I Am Home

I Am Home
Menghargai



Setelah medapat perintah dari Noval untuk mengikuti Dimas, Ardi langsung berlari ke luar kelas, dia tengok kanan kiri setelah keluar dari kelas namun tidak melihat Dimas.


"Cepet banget ilangnya tuh orang" gerutu Ardi sembari melangkah ke kantin bunda feeling Ardi biasanya selalu tepat.


Ardi segera berlari ketika melihat Dimas dari kejauhan, benar saja Dimas memang tengah menuju kantin bunda.


"Ikut gue men" ucap Ardi sembari merangkul leher Dimas, Dimas yang pikirannya sedang kosong pun hanya menurut pada Ardi bagai kerbau yang di cocok hidungnya.


"Duduk men" ucap Ardi setelah mereka sampai di warung depan sekolah tempat mereka biasa menghabiskan waktu sembari menunggu upacara selesai, Ardi kemudian memesan dua minuman untuknya dan Dimas.


"Minum dulu men, biar happy kita" Ardi menyerahkan sebuah gelas berisi minuman kepada Dimas, tanpa menjawab Dimas menerimanya dan langsung menenggaknya hingga tandas.


"Haus bener men" goda Ardi sembari cekikikan.


"Mau mulai cerita dari mana men?" tanya Ardi dengan mode seriusnya, Dimas menatap Ardi sekilas lalu langsung membuang muka ketika mendapati Ardi dengan ekspresi wajah serius.


"Gak ada yang perlu gue ceritain men" jawab Dimas.


"Oke gue anggep lo yang salah, sekarang lo minta maaf pada Noval dan Daisi atau" Ardi menggantung ucapanya untuk melihat perubahan ekspresi Dimas.


"Gue gak tau di sini gue tersangka utama atau hanya korban men" ucap Dimas sembari menghela nafas panjang.


Ardi menyeringai licik "Masuk perangkap" Gumamnya.


"Lo ceritain aja semua yang lo tahu atau lo rasakan men"


Ardi kemudian menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman untuk mendengarkan cerita Dimas.


Dimas kemudian mulai bercerita tentang perubahan sifat Daisi beberapa hari terakhir, Daisi yang biasanya selalu mengikuti semua kemauan Dimas dan tidak pernah protes sekalipun, namun beberapa hari terakhir Daisi mulai mengatur dalam hubungan mereka, bahkan Daisi sering kali mendebat Dimas untuk hal hal kecil.


"Contohnya?" tanya Ardi menyela.


"Masalah ikat rambut Daisi"


Daisi yang biasanya selalu mengikat rambutnya dengan gaya kuncir ekor kuda sesuai kemauan Dimas, namun beberapa hari terakhir merubahnya dengan menggerai rambutnya seperti awal Daisi dulu masuk sekolah, ketika Dimas bertanya bukannya menjawab namun Daisi langsung marah marah tanpa alasan yang jelas.


"Terus?"


Selain itu Daisi juga tidak mau jika mereka datang ke tempat yang biasa Dimas datangi ketika jalan dengan Daisi, puncaknya kemarin Dimas dan Daisi ribut di cafe, Daisi meminta Dimas pergi, awalnya Dimas memang pergi namun karena perasaanya tidak enak akhirnya Dimas memutuskan kembali menjemput Daisi, alangkah terkejutnya Dimas ketika sampai di cafe justru melihat Daisi sedang bermesraan dengan Noval.


Ardi beberapa kali mengangguk hingga Dimas menyelesaikan ceritanya.


"Menurut gue ada tiga kesalahan di sini men" Dimas mengerutkan keningnya menunggu Ardi melanjutkan ucapannya.


"Pertama lo salah, kedua lo salah dan ketiga lo salah" sambung Ardi yang membuat Dimas langsung melotot tajam.


"Duduk dulu men, gue belum selesai bicara" Ardi menarik lengan Dimas dan mendudukkannya kembali.


"Salah lo pertama lo selalu ngelihat Daisi sebagai Anna" Dimas mengangguk tanpa Dia sadari.


"Kedua lo udah bohongin Daisi, sebenarnya lo gak cinta sama dia, lo cuma terobsesi sama Daisi yang menurut lo ada kemiripan dengan Anna" kali ini dimas tidak langsung mengangguk, dia nampak berfikir sejenak.


"Kesalahan ketiga lo, lo gak dengar penjelasan dari Noval dulu" Dimas mengangguk cepat kali ini menyetujui ucapan Ardi.


"Come on men sejak kapan kita menempatkan urusan wanita di atas perrsahabatan kita"


"Terus menurut lo gue harus gimana?" Dimas meminta pendapat Ardi.


"Pertama lo harus minta maaf sama Daisi dan Noval" Ardi menyeruput minumannya "Kedua lo harus minta maaf sama Namira".


"Namira?" sergah Dimas "Apa hubungannya? tanya Dimas bingung.


"Pertama lo udah nyianyiain semua ketulusan dan pengorbanan Namira" seketika ucapan Namira saat terakhir kali mereka bertemu di danau langsung terngiang di kepala Dimas.


"Kedua lo udah mainin adik Namira dan lo jadikan pelampiasan" tukas Ardi, kali ini Ardi berbicara dengan emosi di dalamnya, Dimas bisa merasakan itu.


"Apa Namira mau maafin gue?"


"Itu lo sendiri yang tahu" jawab Ardi cepat.


"Tapi kalau Namira sampai tahu hubungan gue sama Dinda" Seketika rasa takut menghampiri hati Dimas "Gue gak bisa kalau Namira pergi lagi dari hidup gue" lirih Dimas.


"Itu resiko yang harus lo terima atas perbuatan lo men" Ardi berbicara tegas "Inget men pria sejati selalu berani mengambil resiko" sambungnya sembari menepuk bahu Dimas.


"Mulai sekarang hargai apa yang lo punya" Ardi berdiri dari duduknya.


"We never know what we have, until someone takes it away, so if you can't have what you love, try to love what you have" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Dimas yang hanya bisa termenung mendengar segala ucapan Ardi.


"Men" teriak Dimas sebelum Ardi keluar dari warung.


"Apa?"


"Itu bukannya kata kata Amar ya?"


"Gak penting lo" cibir Ardi.


Dimas masih mengingat dengan jelas kata kata yang baru saja Ardi ucapkan, kata kata yang sama persis dengan yang Amar ucapkan dulu saat Dimas ingin kembali mendekati Dinda setelah kepergian Anna dulu, dia merasa seperti de javu saat ini.