
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga 3 bulan berlalu, tanpa terasa perjuangan Dimas selama tiga bulan ini sudah membuahkan hasil, tubuhnya yang selama ini gemuk perlahan lahan terbentuk menjadi tubuh yang lebih atletis, usaha memang tidak akan pernah menghianati hasil.
Selama tiga bulan pula Anna tidak pernah sekalipun menyapa Dimas dan selalu menghindari Dimas, setiap Anna bertemu dengan Dimas di sekolah dia langsung membuang muka, jangankan untuk menyapa untuk melihat Dimas saja tidak pernah.
"Gila lo men, badan lo kok sekarang kurus, mama gak kasih makan lo" sindir Ardi saat mereka tengah berada di kantin.
"Ngiri aja lo, lo takut saingan sama gue buat rebutin cewe cewe cantik di sini"
Dimas memang sudah sangat berbeda sekarang, badan yang sebelumnya gemuk dan kulitnya berwarna cokelat cenderung kehitaman, kini berubah hampir 360°, Dimas yang sekarang adalah Dimas yang memiliki badan atletis, dengan wajah yang terlihat rupawan di balut dengan kulit putih bersih, hal tersebut tidak terlepas dari peran mamanya yang menganjurkan Dimas untuk perawatan, bahkan setiap hari minggu mama Dimas mendatangkan seorang ahli kecantikan kerumahnya.
"Butuh waktu seratus tahun lebih lo buat ngalahin jumlah selir gue"ucap Ardi dengan percaya dirinya berbicara lantang.
"Sst sst" Amar menginterupsi perdebatan tidak bermutu Dimas dan Ardi.
"Anna tuh sama Aldo" Amar menunjuk sepasang orang yang tengah berjalan menuju kantin.
"Gue lihat lo gak pernah lagi dekat sama Anna men, bahkan tiap kali ketemu kayanya dia selalu menghindar?" tanya Amar dengan penuh rasa penasaran.
"Sebenarnya...." Dimas yang bermaksud menjelaskan hubungan dia dan Anna mengurungkan niatnya saat suara Noval memotong ucapannya.
"Lo gak usah berharap lagi sama dia men, banyak yang lebih baik buat lo, gak pantas lo buat cewe modelan kaya si Anna itu" sarkas Noval.
Noval memang orang yang paling posesif pada Dimas, semenjak berkumpul pertama kali dengan Dimas saat di kamar Amar dulu dan saat tahu cerita masa SMP Dimas yang membuatnya ikut merasakan sakit, dia langsung berjanji akan menjaga Dimas dari semua orang yang menyakitinya.
"Piala bergilir" celetuk Noval yang langsung membuat emosi Dimas naik seketika.
"Jangan gitu men, udah biarin aja, gimana pun dulu hubungan kita baik" Ardi berusaha memberi pengertian pada Noval, walaupun Ardi tahu kenapa Noval berkata demikian, karena Ardi pernah mendengar jika Noval akan menjaga Dimas dari siapapun.
"Si bontot yang harus kita jaga" begitu kalimat Noval apada dua sahabatnya.
Dimas tengah berusaha mengatur nafasnya yang memburu akibat dikuasai emosi sesaat, ucapan Noval secara tidak langsung menyakiti hatinya juga, namun dia langsung membuang jauh jauh pikiran itu.
"Bro..."
"Gue bukan teman lo" Noval langsung memotong ucapan Aldo, Aldo nampaknya mendengar apa yang di ucapkan oleh Noval tadi.
"Maksud lo apa tadi bicara kaya gitu?" tanya Aldo dengan intonasi berat.
"Masalahnya apa buat lo?" Noval menantang balik "Lo gak terima?" Menatal tajam mata Aldo "Mau lo apa? hah!" Noval adalah orang yang sangat gantle dia tidak akan pernah lari atau sekedar menghindari masalah yang memang dia buat.
"Gue ngomong baik baik bro" Aldo masih berusaha menekan emosinya.
"Udah bro, mending cabut aja lo" Dimas akhirnya angkat bicara, tidak ingin ada keributan, selain itu Anna terlihat keluar dari dalam kantin.
"Lo kenal dekat Anna harusnya lo belain dia dari omongan teman lo itu"
"Udah lo cabut aja bro" Dimas mendorong tubuh Aldo menjauh "Gak usah sok tahu tentang diri gue" Dimas kembali emosi, dia tidak terima ketika ada orang lain yang sok tahu tentang dirinya.
"Biasa aja lah, jangan mentang mentang..."
Bugh....
"Anjing lo, gue ngomong pakai mulut gak mempan ternyata buat bungkam bacot lo"
Sebuah pukulah telak menghantam rahang Aldo sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Dimas yang merasa kesabarannya sudah di ambang batas untuk menghadapi Aldo akhirnya memberikan bogem mentah untuk membungkam mulutnya.
