I Am Home

I Am Home
Satu sakit semua sakit



Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, the bad boys yang baru saja masuk ke kelas XI tiba tiba sudah menghadapi ujian tengah semester, raut ketegangan terlihat jelas di wajah Ardi, dari keempat personel the bad boys hanya Ardi yang lemah dari segi akademik.


"Tegang amat lo men" tanya Dimas ketika mereka tengah duduk di depan ruang kelas yang akan menjadi tempat ujian Ardi.


"Gak pede gue men, otak gue blank" ucap Ardi dengan nada penuh keputus asaan.


"Hahahaha" Dimas tergelak melihat ekspresi wajah Ardi.


"Santai aja men, anggep aja nih lo lagi ngadepin cewe cewe yang biasa gamparin lo" hibur Dimas yang tidak membuat Ardi menjadi tenang justru menambah kegelisahannya.


"Gak lucu anying" maki Ardi.


"Udah lo diam di sini, gue yang atur"


Dimas langsung memanggil Anna yang terlihat sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Gue mau bilang sama Anna biar ntar bantuin lo di dalam" Anna memang duduk tepat di sebelah Ardi, untuk ujian tengah semester tempat duduk tidak diatur berdasarkan nomor urut absen, melainkan di acak secara random, apesnya Ardi, dia berada di kelas sendirian terpisah dari para sahabatnya.


Seringai licik langsung timbul di wajah Ardi ketika mendengar solusi yang di tawarkan oleh Dimas.


Anna memang salah satu murid yang terkenal pintar, namun sayang dia tidak mau membantu kesulitan temannya ketika menghadapi ujian, namun di luar itu Anna selalu bersedia membantu jika temannya mengajaknya belajar bersama.


"Baru datang?" Anna mengangguk manja.


"Sini duduk" Dimas menggeser posisi duduknya untuk memberi ruang bagi Anna.


Dimas langsung menarik kepala Anna untuk bersender di dadanya, Ardi yang melihat hal itu langsung berdecih kesal, kalau bukan karena iming iming Dimas mungkin Ardi sudah mengutuk sahabatnya itu.


"Udah belajar?" tanya Dimas lembut sembari mengelus pucuk kepala Anna.


"Udah, tapi aku gak pede, aku kan gak sepintar kamu" ucapnya manja.


"Lo mah suka merendah ntar tau tau dapat nilai tinggi"


Anna hanya mengulum senyuman sembari tangannya memainkan jari jari tangan Dimas.


"Gue tadi baru taruhan sama Ardi"


"Ish ngapain si taruhan segala" sebal Anna sembari mencubit lengan Dimas.


"Dengerin dulu cantik" Dimas menangkupkan tangannya di wajah Anna.


Dimas kemudian menceritakan perihal taruhannya dengan Ardi, taruhan yang sebenarnya tidak ada dan hanya karangan Dimas semata, jadi jika ujian Ardi nilainya diatas 7 semua untuk semua mata pelajaran Ardi bakal nurutin semua permintaan Dimas, tapi jika Ardi nilainya dibawah 7 Dimas harus menuruti permintaan Ardi.


"Kamu minta apa sama Ardi?"


"Gue minta supaya dia bisa ngatur kalau kita naik kelas nanti kita tetap sekelas".


"Ih so sweet"


"Dasar picik" Ardi.


"Terus kalau Ardi yang menang dia minta apa sama kamu?".


"Gue harus mau nemenin saudaranya Ardi yang katanya suka sama gue selama sebulan"


Cring... kilat mata Anna tiba tiba menghunus jantung Ardi.


"Ardi" geram Anna menahan emosi.


"Eh.." Ardi mati kutu, dia yang belum di breefing oleh Dimas merasa bingung.


Anna terus mengomel, dia terus meminta Dimas untuk membatalkan taruhannya, Anna tidak mau tahu taruhan harus batal.


"Gak bisa gitu doang Ann, cowo kan yang di pegang omongannya, janji adalah harga diri laki laki" unyel unyel gemas pipi Anna.


"Gak mau tahu, Ardi kan beg* dia pasti kalah lah sama kamu" sarkas Anna yang di balas cibiran oleh Ardi.


"Gak usah jujur banget kali Ann" celetuk Ardi.


"Yaudah nanti aku bantuin Ardi di dalam, pokoknya kamu harus menang Dim, gak ada larangan kan aku boleh bantuin Ardi"


Seringai licik para buaya pun timbul di wajah Dimas dan Ardi.


"Gak ada larangan si, tapi..."


"Gak ada tapi tapian pokoknya kamu harus menang".


Ting... Dimas mengedipkan matanya pada Ardi, Ardi langsung mengirim kiss bye jauh untuk Dimas.


