I Love You Om Edo

I Love You Om Edo
Zha pengen punya pacar!



Om edo begitu diam dengan wajah datarnya ditengah semua keramaian yang ada. Itu membuat semua gadis yang ingin mendekatinya takut dan seketika berbalik arah dan pergi. Hingga ketika zha dan om yan datang bersama wika, dekap tangan itu ia turunkan dari dada.


"Tak bisa lebih lama lagi?" tanya om edo yang seolah kehilangan waktunya begitu banyak saat ini.


"Hey... Aku menjemput zha, makanya lama. Kau sudah kehilangan berapa milyar hanya karena menunggu kami?" jawab santai om yan yang kemudian duduk didepannya. Itu mengisyaratkan jika harus duduk didekat om beku karena wika harus duduk didekatnya saat itu.


"Kenapa ngga disini aja sih? Cowok sama cowok," cicit zha pada keduanya. Tapi om yan hanya tersenyum sembari beradu pandang pada sang kekasih dan bahkan tak jarang menunjukkan kemesraan mereka berdua.


"Sial... ckkk!"


"Apanya? Om ngga suka zha duduk disini? Duduk sana, sama cewek..." Zha menunjuk sebentar ada bangku kosong dengan beberapa Wanita lajang disana, " Noh, cewek. Kali aja jodoh,"


"Dan kau akan menangis jika aku berjodoh dengannya,"


"Idih, apaan?"


"Hey .... " tegur om yan yang meminta mereka fokus pada pesanan. Hanya satu teguran, membuat keduanya seketika diam tanpa suara tapi masih bisa bertengkar lewat tatapan mata. Om yan hanya menggelengkan kepala melihat keduanya, dan wika hanya menghela napas mengembus poni selamat datang di dahinya.


Tak menunggu lama kemudian pesanan datang. Mereka menyantapnya bersama dengan begitu nikmat, terutama om yan. Ia dan wika kadang saling suap dengan mesra seperti tengah memanasi mereka berdua. Tak perduli ketika om edo melirik agar keduanya tak berlebihan didepan gadis kecil yang ada.


"Uluuuh, kalian so sweet banget sih. Zha jadi pengen punya pacar," ucap zha yang tanpa di duga justru gemas pada keduanya. Membuat om edo seketika melirik dan membulatkan mata.


Zha tak menyadari tatapan om edo padanya, dan ia justru bercerita betapa manisnya jika ia memiliki pacar saat ini. Bisa antar jemput sekolah, belajar bersama, dan sesekali mengabiskan malam minggu yang indah dengan pacar. Itu hanya menurut pengamatannya dengan pengalaman teman terdahulu, yang sepertinya begitu bahagia memiliki pacar. Apalagi bertahan lama seperti om yan dan kak wikanya.


"Nanti, kalau zha udah dewasa," ucap wika padanya.


"Enak kali ya, punya pacar dari SMA sampai dewasa terus nikah? Berasa dari nol sama sama terus_" Om edo meraih rahang zha, membuka mulut dan menyuapinya dengan potongan daging gril yang baru saja ia masak saat itu juga.


"Emmpphh!! Apaan?" geram zha dengan mulut penuhnya. Bahkan tanganya reflek menepuk bahu om edo dengan kuat tanpa bisa menghindarinya.


"Nanti kalau zha keselek gimana?"


"Ke Rumah sakit, berobat. Atau aku hanya akan menekan sedikit perutmu hingga daging itu keluar kembali," balas om edo yang fokus lagi dengan makanannya saat ini.


Zha meliriknya. Dengan mulut penuh dan mengunyah, ia menatap om edo dengan begitu nyalang sekaan ingin bertengkar lagi denganya. Tapi ia sungkan pada om yan karena tak bisa menghormati mereka berdua.


"Mau ku suap lagi? Ini enak, dan bisa membuatmu tumbuh dengan baik. Bukankah kau ingin cepat dewasa?" Om edo kembali mengarahkan sumpitnya ke mulut zha, dan zha dengan tatapan tajamnya membuka mulut menerima semua suapan darinya.


