
"Aakkh! Lepasin!!" Zha memekik sekuat tenaga. Ingin meraih om edo, tapi ia bingung arahnya dimana dan justru takut salah bergerak dan salah pegang lagi saat ini. Ia hanya bisa pasrah dan menunggu om edo melepaskan dirinya secara suka rela.
"Kau cari apa disana?"
"Kan cari hp om, katanya dibawah... Jadi, zha kira dbawah kaki. Aaahh, lepasin!" Om edo akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dikepala zha, dan gadis itu langsung melemaskan kembali otot-otot lehernya yang nyeris.
"HAisshh... Sakitnya," lirih zha menatap nyalang pada omnya.
"Dengarkan hingga aku selesai bicara. Hp ada dibawah meja, masih di dalam tas dan aku bahkan belum membukanya." Om edo memutar badan dan meraih hp ditempat yang ia sebutkan. Ia membuka dan menilik sebentar kemungkinan beberapa pesan yang terkirim untuknya dan ia baca segera. Tapi, mmebuat ia lupa pada tujuan awal dan membuat zha mengerucutkan bibirnya.
Happ!! Om edo meraup bibir itu hingga membuat zha semakin kesal padanya.
"Iiiiih! Fotonya mana?" tanya zha mengulurkan tangan. Om edo segera menyerahkan hp itu dan meminta zha mencari sendiri foto ayahnya, "Apa? Foto proyek semua yang ada. Ih, nemu satu." Ucap zha dengan antusiasmenya.
Benar seperti yang om edo bilang, jika ia masih menyimpan foto ayah zha disana meski hanya satu. Dan itupun foto bertiga bersama om yan yang ada ditengah mereka berdua. "Gantengnya," kagum zha mengusap foto mereka bertiga.
"Siapa?"
"Ayah lah, siapa lagi. Om yan juga, ganteng, tinggi, bersih. Ooooh, kayak ahjussi korea, mirip lee dong wok," gemas zha pada keduanya, tak sadar jika om edo terus memperhatikan dengan tatapan tajamnya sejak tadi.
"Apa? Mau dipuji ganteng juga? Zha ngga suka om brewokan gitu, jorok menurut zha. Makanya ayah rajin zha cukurin kalau dirumah," ucap zha yang mengelus bahkan mengecup wajah ayahnya disana.
"Ya, dia juga yang rajin mengingatkan bahkan mencukur kumis jenggot_" Om edo mengelus dagu dan atas bibirnya. Memang terasa kasar, dan baru ia sadar jika itu benar-benar tak nyaman.
Zha memainkan bibirnya saat itu. Ia lantas menawarkan om edo untuk membantunya mencukur kumis dikamar. Dan meski ragu, dengan bujukan zha akhirnya om edo mengangguk dan menurutinya. Zha berdiri dan menggandeng om edo untuk menuju kamar pria itu yang memang belum pernah ia kunjungi hingga saat ini.
Om edo melepas gandengan tangan zha, dan ia membuka pintu kamarnya. Zha terkesima melihat luas dan mewah kamar itu, yang lebih besar dari kamarnya padahal berdampingan. "Ini tak adil,"
"Apanya yang tak adil? Kau ingin tidur disini?"
"Kita tukaran kamar?"
"Tidak... Kau tidur bersamaku,"
"Hey!!" pekik zha dengan refleksnya ingin kabur dari sana. Namun, om edo segera mencekal tangannya.
"Kau yang menawarkan diri, kenapa pergi?"
"Kak wika... Panggil kak wika aja deh kalau gitu," ucap zha yang merinding disekujur tubuhnya.
"Kau sudah bejanji, dan wika pergi." Zha langsung memalingkan muka, apalagi ketika om edo membawanya menuju kamar mandi dimana semua alat tersedia disana.
Semua lengkap seperti milik ayah, dan zha hanya tinggal memakaikannya pada om beku yang sudah siap didepan mata. Zha memutar tubuh, dan tepat didepannya adalah dada om edo yang begitu bidang dengan kaos oblong putih ketat yang ia pakai. Menunjukkan bagaimana semua guratan otot tubuhnya menyembul dari sana.
Gleek!! Zha menelan salivanya sekuat tenaga disertai degupan jantung yang bergemuruh begitu kuat. Zha kira akan biasa saja seperti ketika ia melayani ayahnya, tapi ternyata beda dan entah apa yang justru ia rasa.
"Om, bisa nunduk sedikit ngga? Zha ngga sampai kalau_" Ucapan zha terpotong ketika om edo justru meraih pinggang mungilnya.
Pria itu memang mendunduk, tapi bukan menuruti zha untuk meraih wajahnya. Melainkan om edo mendudukkan tubuh mungil zha ke meja yang ada disana dan ia membelakangi kaca hingga mereka sejajar dengan tinggi yang sama. Keduanya saling berhadapan. Om edo terus menatapnya ketika zha mulai bekerja untuk mecukur rambut yang cukup tebal di dagunya.