Suara bell tanda ujian akan di mulai berbunyi memaksa Dimas harus menuju ke ruangan ujiannya, Ardi sempat berterimakasih dan berjanji akan membantu Dimas dalam mengurusi ketiga selirnya.


Kantin bunda


Ardi berjalan sembari terus menebar senyum manisnya, sesekali dia tertawa sendiri, ketiga personel the bad boys yang melihat hal itu memberikan tatapan aneh.


"Gila mungkin dia men gara gara gak bisa jawab ujian" Analisa Amar.


"Abis kena gampar selirnya kali otaknya jadi geser" tebak Noval.


"Dia kan punya otak tapi cuma jadi hiasan doang" celetuk Dimas.


"Hallo my brother my men" teriak Ardi saat dia mendaratkan pantatnya di atas bangku panjang.


"Gila selir lo men"


Ardi terbahak sebelum melanjutkan ucapanya, dia kemudian bercerita, jika Anna sampai rela menuliskan jawaban di lembar jawab Ardi karena Ardi yang selalu ketahuan saat melihat contekan di lembar jawab Anna.


"Anna ngasih contekan?" pekik Noval dan Amar bersamaan penuh rasa ketidak percayaan dalam diri mereka.


Ardi kemudian menceritakan tentang Dimas yang membohongi Anna supaya Anna mau membantu Ardi.


"Emang lo berdua b*jingan tengik" maki Amar.


"Buaya buntung" sambung Noval.


Amar dan Noval terus memberikan sumpah serapah kepada dua sahabat laknatnya itu.


Ponsel Noval berdering, dia menatap sesaat nomor yang tak dikenal.


"Angkat men berisik banget" ucap ardi yang melihat Noval hanya memandangi layar ponselnya.


"Gak kenal gue nomornya"


"Angkat aja siapa tau penting" desak Dimas.


Tut .. panggilan terhubung.


"Hallo" ucap Noval.


Mendadak tubuh Noval lemas setelah mendengar penjelasan dari yang menelfonya, wajahnya yang sebelumnya ceria langsung berubah menjadi muram.


"Kenapa men?" tanya Amar yang mendapati perubahan ekspresi di wajah Noval.


"Men" pekik Dimas dengan suara lebih tinggi untuk menyadarkan Noval.


"Bokap gue kecelakaan di tempat kerja" lirih Noval yang membuat ketiga sahabatnya langsung membisu.


Dimas yang lebih dulu tersadar langsung berfikir tindakan apa yang harus mereka lakukan.


"Men lo keluarin mobil gue" Dimas melempar kunci ke arah Ardi "Lo pikir sendiri cara biar mobil gue bisa keluar".


"Lo ambil tas kita di Anna" perintahnya pada Amar.


"Kita kerumah sakit sekarang men" ucap Dimas pada Noval.


Noval langsung menolak dengan tegas, bagaimana pun mereka masih ada dua ujian lagi, Noval akan pergi sendiri ke rumah sakit.


"Persetan sama ujian bokap lo lebih penting" ketus Dimas.


"Lo berdua jangan diam doang anying, buruan, kalo kita izin gak bakal di kasih, kita cabut aja, gue sama Noval keluar dari pintu samping kita ketemu di warung depan"


Amar dan Ardi langsung berlari menjalankan tugas masing masing, Dimas langsung menarik kerah baju Noval yang dari tadi hanya diam.


Dalam perjalanan keluar sekolah Dimas menelfon mamanya, dia kemudian menceritakan musibah yang menimpa keluarga Noval, Dimas meminta mamanya untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya untuk berjaga jaga, tanpa banyak bertanya mama Dimas menyetujuinya.


Di dalam mobil keheningan tercipta hanya terdengar deru nafas dari keempat sahabat itu, Ardi melajukan mobil Dimas dengan kecepatan tinggi.


"Harusnya lo bertiga gak usah ikut men" ucap Noval yang langsung di balas tatapan tajam oleh Dimas.


"B*cot" maki Dimas "Sahabat brengs*k gue pernah ngomong kita sahabat satu sakit semua sakit" sambungnya.


"Makasih men, makasih buat lo semua" Noval hendak memeluk mereka bertiga.


"Homo b*ngsat" ucap ketiganya kompak.


Keempat orang absurd dengan karakternya masing masing saling melengkapi kekurangan satu sama lain, mereka selalu menarik satu sama lain jika ada yang tertinggal untuk melangkah bersama menuju masa depan.


Celotehan Ardi seakan menjadi penghibur selama perjalanan, Noval yang sedari tadi murung sudah bisa kembali tersenyum, dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki ketiga sahabat aneh itu, terutama Dimas yang selalu bisa mengatur hal apapun terkait ketiga sahabatnya, dia bisa berperan sebagi teman atau kadang kadang seperti kakak bagi ketiganya, walaupun usia Dimas yang paling muda diantara yang lain.