I Am Home

I Am Home
Dinda tunjukkan pesona mu



The bad boys menjalani hari harinya seperti biasa, tidak ada hal yang mencurigakan, mereka benar benar menjalankan rencananya secara rapi.


"Ardi mana?" tanya Dimas ketika berpapasan dengan Noval dan Amar saat keluar kelas namun tidak melihat Ardi.


"Enggg...." Amar nampak berpikir sesaat.


"Biasa lagi cari selir baru" jawab Noval sembari menyepak betis Amar.


"Yaudah gue duluan ya mau anter princess" ucap Dimas ketika Daisi datang menghampirinya.


Daisi pamit pada Noval dan Amar.


"Lo jangan ang eng ang eng, bikin curiga si kampret nanti" omel Noval yang hanya di balas cengiran oleh Amar.


Di sisi lain Ardi tengah duduk di depan sebuah ruang kelas dengan wajah kesal dan beberapa kali menggrutu, dia tadi setelah selesai pelajaran terakhir langsung keluar kelas dan bergegas menemui Dinda, namun Dinda memintanya menunggu karena ada kegiatan ekstra kulikuler, dengan wajah masam menahan kesal Ardi mengiyakan.


"Kampret kampret lagi lagi gue jadi korban dua manusia laknat itu" gerutu Ardi sembari membayangkan wajah menjengkelkan Noval dan Amar, lalu dia meninju angin di depannya yang dia bayangkan wajah Amar dan Noval.


"Kak Ardi" panggil seseorang yang membuat Ardi mengangkat wajahnya.


"Eh Dinda cantik" ucapnya seraya mengulum senyum manis.


"Maaf ya nunggu lama" Dinda masih seperti biasa dengan sikap ramah dan malu malunya.


"Kak Ardi mau bicara apa sama Dinda?" tanya Dinda sembari duduk di selebelah Ardi, Ardi mengedarkan pandangannya ke segala arah, melihat masih ada beberapa murid yang tengah duduk dan mengobrol di sana.


"Kayanya enakan kita ngobrol di kantin bunda aja Din" usul Ardi.


"Baiklah" jawab Dinda.


Ardi dan Dinda kemudian berjalan beriringan menuju kantin bunda yang terletak di sudut sekolah dekat dengan kelas 1.


"Mau minum apa Din?" tanya Ardi setelah mereka sampai di kantin bunda.


"Samain aja sama kak Ardi" jawab Dinda.


"Cokelat dingin mau?" Dinda mengangguk sembari tersenyum manis, Ardi tertegun sesaat.


"Anjrit sayang banget makhluk kaya gini cuma di jadiin ladang cocok tanam sama si kampret" gumam Ardi dalam hatinya.


"Kak" ucap Dinda karena melihat Ardi termenung.


"Eh..." Ardi terkejut "Sorry sorry" Ardi kemudian langsung masuk ke dalam kantin, beberapa saat kemudian Ardi datang membawa dua gelas yang berisi minuman berwarna cokelat.


"Makasih kak" ucap Dinda setelah Ardi menyodorkan sebuah gelas di depannya.


"Ehem" Ardi berdehem "Dinda buru buru pulang gak?" tanya Ardi sembari menopang dagunya dengan tangan kanan.


"Engga kak" jawab Dinda "Biasanya kak Dimas ngajak jalan, sekarang kak Dimas jarang ajak Dinda jalan".


"Iya kah" sergah Ardi pura pura terkeju "Dimas udah sibuk kayanya" sambungnya.


Ardi kemudian bercerita banyak hal yang membuat Dinda sesekali tersenyum bahkan tak jarang Dinda tertawa karena cerita konyol Ardi, Ardi sesaat merasa terlena karena senyum Dinda hingga melupakan tujuan utamanya menemui Dinda, lalu Dinda yang sudah nyaman dengan Ardi mulai curhat tentang hubungannya dengan Dimas yang masih menggantung, bahkan beberapa minggu ini Dimas tekesan selalu menghindari Dinda.


"Kak Dimas kenapa ya akhir akhir ini kaya menghindar dari Dinda kak?"


"Mungkin udah ada yang baru" Ardi langsung menutup mulutnya pura pura baru saja keceplosan "Maksud gue mungkin Dimas lagi fokus belajar".


Dinda menatap wajah Ardi lekat lekat


"Kak Ardi bohong kan?" tanya Dinda dengan tatapan tajam


"Engga kok Din" kilah Ardi


"Kak Ardi kan sahabat kak Dimas pasti kak Ardi milih melindungi kak Dimas" ucap Dinda dengan nada sedih.


Wajah Dinda langsung murung tiba tiba, namun Ardi justru menampilkan senyum iblis di bibirnya.


"Masuk perangkap" gumam Ardi dalam hatinya.


"Aduh cantik jangan sedih dong" Ardi pura pura merasa bersalah "Kak Ardi bantu mau gak?" tawar Ardi.


"Bantu apa kak?" Ardi tersenyum licik setelah umpannya di makan oleh Dinda.


Ardi kemudian menceritakan rencananya pada Dinda, Ardi berencana akan mempertemukan Dimas dan Dinda, besok saat istirahat pertama Ardi akan menjemput Dinda ke kelas kemudian Ardi antar ke kelasnya untuk kemudian bertemu dengan Dimas, Ardi jamin Dimas tidak akan bisa mengelak jika Dinda datang ke kelas mereka.


"Ah gak mau kak, Dinda gak berani ke kelas kak Ardi" tolak Dinda, Dimas memang pernah memberi ultimatum pada Dinda agar jangan pernah Dinda menemuinnya di sekolah apalagi di kelas jika bukan Dimas yang memintannya.


"Dinda tenang aja, kak Ardi yang tanggung jawab kalau Dimas marah" bujuk Ardi.


Dinda terdiam menimbang nimbang keputusannya, di lain sisi dia takut akan Dimas yang marah, tapi dia juga ingin bertemu Dimas karena Dimas yang selalu menghindar darinya.


"Dimas udah punya pacar baru di kelas" ucap Ardi setengah berbisik.


Sring...... Kilatan kemarahan tiba tiba muncul di mata Dinda setelah mendengar penuturan Ardi, nafasnya naik turun menandakan dirinya yang tengah emosi, tangannya tekepal erat.


Brak..... Dinda tiba tiba menggebrak meja yang membuat Ardi terkejut dan spontan mengumpat.


"Bangs*t".


Dinda menatap tajam pada Ardi.


"Sorry kaget" Ardi tersenyum sembari menggaruk tengkuknya.


"Jemput Dinda besok di kelas kak" ucapnya dengan suara berat di sertai tatapan tajam.


Ardi tersenyum penuh kemenangan, bibirnya menyunggingkan senyum licik.


"Dengan senang hati" jawab Ardi seraya mengangguk.


"Dinda tunjukkan pesona mu" ucap Ardi dalam hati sembari menatap Dinda yang masih terlihat bersungut sungut.


Ardi tentu saja tidak menyia-nyiakan moment, dia bahkan memberi arahan pada Dinda tentang apa saja yang harus Dinda tanyakan pada Dimas besok, Ardi bahkan tak segan memberi Dinda saran untuk menghajar pertigaan Dimas jika besok Dimas membuat Dinda emosi.