Zha seperti tak percaya. Ia menyangsikan apa yang diucapkan om edo itu seperti hanya ingin menakutinya, dan zha tak takut hanya dengan ancaman seperti itu pada dirinya. "Zha tetep mau punya pacar."


"Cari jika kau bisa. Bahkan hadapkan dia padaku," jawab om edo dengan begitu tenang.


Obrolan mereka tampak serius hingga om yan sama sekali tak berani mengganggu keduanya. Ia hanya diam saling tatap dengan wika, dan sesekali memijat dahinya.


Om yan pamit sebentar bersama wika untuk membeli beberapa kebutuhan di supermarket yang ada dibawah sana. Mereka meninggalkan dua sejoli yang tengah perang dingin dalam diamnya itu, dan fokus pada hp masing-masing ditangan.


"Yakin ninggalin mereka berdua? Nanti berantem gimana?" cemas wika yang sesekali menoleh kebelakang, tapi om yan terus meraih kepalanya dan memeluk sang kekasih agar tak memikirkan mereka.


"Sudah biarkan saja mereka mau apa. Mereka memang seperti itu, kadang hanya butuh waktu untuk menyadari bagaimana perasaan masing-masing." Om yan terus merangkul sang kekasih hingga sampai ditempat tujuan mereka berdua.


Sementara itu zha dan om edonya masih saling diam di tempat masing-masing dengan genggaman hp ditangan masing-masing pula. Om edo dengan eraphonenya, ia memeriksa beberapa laporan yang dikirim melalui email. Sedangkan zha hanya memainkan hp dan sesekali berbalas pesan dengan van dan dinda. Zha tersenyum sendiri ketika bagian van yang mengirim pesan, karena van selalu saja bisa membuat ia tersenyum dengan lebar seolah semua beban hilang seketika.


Om edo sesekali menatapnya, dan meliriknya tajam tanpa suara. "Apa?" tanya zha yang menoleh padanya.


"Apa? Tak apa. Kenapa curiga?"


"Itu tatapan matanya? Kayak orang cemburu aja," cicit zha padanya. Ia menatap tajam om edo, dan om edo membalas tatapan tajamnya. Tangan besar itu memutar kursi yang zha duduki hingga mereka berhadapan mata bertemu mata, dan itu membuat degup jantung zha seperti berdebar begitu cepat dari ritme normalnya.


Zha kembali miring menghindari tatapan om edo, tapi tangan besar om edo kembali meraihnya dengan sedikit kasar,"Arrrhh!" pekik lirih zha pada semua tingkahnya. Ia terus memundurkan tubuh ketika om edo perlahan mendorong diri sendiri maju mendekati zha, terus maju hingga terkikis jarak diantara keduanya.


Takk!! Telapak tangan om edo bertumpu pada dinding yang ada dibelakang zha, dan ia tampak melonggarkan dasi yang ia pakai saat itu.


"Om? Om mau apa?" gagap zha dengan tatapan intens om edo padanya. Zha memang setiap hari melihat wajah serius dan datar om edo, tapi saat ini rasanya begitu lain. Begitu tajam, tapi kali ini tak menakutkan dan justru membuatnya begitu ingin menyentuh wajah itu dengan telapak tangannya.


Untung saja mereka ada diruang tersendiri, yang meski berdinding kaca namun orang lain tak bisa melihat apa yang mereka lakukan dari luar sana. Mereka sempat pindah dari tempat semula karena om edo sendiri tak suka ada keramaian disana.


"Kau ingin tahu rasanya punya pacar? Kau ingin mencobanya?"


"Masa pacarana sama om-om? Kalau sama om, harusnya langsung nikah aja," celetuk zha dengan Bahasa polosnya. Saat itu, sontak om edo melengkungkan senyumnya, dan begitu indah dipandang mata zha.


Ya, begitu indah karena senyumnya tak lagi setengah. Senyum itu full melengkung dengan indah bagai bulan sabit ditengah dua lesung pipit. Degup jantung zha semakin kuat, getaran itu semakin terasa bahkan kakinya nyaris lunglai disana. Untung saja mereka berdua masih dalam posisi duduk, hingga zha tak goyah atau bahkan nayris roboh karenanya.