
Dimas tengah merebahkan tubuhnya di atas permadani yang dia gelar tepat di belakang ruang kelas, kepalanya menikmati setiap belaian lembut dari tangan halus Anna, jam terakhir pelajaran kosong dikarenakan sang guru berhalangan hadir, ketiga sahabatnya langsung menuju kantin, Dimas menolak ajakan mereka dengan alasan sudah kenyang padahal dia memiliki maksud terselubung untuk menghabiskan waktu dengan Anna.
Dimas seakan lupa dengan janjinya pada Anna, janji yang dia ucapakan ketika dulu dia masih di pandang sebelah mata, janji yang akan menjadikan Anna sebagai ratu di hatinya sudah hilang entah kemana.
Dimas kini terlena dengan kehidupan di sekitarnya yang berjalan sangat baik, dia memiliki 3 orang sahabat yang sangat pengertian dan setia kawan, dia juga di gandrungi para wanita idola sekolah.
"Gantian dong Dim" pinta Anna sembari menghentikan aktifitasnya mengelus kepala Dimas.
"Yaudah sini" Dimas pun bangkit, dia kemudian menyenderkan tubuhnya pada dinding, Anna langsung merebahkan tubuhnya, dia menjadikan paha Dimas sebagai bantal.
"Elus elus" ucap Anna manja, tanpa di minta kedua kali Dimas langsung mengelus kepala Anna, sesekali tanganya mencubit pipi Anna dan hidungnya.
Dimas pada awalnya sudah memiliki niat untuk menjauhi Anna karena Anna menjalin hubungan dengan Aldo namun kini niatnya berubah, Anna memohon pada Dimas agar dia tidak menjauhi dirinya, Anna bahkan bilang akan memutuskan Aldo, Dimas akhirnya memanfaatkan hal itu untuk bisa dekat dengan Anna tanpa menjauhi kedua selirnya, dia tidak rela meninggalkan segala kebahagiaan dengan para wanita cantik di sekitarnya.
"Love you" ucap Anna sembari mengelus rahang Dimas.
"Kok gak di bales" sungut Anna karena melihat Dimas hanya tersenyum tanpa berniat membalas ucapanya.
"Gak mau bilang gitu ke pacar orang" kilah Dimas.
"Yaudah aku putusin Aldo hari ini juga"
"Eh jangan" sergah Dimas cepat.
"Kok gitu" Anna merajuk.
Dimas langsung mengeluarkan rayuan maut dari mulut manisnya, nampaknya ilmu yang di ajarkan oleh Ardi sudah sangat sempurna Dimas serap sehingga dia mampu meluluhkan hati wanita dengan mudah.
"Gue sakit hati waktu lo nerima Aldo, dengan begini gue ngerasa bisa balas sakit hati gue" alasan Dimas.
"Yang penting kamu bahagia" Anna mengulas senyum manis sembari mengelus pipi Dimas, cinta sudah membutakan Anna.
Ketiga the bad boys masuk ke dalam kelas, karena waktu pulang sekolah sebentar lagi akan tiba.
"Ck.. ck.. ck.." Ardi berdecak ketika dia melihat Dimas yang sangat intim dengan Anna "Pacar orang tuh men" sindir Ardi.
"Tapi cintanya sama Dimas" jawab Anna cepat yang membuat Ardi menyebikkan bibirnya.
Setelah terdengar Bell tanda pulang sekolah the bad boys langsung membereskan tas mereka, sedangkan Dimas masih asik mengelus kepala Anna.
"Ayok men" ajak Amar yang melihat Dimas masih bermesraan dengan Anna.
"Kemana?" tanya Dimas.
Amar kemudian memberi kode melalui matanya.
"Oh iya" Dimas berbicara tanpa mengeluarkan suara sembari menganggukkan kepalanya.
Dimas kemudian meminta Anna untuk bangun, dia beralasan ada janji dengan ketiga sahabatnya.
"Aku ikut" pinta Anna.
"Duh" Dimas jadi bingung, dia melihat satu per satu sahabatnya untuk meminta bantuan, namun ketiganya hanya mengedikkan bahunya.
"Lo mau gak nunggu di mobil dulu, sekalian bawain tas gue, nanti gue susul kesitu" ucapnya sembali menoel hidung Anna.
"Titip men" ucap ketiga sahabatnya dengan suara pelan ketika Anna menyanggupi permintaan Dimas.
Setelah menyerahkan kunci mobil pada Anna, Dimas segara mengajak the bad boys untuk langsung menuju ke halaman belakang sekolah, Rendi sudah menunggu mereka dari tadi di depan kelas.
"Masih anget nih bang" ledek Rendi yang melihat Anna bergelayut di kengan Dimas saat keluar kelas.
Dimas hanya tersenyum bangga.
"Gak usah heran sama si kampret, dia yang makan buahnya lo yang kena getahnya" kesal Ardi sembari menatap Dimas yang masih tersenyum lebar.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan kelas.
"Lo siap?" tanya Noval ketika mereka berjalan menuju halaman belakang sekolah.
"Siap bang"
Sesampainya di halaman belakang sudah terlihat Beni beserta beberapa orang di sana, terlihat juga Aldo dan dua orang yang tadi pagi sempat di hajar oleh Dimas, Noval segera menghampiri Beni, mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya mereka sepakat jika Aldo dan Rendi saja yang menyelesaikan masalah mereka.
Amar dan Noval menyaksikan perkelahian antara Aldo dengan Rendi dari jarak dekat, sedangkan Dimas dan Ardi memutuskan duduk di atas pohon tumbang yang berada di jarak cukup jauh.
"Men gue mau ngomong serius" ucap Ardi dengan mimik wajah tegas.
"Sok sokan lu" cibir Dimas.
"Ini gue serius men, lo dengerin omongan gue"
Ardi kemudian memberi banyak petuah bagi Dimas, dia tidak mempermasalahkan jika Dimas dekat dengan banyak wanita, namun Dimas tidak boleh melewati batas yang telah Ardi ajarkan sebelumnya.
"Lo gak mau jadiin Anna cewe lo?" tanya Ardi.
"Gue udah terlalu nyaman sama banyak cewe di deket gue men" jawab Dimas jujur.
Huh..... Ardi menghembuskan nafas berat.
"Yang penting inget jangan pernah lo rusak cewe baik baik men, kalo lo emang mau main main lo cari cewe yang bisa lo mainin" ucap Ardi dengan bijak.
"Sok bijak lo kambing" cibir Dimas.
"Gue serius men" tukas Ardi.
"Iya iya" jawab Dimas pasrah.
Walaupun Ardi seorang playboy namun dia memiliki prisip dia tidak akan merusak wanita yang menurutnya adalah wanita baik.
"Lo tau kenapa gue sering di labrak cewe dan di gamparin cewe men" Dimas menggeleng mendengar pernyataan Ardi.
"Karena gue akan langsung ninggalin mereka ketika gue tau mereka cewe baik baik".
"Jangan merusak sesuatu yang baik karena yang sudah lo rusak gak akan bisa kembali seperti semula dengan cara apapun".
Dimas mengangguk tanda menyetujui ucapan Ardi.
"Men gue ngerasa kaya buaya lagi nasehatin buaya"
"Hahahaha" mereka tergelak bersama.
Mereka kemudian melangkah menuju arena pertarungan setelah melihat jika perkelahian sudah selesai, Aldo menyerah setelah mendapatkan pukulan telak di wajah dan tubuhnya, setelah itu Noval memberi ultimatum untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi, mereka kemudian bersalaman satu sama lainnya.