
Danau tempat Dimas berkeluh kesal, tempat Dimas menumpahkan segala kegundahan, tempat Dimas berusaha menyusun hatinya yang hacur berkeping keping karena kepergian Anna, tempat Dimas memohon kepada Tuhan juga tempatnya menyalahkan Tuhan atas kepergian Anna.
Dimas hanya bisa menekuk kakinya sembari menunduk dalam, sudah satu bulan berlalu namun tak jua dia bisa menerima kenyataan jika Anna telah pergi, jika Anna telah bahagia di sana, setiap pulang sekolah Dimas pasti selalu ke danau atau ke makam Anna, setiap hari Dimas menceritakan kegiatannya, hanya satu harapan Dimas yaitu bisa berdamai dengan hatinya.
Senandung sendandung kecil keluar dari mulut Dimas untuk sekedar menghibur dirinya, bukannya terhibur Dimas justru menangis ketika menyanyikan satu bait lagu yang sangat menggambarkan dirinya saat ini.
......"Ternyata belum siap aku......
...Kehilangan dirimu...
...Belum sanggup untuk jauh darimu...
...Yang masih s'lalu ada dalam hatiku"...
Stevan pasaribu - Belum siap kehilangan.
"Dalam banget kayanya" suara seorang wanita menganggu Dimas yang tengah meratapi nasibnya, tanpa permisi wanita itu duduk di samping Dimas.
"Dengan lo seperti ini gak akan merubah apapun" ucapnya, Dimas hanya diam, dia bahkan tidak mengangkat kepalanya sama sekali.
"Seharusnya lo bersyukur" Dimas seketika mengangkat kepalanya seketika.
"Apa yang gue harus syukuri Namira?" ucap Dimas yang merasa kesal.
"Lo lihat dia" Namira menunjuk seorang anak kecil yang berusia sekitar 10 tahun, di tangannya menenteng sebuah kantong besar, sesekali dia berteriak berharap ada yang akan membeli dagangannya.
Namira melambaikan tangannya memanggil anak itu "Kakak beli satu" ucapnya sembari mengeluarkan selembar uang berwarna biru, bocah itu kemudian memberikan tissue yang berada di dalam kantong itu.
"Kembaliannya buat makan kamu ya" seketika senyum mengembang di wajah bocah itu, setelah mengucapkan terimakasih dia berlalu sembari menawarkan dagangannya kembali.
"Kalau lo ngerasa orang yang paling tersakiti karena kepergian Anna lo salah" Dimas memperhatikan wajah Namira yang tengah menatapnya serius "Oh ya gue lupa, gue turut berduka" sambungnya.
"Anak itu sedari kecil hidup berdua dengan ibunya" Namira memulai menceritakan kisah hidup anak kecil itu, bagaimana kepahitan hidup yang harus dia jalani, sedari kecil anak itu tidak pernah mengenal sosok ayahnya, dia hanya tinggal di sebuah gubug reot bersama sang ibu.
"Dan ibunya baru meninggal satu minggu yang lalu" Namira menutup cerita pilu kehidupan bocah itu.
Dimas pun tergugu, dia tenggelam dalam pikirannya berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja Namira ceritakan, dia tengah membandingkan kehidupannya dengan anak itu.
"Apa gue harus bersyukur" tanya Dimas pada dirinya sendiri.
"Ya lo harus bersyukur" kata Namira seakan tahu apa yang tengah Dimas pikirkan.
"Setidaknya lo masih punya mereka" Namira menunjuk ke arah belakang, di sana terlihat tiga sahabat Dimas dan Anggi yang tengah duduk sembari menatap interaksi Dimas dan Namira.
"Lo di kelilingi orang orang baik dan lo gak harus mikir besok makan apa, itu yang harus lo syukuri".
"Apa dengan melihat kisah yang menyedihkan mengharuskan gue bersyukur?" beo Dimas.
"Lo pernah denger sebuah kata mutiara 'Lihat ke atas agar terinspirasi lihat ke bawah agar bersyukur' menurut gue itu adalah realita bukan sekedar kata kata".
Dimas mengangguk pelan, dia perlahan mulai bisa merasakan kehangatan dalam hatinya yang selama beberapa waktu terakhir terasa dingin.
"So seburuk apapun nasib lo, percayalah Tuhan sudah mengatur semua yang terbaik untuk hidup lo kedepannya" Namaira berdiri dan langsung pergi meninggalkan Dimas yang masih diam di sana.
Dimas memutar tubuhnya melihat Namira yang berjalan menjauh, dia perhatikan lekat lekat punggung Namira, dalam hatinya dia berucap terimakasih karena Namira telah menyadarkan dirinya dari keterpurukan, telah menarik dirinya dari dalam jurang keputus asaan.
Dimas kemudian menghampiri ketiga sahabatnya, dia langsung menghambur kepelukan ketiga orang yang selalu setia berdiri di belakangnya, selalu setia mendorong ketika Dimas berhenti dan menariknya ketika Dimas berjalan lambat dalam kehidupan.
"Makasih men lo semua selalu ada buat gue" ucap Dimas tulus, ketiga sahabatnya pun mengangguk serentak sembari tersenyum hangat melihat Dimas yang sudah bisa berdamai dengan keadaan.