
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah karena kondisi jalan yang padat, mereka terus berbincang sepanjang perjalanan, tentu saja topik utama pembahasan adalah ayah Reni yang galak dan menyebalkan.
"Lo tadi di rumah ngledek ibu gue sekarang lo ngomongin ayah gue" ucap Reni.
"Dan lo gak sadar lo lagi ngomongin seorang ayah di depan anaknya" sungut Reni seraya mengepalkan tangannya karena merasa gemas dengan tingkah Dimas.
Dimas terbahak mendengar ucapan Reni, karena terlalu jengkel dengan ayah Reni yang tadi mengerjainya membuat Dimas terus menerus membicarakan ayah Reni, dan lebih parahnya membicarakan di depan Reni yang notabene adalah anaknya.
"Sorry sorry, abisnya gue kesel banget di kerjain ayah lo tadi".
"Lo minta maaf gak tulus"
"Sok tahu lo"
"Dasar pohon pisang".
"Pohon pisang?"
"Punya jantung tapi gak punya hati, lo minta maaf tapi lo masih ketawa Dimasssss" Reni melayangkan cubitan bertubi tubi pada lengan tangan Dimas.
Setelah penyiksaan di dalam mobil yang di alami oleh Dimas sepanjang jalan, akhirnya mereka sampai di tempat acara ulang tahun berlangsung di salah satu kelab malam yang cukup terkenal di kota itu.
"Kita gak salah kostum nih? tanya Dimas setelah menyadari jika acara berlangsung di kelab malam.
"Emang dress code nya gini" jawab Reni.
Dimas kemudian turun dari mobil terlebih dahulu, dia lalu membukakan pintu mobil sembari mengulurkan tangan pada Reni.
"Sok romatis lo" cibir Reni tapi tetap menerima uluran tangan Dimas
"Nyiyir tapi lo pegang juga tangan gue" Sungut Dimas.
Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam kelab malam itu, setelah menunjukkan undangan, Dimas dan Reni langsung di persilahkan masuk oleh penjaga keamanan.
Dimas seakan berubah kepribadian setelah menjalin kedekatan bersama Reni, Dimas yang sebelumnya selalu kaku dalam menjalani hari, kini tingkahnya lebih santai bahkan terkesan konyol.
"Jangan kaku kaku banget, hidup cuma sekali rileks dan nikmati aja kenapa Dim" ucapan Reni yang mampu mengubah cara pandang Dimas.
Saat Dimas dan Reni baru saja memasuki tempat acara berlangsung, kehebohan seketika terjadi, teman teman Reni menyambut kedatangan Reni dengan cukup berlebihan menurut Dimas, mungkin saja itu pengaruh dari minuman yang mereka konsumsi, Dimas yang tidak terlalu suka dengan keadaan asing pun berpamitan pada Reni untuk duduk di salah satu meja yang tersedia, Reni mengizinkan dan berpesan nanti akan menyusul.
Dimas duduk sembari menikmati orange juice, Dimas memang tidak terlalu suka dengan alkohol, meskipun dulu dia sangat akrab dengan minuman itu saat masa masa keterpurukannya.
"Kak Dimas" sapa seseorang saat Dimas sedang duduk termenung di sudut ruangan.
"Loh Dinda" Dimas terkejut dengan keberadaan Dinda di situ.
"Kak Dimas ngapain di sini?" tanya Dinda.
"Lo ngapain di sini Din?" Dimas balik bertanya.
"Ini kan acara ulang tahun kakak sepupu Dinda"
"Sepupu?"
"Iya kak Aldo"
"Aldo?"
Dimas benar benar seperti orang bodoh, dia memang tidak tahu siapa tuan rumah acara itu karena Reni tidak memberi tahunya, Dimas juga tidak bertanya lebih banyak.
"Steven Rivaldo" gumam Dimas mengingat nama yang tertera di dalam kartu undangan yang tadi di bawa oleh Reni.
"Kak Dimas aneh deh" ledek Dinda.
Dinda kemudian menjelaskan jika ini adalah acara ulang tahun dari kakak sepupunya Aldo, Steven Rivaldo adalah nama panjang dari orang yang menjadi musuh nomor satu the bad boys saat di sekolah dulu, seakan menjadi kebiasaan, Dimas tidak pernah tahu nama panjang orang di sekitarnya, bahkan dulu nama panjang Anna baru di ketahui oleh Dimas setelah satu tahun lebih mengenalnya.
"Bentar bentar Din" Dimas menginterupsi cerita Dinda.
"Jangan bilang Aldo mantannya Anna?" tanya Dimas.
