I Am Home

I Am Home
Dimas si muka dua



Minggu pagi, Dimas masih setia menikmati mimpi indahnya di balik selimut, udara dingin yang di hasilkan oleh pendingin ruangan membuat tidur Dimas semakin nyenyak, Dimas biasanya bangun lebih siang jika di hari libur, dia selalu melakukan balas dendam untuk kekurangan jam tidurnya saat hari kerja.


Bunyi ponsel yang cukup memekakan telinga mengganggu tidur pulas Dimas, dengan keadaan setengah sadar Dimas berusaha meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


"Dimassss" Dimas seketika langsung melempar ponselnya ketika suara teriakan Reni mengejutkan dirinya yang masih dalam keadaan setengah sadar karena baru bangun tidur.


Dimas berusaha untuk duduk, dia tarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan, setelah menenangkan diri dari rasa terkejutnya, Dimas kemudian mengambil segelas air putih yang selalu dia siapkan di atas nakas sebelum tidur.


Ponsel Dimas kembali berdering, dia ambil ponsel yang tadi dia lempar ke atas sofa, terlihat nama Reni yang tertera di layar ponselnya.


"Kalau lo teriak lagi gue block nomor lo" ancam Dimas saat panggilannya terhubung.


"Lo benar benar ngeselin tahu gak" balas Reni.


"Kenapa lo pagi pagi telfon? lo tau gue baru libur setelah 3 minggu dan lo ganggu waktu berharga gue buat tidur Ren?" omel Dimas.


"Gue yang harusnya marah di sini buka lo" ketus Reni.


"Langsung aja ke intinya gue masih ngantuk".


"Lo ngomong apa sama orang tua gue kemarin?" tanya Reni.


Dimas pun terdiam berusaha mengingat segala hal yang dia perbincangkan kemarin bersama kedua orang tua Reni.


"Casing model lama?"


"Itu lo ngomongin orang tue gue Dimas bukan ngomong" geram Reni "Katanya dokter gitu aja gak bisa bedain". ketusya.


Dimas mengulum senyum, dia seakan bisa membayangkan wajah Reni yang tengah kesal.


"Gue bilang gue tukang potong daging?"


"Bukan itu"


"Yudah berarti gue gak ngomong apa apa"


"Gak usah bohong lo"


"Gila lo ya pagi pagi nelfon gak jelas banget".


"Lo yang gila, ngapain lo ngomong calon menantu sama orang tua gue kemarin"


"Oh itu" jawab Dimas acuh.


"Gitu doang respon lu?" mungkin jika saat ini Reni berada di depan Dimas sudah langsung dia cubit habis seluruh tubuh Dimas.


"Terus gue harus apa?"


"Lo harus tanggung jawab"


"Lah kenapa gue harus tanggung jawab? emang gue ngapain lo? grep* grep* lo aja gak pernah".


"Dasar dokter mesyummmm" teriak Reni, Dimas menjauhkan ponsel dari telinganya.


Reni terus mengomel panjang lebar, Dimas hanya sesekali menjawab, itu pun dengan jawaban singkat padat dan tidak berisi.


"Iya entar siang gue datang"


"Malam bukan siang Dimas"


"Iya malam maksud gue".


Reni meminta Dimas untuk datang ke rumahnya karena kedua orang tuanya memintanya untuk makan malam di rumah, Reni juga meminta Dimas untuk meluruskan ucapannya kemarin yang mengaku sebagai calon menantu.


"Gue balas lo Ren" ucap Dimas dalam hati setelah mengakhiri sambungan telfonnya.


...****************...


"Ada security ngapain pak tua kemarin nyuruh gue bukain gerbang" Kesal Dimas dalam hati mengingat perlakuan ayah Reni.


"Mas Dimas?" tanya security.


Dimas mengangguk.


"Ibu dan mba Reni menunggu di teras, silahkan mas" ucapnya sopan, Dimas mengucapkan terimakasih kemudian berlalu meninggalkan security yang tengah menutup pintu gerbang.


Dimas bisa melihat dua wanita dengan wajah yang sama tapi berbeda generasi tengah berdiri di teras rumah seperti sedang menyambut kedatangan dirinya, bedanya wanita paruh baya mengulum senyum sedangkan wanita muda di sebelahnya memberi tatapan tajam dengan wajah tak ramah.


"Eh menantu ibu datang?" ucap ibu Reni dengan senyum yang dari tadi telah mengembang di bibirnya.


"Calon tante" Dimas mengambil tangan ibu Reni kemudian mencium punggung tangannya.


"Gak punya malu" kesal Reni dalam hati.


"Mari masuk nak" Ibu Reni mempersilahkan Dimas masuk.


"Terimakasih tante" Dimas langsung berjalan tanpa memperdulikan Reni yang memasang wajah jutek sembari menatapnya tajam.


"Lo gak nyapa gue sama sekali" ketus Reni.


Dimas menghentikan langkahnya kemudian membalik badan.


"Loh sejak kapan kamu di situ Ren" Reni manatap tajam Dimas dengan tangan terkepal.


"Dasar muka dua" Cibir Reni dalam hati ketika Dimas menyebut kamu sebagai pengganti kata panggilan Lo untuk Reni.


"Tante tadi lihat ada Reni di situ?" Ibu Reni menggeleng seraya tertawa pelan.


"Dimasssss!" kesabaran Reni sudah di ambang batas, dia sudah tidak bisa mentolerir perilaku Dimas yang bermuka dua dan sangat menjengkelkan.


Bugh.....


"Ugh....." Dimas langsung mengaduh sembari memegang perutnya, kepalan tangan Reni mendarat dengan sempurna di perutnya.


"Reni" bentak Ibu Reni, dia pun langsung memberi tatapan tajam pada sang anak sembari tangan kanannya mengelus punggung Dimas yang sedang merintih.


"Aduh, aduh sakit tante" Dimas berusaha mendramantisir keadaan.


"Kamu itu gak ada sopan sopannya sama calon suami" omelnya kemudian.


"Calon suami?" monolog Reni.


"Minta maaf sama nak Dimas" Reni masih diam mematung "Sekarang Reni!!!" ucap ibunya dengan suara tinggi.


"Maaf" lirih Reni tapi matanya masih menatap tajam Dimas.


"Reni gak ikhlas bu minta maafnya" rajuk Dimas mengadu dengan muka pura pura sedih.


"Arrrgghhh, dari pada jadi dokter lebih p**antes lo jadi artis, acting lo bagus, dasar Dimas muka dua" gerutu Reni sembari mengeraskan rahangnya, dia merasa teramat kesal dengan tingkah Dimas.


"Reni minta maaf yang benar, cium tangan nak Dimas"


"Buuu....." Reni merajuk.


Dimas tertawa bahagia dalam hati, dia mengedipkan sebelah mata sembari menjulurkan lidah, hal yang membuat Reni lebih kesal lagi.


"Minta maaf atau" ancaman yang di berikan sang ibu membuat Reni langsung beringsut mendekat ke arah Dimas.


"Dimas sayang, adinda minta maaf ya" Reni meraih tangan Dimas, bukannya mencium punggung tangannya justru Reni menggigitnya dengan keras.


Dimas langsung mengaduh seketika, sedangkan Reni langsung berlari menghindari amukan dari ibunya, ibu Reni yang melihat hal itu tertawa dengan cukup keras, dia tidak menyangka jika Reni bertingkah konyol jika di depan Dimas.