
"Bodo amat lah" Dimas menggerutu setelah beberapa saat merenung akan ungkapan perasaan Namira, logikanya baru saja mengalahkan hati, walau di hatinya sudah terukir nama Namira, gadis yang berdeda dari semua wanita yang pernah Dimas temui dan menjalin hubungan dengannya tapi logika Dimas mensugesti dirinya, jika kenyamanan ada pada Daisi, hingga akhirnya Dimas tak ambil pusing atas apa yang di katakan oleh Namira tadi.
...****************...
Hari hari berlalu tanpa kehadiran Namira yang selalu menemani Dimas saat Dimas ingin berkeluh kesah, tanpa celotehan Namira, tanpa sikap bar bar Namira, walau Dimas merasa ada sesuatu dari bagian hidupnya yang hilang, namun Dimas terus saja membohongi dirinya jika semua baik baik saja, apalagi kedekatan Dimas dan Daisi sudah berada di level lebih dari sekedar teman, hampir setiap hari Dimas menghabiskan waktu dengan Daisi, antar jemput juga tak pernah Dimas lewatkan.
Seperi siang ini, Dimas baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Daisi.
"Ais" panggil Dimas.
Daisi yang hendak membuka pintu mobil pun mengurungkan niatnya.
"Kenapa Dim?" tanya Daisi dengan senyum manis seperti biasanya.
"Gue mau tanya?" Dimas mengatur nafasnya "Kalau seumpama nih ya, seumpama" Daisi menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Seumpama apa?"
"Engg... bukan seumpama si" Dimas teridam sedang memikirkan kata kata yang tepat "Ah iya, lebih ke meminta pandangan lo"
"Pandangan apa?".
"Ehem". Dimas berdehem, kemudian Dimas menceritakan sebuah cerita fiktif karangannya tentang laki laki dan perempuan yang sudah dekat namun sang lelaki takut untuk mengungkapkan perasaanya karena lelaki itu masih terkenang masa lalu dengan seorang wanita yang dia rasa mirip dengan orang yang saat ini sedang dekat dengannya.
"Hihihi" Daisi tertawa "Emang siapa yang mirip sama aku?" tanyanya.
"Eh..." Dimas terkejut "Bukan bukan mirip kita, eh mirip lo maksud gue" kilah Dimas.
"Basa basi banget si Dim, udah langsung aja, kamu mau ngomong apa sama aku?" Dimas diam.
"Kamu mau minta aku jadi pacarmu?" Daisi menatap mata Dimas lekat lekat "Tapi kamu takut karena aku mirip dengan masa lalu kamu?"
Dimas langsung gelagapan, dia kehabisan kata kata untuk berkilah, sedikit banyak Daisi tahu cerita tentang masa lalu Dimas dan Anna, karena tanpa Dimas sadari dia sering menceritakan kisahnya sendiri, bahkan selama ini Dimas mengajak Daisi ke tempat yang banyak kenangan dengan mendiang Anna.
Mengangguk, ya akhirnya Dimas mengangguk pasrah, dia tidak bisa mengelak lagi atas segala tuduhan Daisi.
"Aku mau jadi pacar kamu" Dimas melotot "Tapi aku minta lihat aku sebagai Daisi bukan sebagai Anna" Dimas masih terdiam "Bisa?" desak Daisi.
*Bisa?
Bisa?
Bisa*?
Kata terakhir Daisi langsung terngiang di kepala Dimas, memori otak Dimas langsung membawanya ke masa lalu, mengingat semua kenangan indah bersama Anna, mengingat senyum Anna yang sangat identik dengan senyum Daisi, mengingat cara Anna menatapnya, cara Anna tertawa yang persis dengan Daisi.
"Bisa" jawab Dimas dengan kepala yang menggeleng, untung saja Daisi tidak menyadari jika Dimas menggelengkan kepalanya, karena Dimas hanya sedikit menggeleng bahkan jika Daisi melihatnya pun Daisi tidak akan tahu jika Dimas menggeleng.
"Oke" Daisi menormalkan mimik wajahnya "Mulai sekarang aku adalah Daisi pacarmu dan..." Daisi memegang dada Dimas "Kita buat kenangan kita sendiri di sini" lalu Daisi memegang kepala Dimas "Kita buat cerita kita agar kamu ingat aku sebagai Daisi" Dimas mengangguk pelan.
Daisi tersenyum lebar, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya, lalu dengan segera Daisi menghambur ke dalam pelukan Dimas, Dimas awalnya ragu untuk membalas pelukan Daisi tapi kemudian dia melingkarkan tangannya di punggung Daisi sembari mengelus lembut punggung Daisi.
"Aku masuk dulu ya" Dimas mengecup pucuk kepala Daisi sebelum Daisi keluar dari mobil.
Daisi melambaikan tangannya pada Dimas sebelum gerbang benar benar tertutup.
"Maaf Ais mungkin sekarang gue belum bisa ngeliat lo sebagai Daisi tapi gue bakal coba, semoga gak ada yang tersakiti ke depannya". ucap Dimas dalam hatinya sembari menatap rumah Daisi lekat lekat, Dimas kemudian menjalankan mobilnya perlahan menjauh dari rumah Daisi.
Daisi