"Aldo mana lagi, Kak Aldo yang mantanya kak Anna dulu lah" ledek Dinda, Dinda memang tahu hubungan masa lalu mereka.
"Berarti Namira?" ucap Dimas.
Dimas tiba tiba merasa jengah setelah mengetahui jika acara tersebut adalah acara Aldo dan Namira ada di situ, Dimas malas jika harus bertemu kembali dengan Namira.
"Dimas" sapa Namira setelah berada di dekat posisi Dimas dan Dinda.
Huh.... Dimas langsung membuang nafas, dia teguk habis sisa orange juice kemudian dia letakkan gelas kosong di atas meja.
"Din gue cabut dulu ya" pamit Dimas seraya berdiri dan berjalan meninggalkan kakak adik yang melihat kepergiannya dengan tatapan bingung.
"Kak Dimas mau kemana?" teriak Dinda, Dimas mengabaikan teriakan Dinda dan tetap berjalan keluar dari ruang pesta itu.
Dimas langsung duduk di atas bangku panjang yang terdapat di depan kelab malam itu, bangku yang biasa di gunakan oleh orang yang tengah menunggu taxi atau di jemput dalam keadaan setengah sadar, Dimas sedikit merasa kesal dengan Reni, dalam pikirannya Reni tidak mungkin tidak tahu hubungan masa lalunya yang kurang baik dengan Aldo, apalagi seingat Dimas saat pernikahan Namira dia sempat bertemu dengan Aldo yang waktu itu sedang menggandeng tangan seorang wanita yang baru Dimas sadari jika itu adalah Reni, berarti sebenarnya Reni tahu tentang hubungannya dengan Namira.
"Awas lo Ren" kesal Dimas dalam hati.
Posel Dimas berbunyi menandakan ada pesan masuk, Dimas membuka ponselnya ternyata ada pesan dari Reni.
"Lo dimana, gue cari cari di dalam gak ada" isi pesan Reni.
"Depan" balas Dimas singkat.
"Depan mana? kalau balas pesan jangan setengah setengah apa!" kesal Reni.
"Depan kelab, lo keluar aja ntar juga lihat gue" balas Dimas sembari memasukkan ponselnya ke dalam kantong jas.
Beberapa menit kemudian terdengar pintu kelab terbuka, Dimas melirik ke arah pintu dan terlihat Reni yang sedang berjalan menghampirinya.
"Lo kenapa di sini, keluar gak bilang bilang lagi" omel Reni sembari duduk di sebelah Dimas.
Dimas hanya melirik malas Reni.
"Lo kenapa si aneh banget tiba tiba?" tanya Reni.
"Gak usah pura pura beg* lo!" hardik Dimas.
"Gak jelas banget lo" Reni sedikit emosi ketika Dimas berbicara ketus padanya.
"Kenapa gak dari awal lo bilang kalau mantan lo itu Aldo" sengit Dimas.
"Ck...ck...ck..." Reni berdecih.
"Lo kenapa si udah tua juga, masih aja baperan, mau sampai kapan lo musuhan sama Aldo" cecar Reni.
"Lo pasti tahu kan hubungan mantan lo sama Namira"
Reni tiba tiba terbahak "Oh lo marah gara gara itu, ceritanya ada yang belom move on nih" ledek Reni.
Dimas yang tengah kesal menjadi semakin kesal karena Reni meledeknya.
"Diam lo!" sentak Dimas "Gue pulang, terserah lo masih mau di sini apa engga"
"Lo gak ingat pesan ayah gue?"
"Bodo amat sama pak tua menyebalkan itu"
Dimas segara berdiri dan berjalan menuju mobilnya, Reni mengikuti dari belakang.
"Enak aja lo mau ninggalin gue di sini"
Reni masuk ke dalam mobil, sepanjang jalan Reni terus meledek Dimas, Dimas yang merasa jengah langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan teriakan Reni.
"Lo kalau mau mati jangan ajak gue woy, gue belum kawin"
Reni terus merancau sepanjang jalan, Dimas bertambah kesal mendengar rancauan Reni, dia pun melajukan mobilnya dengan lebih cepat lagi.
"Dimas!!!" sentak Reni ketika dia baru turun dari mobil.
"Dokter meyum lo benar benar ya" kesal Reni sembari menunjuk wajah Dimas.
Dimas hanya tersenyum smirk sembari memberi tatapan mengejek, dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Reni yang masih saja mengomel di depan rumahnya, bahkan dari kaca spion Dimas bisa melihat jika Reni sempat melempar sepatu ke atah mobilnya, Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Reni.