Anna yang baru saja keluar dari kantin langsung terkejut ketika melihat Aldo terkapar karena pukulan dari Dimas, dia pun segera lari menghampiri Dimas.
"Aldo.." Teriak Anna ketika melihat Aldo yang sudah berdiri dan akan membalas pukulan dari Dimas.
Noval yang hendak melompat dari meja dengan maksud untuk memberi tendangan pada Aldo pun seketika berhenti karena mendengar teriakan Anna.
Dimas menatap tajam tangan Anna yang sedang berusaha menarik Aldo menjauh, pandangannya tiba tiba gelap, emosinya memuncah seketika, dadanya naik turun dengan cepat, rasa cemburunya sudah di luar batas.
"Anji*g" Teriaknya dan langsung berhambur menerjang Aldo, di pikirannya saat ini adalah menghancurkan Aldo dengan tangannya sendiri.
"Akkhhh..." Pekik Anna ketika Dimas tiba tiba menerja Aldo, Dimas langsung memukuli Aldo dengan membabi buta.
"Tolong... tolong pisahin mereka" Teriak Anna karena melihat Aldo tidak berdaya.
"Amar, Ardi, Noval aku mohon pisahin mereka, aku mohon" suara Anna berubah menjadi parau karena dia sedang menangis.
Ardi yang hendak memisahkan mereka di tahan oleh Noval, sedangkan Amar tidak ada niatan sama sekali untuk memisahkan Aldo dan Dimas.
"Aku mohon Ardi" ucap Anna sembari menatap Ardi, karena Anna melihat hanya Ardi yang bisa memisahkan mereka, murid lain tidak ada yang berani mendekat karena ancaman Noval.
"Kalau ada yang berani misahin, gue abisin lo sekalian".
Ardi yang sedari tadi diam pun langsung melepas cengkraman Noval "Mati anak orang beg*" umpatnya pada Noval karena melihat Aldo sudah tak berdaya, dia kemudian langsung berlari menuju ke arah Dimas yang tengan bergelut dengan Aldo.
Anna yang melihat hal itu langsung berteriak agar Ardi lebih cepat memisahkan Dimas dan Aldo.
Bruk.... Ardi langsung mendorong tubuh Dimas yang tengah menindih Aldo.
"Lo mau bunuh anak orang njing" hardik Ardi sambil menatap tajam Dimas, Dimas yang melihat mendapat tatapan tajam Ardi dengan mimik wajah serius itu tidak berani membantah.
Ardi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Akdo yang tengah merintih kesakitan, lalu..
Bugh.....
Ardi menendang tengkuk Aldo dengan cukup keras, seketika Aldo langsung pingsan.
"Akkhhhh" Teriakan Anna ketika melihat Aldo yang pingsan karena tendangan Ardi.
"Ardi." Teriakan menggelegar dari seorang guru yang tengah tergesa gesa berlari menghampiri mereka.
"Kenapa kamu menghajar Aldo!" bentaknya dengan nada tinggi, guru tersebut kemudian memerintahkan murid yang lain untuk membawa Aldo ke UKS.
"Kamu ke ruang BK sekarang"
"Saya yang mukul Aldo bu" sanggah Dimas yang tidak mau Ardi mendapatkan masalah.
"Gak bu saya yang mukul" sergah Ardi, Ardi kemudian berjalan menghampiri Dimas.
"Lo tutup mulut aja, ntar kalo orang tua di panggil lo bilangin mama buat dateng, point pelanggaran lo sudah kebanyaakan beg*" bisik Ardi di telinga Dimas.
Dimas pun hanya mengangguk.
Ardi bergegas menuju ke ruang BK sesuai dengan perintah dari gurunya, Anna berjalan melewati Dimas yang masih berdiri mematung, dia sama sekali tak menoleh kearah Dimas.
"Kesempatan lo masih 3 kali, walaupun gue sakit liat lo merangkul Aldo dan membelanya tadi, tapi gak gue hitung kesalahan" Bisik Dimas di telinga Anna ketika Anna melewatinya.
Anna menatap wajah Dimas tanpa ekspresi kemudian melepas cengraman tangan Dimas pada lengannya, Anna melangkah tanpa memperdulikan ucapan Dimas
"Kalau lo gak jawab gue hitung kesalahan" ancam Dimas.
Anna berhenti, dia memutar tubuhnya.
"Terserah" lirihnya.
Dimas mengepalkan tangannya melihat hal itu, rasa sakit tiba tiba menjalar dalam hatinya, dia mengumpat Anna dalam hati.