I Am Home

I Am Home
See you



Dimas berjalan tegesa dengan sedikit berlari masuk ke dalam bandara, mulutnya terus menggerutu kepada seseorang yang ikut berjalan cepat di belakangnya, orang itu adalah Ardi, karena Ardi hampir saja Dimas terlambat sampai di bandara untuk mengantar Amar pergi ke luar negeri melanjutkan pendidikannya.


The bad boys telah dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan, Dimas bahkan masuk ke dalam jajaran peraih nilai tertinggi di kota itu.


Hari ini adalah hari keberangkatan Amar bersama Anggi ke luar negeri sesuai janji mereka berdua sejak dulu, Dimas dan Ardi mengantarkan kepergian mereka, Noval tidak dapat hadir karena dia tengah menempuh pendidikan di akademi abdi negara, Noval sudah di terima dan tengah mengenyam pendidikan untuk menjadi abdi negara.


"Buruan apa men" sengit Dimas karena Ardi berjalan dengan lambat, bahkan dia masih sempat menebar pesona ke beberapa gadis yang dia jumpai di sana.


"Sabar kampret" balas Ardi.


Dimas dan Ardi akhirnya sampai di dalam ruang tunggu bandara, terlihat Amar dan Anggi tengah duduk di salah satu kursi yang terdapat di sana.


"Men" teriak Ardi cukup kencang, beberapa orang yang ada di situ langsung mengarahkan pandangan ke arah Ardi dan Dimas, Dimas yang merasa jengkel langsung meninggalkan Ardi yang malah tersenyum dengan bangga akan kebodohannya.


Amar menyambut kedatangan dua sahabatnya dengan senyum lebar, dia kemudian bergegas berdiri dan merentangkan tangannya.


"Anjir, gue yang berharap lo peluk malah Anggi yang lo sapa" gerutu Amar ketika Dimas malah menyapa Anggi.


"Apa kabar Anggi?" tanya Ardi yang membuat Amar semakin jengkel.


"Lo sama aja kaya Dimas" Anggi hanya tertawa melihat kelakuan absurd ketiga orang itu.


Amar kemudian mempersilahkan Dimas dan Ardi duduk.


"Noval gak bisa datang" ucap Ardi yang di balas anggukan oleh Amar.


"Iya, udah ngabarin tadi".


"Gimana pengumuman lo men?" tanya Amar, hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian Dimas masuk ke fakultas kedokteran salah satu universitas terbaik di kota itu.


"Tanpa gue jawab lo pasti udah tahu men" ucap Dimas dengan nada sombongnya.


"Sombong bener lo kampret" sungut Ardi.


Dimas dinyatakan secara resmi menjadi mahasiswa kedokteran, Ardi pun berkuliah di kampus yang sama tetapi dia mengambil jurusan bisnis.


Mereka pun lanjut berbincang banyak hal, mulai dari mengingatkan satu sama lain agar tidak memutus komunikasi, Amar juga mewanti wanti Ardi agar tidak lupa terus mengawasi Dimas.


"Gue bukan anak kecil" kesal Dimas.


"Kelakuan lo masih kaya anak kecil" balas Ardi yang membuat mereka semua tertawa.


Dimas mengedarkan pandangannya sesaat seperti sedang mencari seseorang, Anggi yang melihat hal itu langsung paham apa yang Dimas cari.


"Santai men ntar di kampus banyak bunga yang bisa kita hinggapi" celetuk Ardi.


Plak.....


"Aduh". Ardi mengusap kepalanya "Kenapa lo mukul kepala gue si" protes Ardi pada Amar.


"Gak yakin gue percaya sama lo buat jaga Dimas, yang ada malah Dimas jagain lo ntar" jawab Amar yang di balas senyum jenaka oleh Ardi.


"Men" Amar menatap Dimas "Kita sedari masih labil udah sama sama, sampai hari ini dimana kita mulai menata masa depan masing masing" Amar berbicara sembari memegang bahu Dimas.


"Dari dulu harapan kita semua cuma satu, lo bisa bahagia nanti men, jangan lo pikirin lagi Namira, lo fokus pada tujuan lo, kalau memang Namira jodoh lo suatu hari lo pasti akan bertemu lagi" Amar mulai meneteskan kristal bening dari matanya.


"Thanks men lo semua emang saudara terbaik gue, jaga diri lo di sana baik baik, kabari gue kalau lo ada kesulitan" Dimas memeluk Amar dengan erat, pelukan pertama yang mereka lakukan selama menjalin persahabatan.


Amar melepas pelukannya pada Dimas, dia kemudian melihat ke arah Ardi setelah itu Amar langsung memeluk Ardi, Amar terisak dalam pelukan Ardi.


"Gue titip Anggi, jaga dia baik baik" ucap Ardi yang langsung membuat Amar mendorong tubuhnya.


"Emang gak pernah berubah lo" sengit Amar.


Panggilan dari pengeras suara menandakan perpisahan mereka yang akan terjadi sebentar lagi.


"Selamat tinggal men" Amar menepuk bahu dua sahabatnya.


"Bukan selamat tinggal tapi sampai jumpa" ralat Dimas sembari tersenyum melepas kepergian salah satu sahabat terbaiknya.


Dimas dan Ardi kemudian bersalaman dengan Anggi, mereka bertiga sekali lagi berpelukan, seakan sangat berat untuk berpisah satu sama lain.


Lambaian tangan Amar sebelum masuk ke dalam gate membuat Dimas dan Ardi meneteskan air mata, mereka harus menerima takdir jika saat ini, mereka harus siap mengarungi jalan yang mungkin bisa lebih terjal nantinya, mereka sudah masuk ke dalam dunia orang dewasa yang penuh dengan intrik dan berbagi masalah rumit.


"Tinggal kita berdua men" ucap Ardi pada Dimas yang masih berdiri di sebelahnya, pandangan mereka masih tertuju ke arah Amar yang baru saja masuk.


"Santai aja men, ntar gue cari selir sebanyak banyaknya biar kita gak kesepian" Celetukan Ardi yang selalu bisa menghibur Dimas.


"Pikiran lo ************ terus njir" ucap Dimas sembari terkekeh pelan.


Mereka pun meninggalkan bandara berjalan dengan merangkul pundak satu sama lain, kini nasib mereka ke depannya ada dalam genggaman tangan mereka sendiri.


END.