I Am Home

I Am Home
Isi hati Aldo



PoV Aldo


Hari ini adalah hari pertama MOS, entah kenapa aku yang biasanya malas untuk mengikuti acara yang menurutku tidak begitu penting seperti MOS ini, namun hari ini aku benar benar semangat untuk berangkat kesekolah dan mengikuti MOS, entah karena suasana sekolah yang sudah beberapa bulan terakhir aku rindukan karena libur panjang, atau ada sesuatu yang mendorong hatiku.


Saat aku tiba di sekolah aku tatap sejenak sekolah yang akan menjadi tempat peraduanku selama tiga tahun kedepan, tempat yang akan membentuk jati diriku nantinya, aku pun tersenyum membayangkan tentang apa yang akan aku lalui nanti, tentang indahnya masa putih abu abu seperti yang sering aku dengar.


Aku pun melangkah perlahan memasuki gerbang sekolah, mataku menangkap sosok seorang gadis yang terlihat sedang kerepotan membawa perlengkapan MOS, dugaanku sebentar lagi gadis itu akan menjatuhkan barangnya karena menurutku dia membawanya dengan cara yang salah, tiba tiba....


Brak ...


"Benar kan" ucapku dalam hati.


Aku pun kemudian mempercepat langkahku untuk menghampiri gadis.


"Cantik"


Kata yang pertama keluar dari mulut ku untuk menggambarkan gadis itu, aku terus menatap lekat lekat wajah gadis itu, ada perasaan lain di hatiku setelah melihat paras ayu gadis itu, ya aku jatuh cinta, aku benar benar jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Maaf kamu menghalangi jalanku" ucapnya yang menyadarkanku dari lamunan.


"Eh..." aku terkejut ketika mendapati wajah gadis itu cukup dekat dengan wajahku, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas gadis itu.


"Jangan melamun pagi pagi"


****, gadis itu tersenyum, senyum yang sangat manis dan meneduhkan, oh Tuhan aku harap dia adalah jodohku, jika bukan dia aku mohon gantikan jodoh yang sudah engkau tuliskan dengan dia Tuhan.


"Aku duluan ya"


Tanpa sadar aku mengangguk, kuputar tubuhku perlahan, pandangan mataku mengikuti gadis itu sampai benar benar menghilang, seketika aku mengutuki kebodohanku, kenapa aku tidak berkenalan.


Saat MOS sesekali aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan gadis itu, namun aku tidak kunjung menemukannya walaupun aku sudah memperhatikan satu persatu wajah dari setiap anak baru yang ada di lapangan.


Waktu berjalan cepat, tanpa terasa MOS telah usai, kami semua di kumpulkan di aula untuk mengikuti penutupan acara MOS, saat pengumuman siswa tertampan saat MOS aku tak menyangka jika namaku di panggil, aku kemudian bergegas maju ke depan, kejadian berikutnya lebih membuat aku terkejut saat tahu jika gadis yang selama tiga hari ini aku cari terpilih jadi siswi tercantik, Anna lebih tepatnya Nirvanya Attalia, nama gadis yang tengah merenggut separuh jiwaku.


Saat tahu gadis itu berada di kelas X5 aku langsung meminta ayahku untuk berbicara pada pihak sekolah agar mau memindahkan ku supaya satu kelas dengan Anna, untungnya pihak sekolah mengabulkan itu, aku merasa sangat bahagia, dimana nanti setiap hari aku bisa menatap wajah gadisku, bisa melihat senyum manis di bibirnya yang akan membuat hariku lebih bersemangat.


Hari hari selanjutkan aku habiskan untuk mendekati Anna, tidak perduli sikap acuhnya yang selalu mengabaikanku, yang aku tahu banyak cowo cowo tampan di sekolah mendekati Anna tapi entah kenapa tak ada satupun yang mampun menarik simpati Anna, hingga satu waktu aku dengar kabar kalau Anna dekat dengan salah satu cowo kelas satu, aku pun cari tahu kebenarannya, ketika aku lihat seorang cowo yang bernama Dimas aku tertawa dalam hati, ya aku memang memandang sebelah mata karena fisik Dimas yang berbanding bak langit dan bumi dengan ku.


Aku terus mendekati Anna, akhir akhir ini Anna memberi respon yang baik, dan aku melihat Anna menjaga jarak dengan Dimas, bahkan beberapa kali Anna terlihat menghindari Dimas.


Hari pun berlalu dengan cepat, Dimas yang sebelumnya tidak pernah aku perhitungkan sebagai sainganku kini berubah bak seorang pangeran, aku tak tahu sebab Dimas bisa berubah 360°, awalnya aku yang meremehkan dia kini aku menjadi sangat khawatir karena perubahan Dimas itu,ya aku takut dia berhasil mendapatkan Anna.


Aku dan Anna berjalan ke kantin, dari kejauhan terlihat Dimas dan teman temannya sedang bercanda gurau di depan kantin, saat Anna masuk ke dalam aku memutuskan menunggu di luar, aku tak sengaja mendengar hinaan dari salah satu teman Dimas, Noval itulah namanya orang yang konon cukup di segani di sekolah bahkan senior di sekolah pun enggan untuk mencari masalah dengannya, namun aku yang sudah di butakan oleh cinta tidak banyak berfikir, akhirnya aku menghampiri mereka, aku meminta penjelasan maksud omongan mereka, tak disangka Dimas langsung memukuliku membabi buta, aku yang memang sebelumnya tidak pernah berkelahi pun tidak mampu memberikan perlawanan.


Setelah perkelahian yang menyebabkan aku pingsan selama lebih dari 3 jam, aku melihat Anna di sampungku saat pertama kali aku membuka mata, terlihat Anna dengan telaten menungguku dan aku bisa melihat raut ke khawatiran di wajahnya, aku pun bahagia.


Hari pun berlalu dengan cepat, tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan kelas satu ini dan naik ke kelas dua, saat itu sekolah menggelar acara pentas seni aku berencana ingin mengungkapkan perasaanku pada Anna.


Setelah aku tampil aku meminta Anna untuk naik ke atas panggung, di situ aku mengutarakan perasaanku, Anna terlihat sangat terkejut, aku melihat dia menggeleng samar namun kemudian aku memohon agar Anna mau menerimaku, hingga akhirnya Anna mau menerima cintaku, aku sangat bahagia.


Setelah resmi menjadi pacar Anna aku pun berusaha memberi perhatian lebih, namun Anna terus mengacuhkan aku, bahkan selama berpacaran dengan Anna tak sekalipun kami menghabiskan waktu berdua.


Banyak selentingan dari temanku yang berbicara tentang kedekatan Anna dan Dimas, aku selalu menutup mata dan telingaku, namun melihat Anna yang benar benar tidak menganggapku membuat aku merasa kesal, aku mengunjungi kelas Anna hendak meminta penjelasan, alangkah terkejutnya aku ketika melihat Anna sedang bermesraan dengan Dimas di belakang kelas, hati ini terasa sakit, apalagi setelah berbicara dengan Anna di depan kelas membuat hatiku lebih hancur lagi.


Setelah Anna masuk ke dalam kelas aku hendak kembali ke kelasku, aku sempat menoleh dan menatap kelas Anna dengan tatapan pilu merasakan setiap rasa sakit di dalam hatiku, namun entah kenapa aku tidak bisa membenci Anna, mungkin rasa cinta dan sayangku melebihi rasa sakit yang aku rasakan.