
Setelah Dimas pergi, Anggi yang merasa tak enak hati pada Namira maupun Dimas berusaha bersikap normal, Amar yang ada di situ terlihat acuh tanpa memberikan reaksi apapun, tentu saja Amar berada di pihak Dimas, jika Dimas bersalah saja Amar selalu membela dan mendukungnya, apalagi saat ini posisi Dimas sebagai orang yang tersakiti dalam kisah Namira dan Dimas, tentu saja dia tidak akan memberikan pembelaan pada Namira.
"Pa" Anggi menempuk paha Amar, lalu memberi kode melalui matanya untuk bicara pada Namira.
Amar menggeleng "Bukan urusan papa Ma" ucap Amar dengan suara yang bisa di dengar oleh Namira.
"Mir" Anggi memegang tangan Namira "Duduk dulu yuk" dia menarik Namira untuk duduk di sofa yang berada tepat di depan Amar.
Amar beranjak untuk memindahkan si kembar yang telah terlelap ke dalam kamar, setelah itu dia kembali ke ruang tamu, jika bukan Anggi yang meminta rasanya malas Amar lama lama berada satu ruangan dengan Namira.
Saat Amar datang terlihat Anggi tengah berbincang dengan Namira, terdengar beberapa kali Anggi meminta maaf atas perkataan Dimas pada Namira.
"Kamu gak salah apa apa Nggi, gak perlu minta maaf, justru aku yang gak enak sama kamu" ucap Namira membalas permintaan maaf Anggi.
"Lo benar, istri gue engga salah" celetuk Amar sembari duduk di sebelah Anggi.
"Pa" Anggi mencubit lengan suaminya.
"Ish apasi Ma" kesal Amar sembari mengusap lengannya yang sedikit terasa sakit.
"Aku minta maaf sama kamu Mar" tulus Namira.
Amar menatap wajah Namira yang terlihat sedih kemudian berkata "Lo gak ada salah sama gue, gue juga gak mau ikut campur masalah lo sama Dimas".
Amar sebisa mungkin tidak berbicara kasar pada Namira, walaupun ingin sekali dia lakukan, bagaimana pun Namira adalah sahabat baik dari Anggi.
"Tapi sebagai sahabat Dimas jujur gue juga sakit hati sama lo, tapi gue gak punyak hak buat menghakimi lo salah atau benar dalam hal ini" Amar berbicara dengan nada tegas "Gue minta satu hal sama lo, jangan lagi ganggu hidup Dimas dengan kehadiran lo, sudah cukup Dimas menderita selama bertahun tahun karena dulu lo pergi ninggalin dia dan sekarang lo melakukan hal yang sama" walaupun nada bicara Amar terdengar pelan namun sangat terasa emosi di dalamnya.
"Pa" tegur Anggi yang merasa suaminya berbicara yang tidak mengenakkan pada sahabatnya, Amar memberi kode supaya Anggi diam.
"Sekarang lo sudah punya pilihan sendiri jadi berbahagialah dengan pilihan lo dan biarkan Dimas bahagia dengan kehidupannya, so jangan lagi berharap lo bisa menjadi teman Dimas, karena harapan lo bisa menjadi penghancur kebahagiaan lo dan Dimas nantinya"
Namira hanya bisa diam mendengar penuturan Amar, semua yang dikatakan Amar adalah sebuah kebenaran yang tidak lagi bisa Namira bantah.
...****************...
Dimas baru saja sampai di sebuah caffe yang menjadi tempat dia dan Inggit akan bertemu, dalam lubuk hati Dimas dia berharap jika Inggit nanti bisa membantunya untuk kembali membuka hati, pesona yang Inggit miliki mampu membuat Dimas tertarik.
Dimas mulai merasa gelisah ketika melihat jam tangannya, sudah lewat 10 menit dari waktu yang mereka janjikan untuk bertemu, Dimas tetaplah Dimas yang sama, dia tidak suka menunggu, namun karena di apartement ada Namira sehingga membuatnya malas untuk beranjak pergi.
"Maaf dokter saya terlambat" suara Inggit menyadarkan Dimas dari lamunannya.
"It's oke" ucap Dimas "Silahkan duduk".
"Ini undangan dari kami untuk dokter, kami berharap dokter berkenan menjadi pembicara di seminar nanti" Inggit berbicara formal pada Dimas.
Dimas terkekeh sembari mengambil amplop putih yang tadi di sodorkan oleh Inggit.
"Tidak usah terlalu formal bu Inggit" ucapnya seraya membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya, Dimas membaca sekilas.
"Satu minggu lagi ya bu?" Inggit mengangguk "Iya dok".
"Saya coba sesuaikan dulu ya dengan jadwal saya supaya tidak bentrok"
"Kira kira kapan dokter bisa kasih kepastian?" tanya Inggit.
"Lusa saya kabari" jawab Dimas.
Mereka kemudian berbincang ringan, lebih banyak berbincang seputar seminar itu, sesekali Dimas keluar dari topik pembahasan bertanya mengenai hal pribadi Inggit.
"Bu Inggit kesini sendiri?" tanya Dimas berusaha mencari sedikit celah.
"Diantar kekasih saya dok" jawab Inggit sembari tersenyum malu malu.
"Oh.." Dimas berusaha memberikan ekspresi wajah biasa saja.
"Hancur sudah harapanku" ucapnya dalam hati.
"Baru ya bu?"
Inggit mengangguk "Belum ada satu bulan dok" jawabnya sembari tersenyum.
Dimas pun menganggukan kepalanya.
"Dokter mohon maaf saya pamit dulu, kekasih saya masih menunggu di mobil" pamit Inggit, Dimas pun menyetujui tanpa banyak bertanya, setelah sedikit berbasa basi Inggit kemudian pergi meninggalkan Dimas.
Dimas menatap punggung Inggit yang sedang berjalan menjauh, dalam hatinya berkata.
"Kamu tercipta bukan untuk ku"
Niat awal Dimas mencari peluang untuk mendapatkan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatinya namun takdir berkata lain.
Inggit