubuh zha hingga saat ini duduk diatas pangkuannya. Om edo lantas memeluk tubuh zha yang membelakanginya itu dengan begitu erat, menatap ke langit dan melihat ribuan bintang disana.


"Maaf, jika aku tak bisa seperti apa yang kau inginkan. Romantis, manis, dan semua yang seperti van berikan pada lidya."


"Zha cuma bercanda, zha udah terlalu paham kok, jadi ngga akan tuntut macam-macam dari sayangnya zha sekarang." Zha meraih dan menggenggam tangan yang tengah memeluknya saat itu, ia eratkan dan kepalanya bersandar dibelakang tepat dibahu suaminya.


Zha sempat mengadahkan kepala, yang saat itu langsung diraih om edo agar dapat segera melumaat bibir manisnya. Istri kecilnya itu segera membalas dan menyesuaikan diri, bahkan ia dengan gemas menggigit kecil bibir bawah sang suami bahkan sedikit menghisapnya.


Buughhh! Pria itu bahkan melempar tubuh mungil zha dengan sedikit kasar di ranjang besar itu. Zha meneguk saliva, sedikit menegakkan tubuh bertumpu dengan sikunya, menatap om edo yang dengan begitu cepat membuka kemeja yang ia pakai bahkan membuangnya kesembarang tempat.


"Whooaaaa... Astaga!" Zha merinding melihat tatapan lapar suaminya saat ini. Begitu lapar hingga dengan cepat begitu ingin menikmati setiap inci tubuhnya hingga lelah dan meminta ampun padanya..


Om edo lalu merangkak menaiki ranjang dan mulai mengungkung tubuh zha, dan tatapannya mulai menyusuri setiap lekuk tubuh yang hanya mengenakan gaun tidur tipis itu bersama dengan bagian indah yang seakan meminta dijamahnya sejak tadi.


"Kau ingin maaf dariku?"


"Loh, bukannya tadi udah dimaafin?"


"Aku tak mengucapkannya, kau sendiri yang merasa." Jemari om edo mulai merayap kewajah zha, turun keleher dan kemudian menyingkap lengan tali kecil yang ada dipundak zha, lalu perlahan menurunkannya.


"Maunya... Aaaah... Apa?" tanya zha diselingi suara desaahan yang spontan keluar dari mulutnya.


"Full Service," ucap om edo yang dengan beringas mengecupi leher hingga turun ke dadanya.


Ucapan itu membuat sekujur tubuh zha merinding, antara ngeri atau ia harus senang mendengarnya. Jujur saja, setiap sentuhan itu selalu membuatnya mabuk, bahkan menggila hingga ia tak bisa mengontrol dirinya. Yang kadang ia ingin mengatakan tidak, tapi jutru yang terucap adalah kata iya dan ingin agar sang suami meneruskan semua kenikmatan yang ada.


Dan kini, malam ini om edo meminta full service darinya. "Zha... Zha ngga bisa diatas, zha susah gerak. Nanti... Nanti zha nangis lagi," ucap zha yang terdengar sedikit takut akan keinginan suaminya.


Memang ia belum lihai ketika melakukan gaya yang satu itu. Terasa begitu sesak dudalam sana hingga ia akan sulit untuk bergerak. Entah atau memang ia belum terbiasa pada anaconda suaminya. Dan saat ini ia harus berusaha agar bisa melakukan itu semua.


*


"Mama dengar kamu melamarnya?" tanya mama ana pada van ketika duduk bersama di ruang keluarga. Pada saat itu, memang van mengajak berkumpul untuk membicarakan itu semua pada kedua orang tuanya.


Van diam sejenak, ia melirik ayah sam untuk membahas itu semua pada mama. Dan benar, ayah sam menceritakan tentang rencananya melamar lidya untuk van secara resmi dengan kedua orang tua lidya sebentar lagi.


Sontak mama ana memasang wajah yang begitu marah. Tangannya mengepal dengan rahangnya yang menengang mendengar itu semua.


"Kalian membuat keputusan ini semua tanpa pendapat mama? Apa mama tak ada hak suara dalam rumah ini? Kalian anggap mama apa?!" keras mama ana pada keduanya.


"Tak ada yang tak mendengarmu, ana. Bahkan kami sangat perlu pendapatmu disini. Tapi, kamu sendiri yang menghancurkan semuanya."


"Ini semua demi kebaikan keluarga kita, Yah! Mau jadi apa keluarga ini dengan gadis pembangkang seperti dia? Apalagi sahabatnya adalah zha."


"Dia anak mama," tatap van padanya. Tapi mama justru membuang muka dan melipat kedua tangan didada, semakin memperlihatkan keangkuhannya.


"Mama tak akan pernah menyetujui dia masuk kedalam keluarga kita, apapun alasannya." Mama ana berdiri, bersikap seolah ia adalah penguasa disana dan tak ada yang bisa menentangnya.


"Jika kau tak setuju dia disini, maka aku biarkan kau yang pergi," tegas ayah sam pada istrinya, yang seketika membuatnya membulatkan mata.