Hal itu membuat zha gugup, dan tangannya terasa gemetaran, "Aku akan menghukummmu jika melukai wajahku." Om edo yang merasakan itu seketika mengancamnya dengan tegas.
"Lelaki macam apa yang takut wajahnya terluka? Ayah zha, bahkan kerja kotor ditambang. Yang kadang wajahnya memiliki beberapa luka akibat pekerjaannya."
Zha mulai menggerakkan mata cukurnya, perlahan tapi pasti dari tengah ke pinggir kanan dan bergantian kepinggir kiri. Zha bahkan menelengkan kepala sangking menghayati pekerjaannya saat ini. "Om jangan ikut miring! Ngapain sih?" omel gadis itu yang berani meraih rahang dan membenarkan posisinya.
"Ssstt!" desis Om edo ketika merasa sakit dilehernya.
"Tadi zha digituin," tukas gadis itu dengan wajah kesalnya.
Zha membersihkan sisa busa yang ada diwajah om edo. Pria itu sudah tampak bersih seperti apa yang ia sukai, dan semakin tampan dengan wajahnya yang menawan.
Di usianya yang sudah kepala tiga, ketampanan itu justru semakin terlihat jelas diwajahnya. Dengan mata yang tajam, alis yang tebal, hidung mancung dan rahangnya yang tegas. Zha bahkan nyaris tak berkedip memperhatikan semua yang ada didepan matanya.
Bagi gadis yang sudah mulai dewasa, zha tahu benar pria yang tampan menurut matanya. Ia juga sudah mengerti artinya suka dengan lawan jenis meski itu maasih sangat ia hindari saat ini.
"Kau masih ingin mengagumiku?"
"Hah? Zha engga_..."
"Matamu..."
"Iya, maaf. Kita berhadapan, bagaimana mungkin zha ngga menatap om sekarang. Turunin tolong," pinta zha yang merentangkan kedua tangannya. Bermaksud manja, tapi om edo justru diam saja melihatnya.
"Alah emboh!" geram zha yang akhirnya meloncat dan turun sendiri dari sana.
"Apa itu?" tanya om edo yang heran dengan jarkon baru zha untuknya. Sebuah ledekan, sebutan baru atau hanya sebuah ucapan. Tapi zha tak menjawab ketika ditanya, dan hanya sibuk membersihkan mata cukur yang baru saja ia pakai saat itu.
"Om yan sama kak wika, kenapa belum menikah?" tanya zha tiba-tiba.
"Dia tak akan menikah sebelum aku." jelas om edo yang saat itu mencuci wajahnya di wastafel. Semakin mempesona dan berwibawa dengan wajahnya yang bersih tanpa noda.
"Peraturan darimana? Curang lah, kalau harus nunggu om yang bahkan jomblonya awet. Om ngga mau nikah apa?"
"Sudah akan, tapi gagal."
"Sama yang kemarin?" tanya zha tanpa mendapat jawaban darinya. Tapi raut wajah om edo sudah mewakili semua jawaban yang ia inginkan.
"Ngga cari lagi? Perempuan banyak yang mau sama om. Kaya, ganteng_"
"Bukan tidak, tapi belum. Hanya masih menunggu, hingga dia merelakan diri untuk aku nikahi."
Jawaban itu membuat zha menyipitkan matanya. Ia lantas menggelengkan kepala karena sama sekali tak dapat mencerna kata-kata yang ada. Ia hanya membereskan semua dan beranjak dari sana, tapi tak lupa bertanya mengenai hp baru yang saat itu tak jadi ia ambil.
"Besok zha kesekolah susah dihubungin, terus pesen taxinya gimana?" pintanya dengan segala alasan yang ada.
"Kau tak meliburkan diri?" tanya om edo, yang langsung dijawab gelengan dari kepala zha saat itu juga.
Zha menjelaskan apa yang ia tangkap dari maksud om edo padanya, yang mendidik keras agar ia tahu keadan diluar sana tak akan semudah itu baginya. Setidaknya itu ajaran yang baik, "Dan kata kak wika, kalau zha lemah mereka bakal bully zha terus."
"Ya, bagus kalau begitu. Pintar," puji om edo padanya, seperti sebuah angin segar dengan semilirnya yang menyejukkan hati. Apalagi, ketika ia kembali memberikan senyumnya yang manis pada zha.
Sayangya zha tak menceritakan sepenggal kisah lain yang ia alami hari ini. Kisah ketika ia dituduh sebagai simpanannya dan menjadi olokan bagi teman lain disana. Dan entah kenapa, zha juga sama sekali tak sakit hati dengan ucapan mereka pada zha.