I Am Home

I Am Home
Salah paham



Daisi masih tertunduk, bahunya terlihat bergetar menandakan tangisnya yang belum reda, Daisi merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan hubungannya dengan Dimas.


"Dais"


Daisi mengangkat kepalanya, senyum segera mengembang di bibirnya ketika melihat orang yang dia tunggu telah berdiri di depannya.


"Noval" Daisi menghapus sisa air mata di pipinya "Duduk Val" ucapnya sembari menepuk kursi kosong di sebelahnya, Noval pun langsung duduk sembari mengucapkan terimakasih.


Orang yang tadi di hubungi oleh Daisi adalah Noval, semenjak kejadian di kelas waktu itu dimana Noval dan Amar menyindir Daisi, hubungan Noval dan Daisi lebih dekat, seringkali Daisi meminta masukan dari Noval terkait hubungannya dengan Dimas, Noval yang sebelumnya tidak pernah ikut campur dalam masalah asmara para sahabatnya entah kenapa ketika Daisi yang meminta tidak dapat dia tolak, prinsip yang dia pegang selama ini dimana Noval tidak ingin dekat dengan wanita manapun dan dengan alasan apapun tiba tiba hilang begitu saja ketika Daisi masuk ke dalam hidupnya dengan alasan ingin memperbaiki hubungannya dengan Dimas.


"Kenapa lagi?" tanya Noval lembut, Noval seakan menjadi orang lain ketika berhadapan dengan Daisi.


Daisi menggeleng "Sama sepeti biasa" jawabnya.


Huh.... Noval menghela nafas panjang, ini memang bukan pertama kalinya dia menemui Daisi dalam keadaan menangis, karena setiap Daisi merasa putus asa dan ingin menyerah karena sikap Dimas, dia selalu menghubungi Noval.


"Terus apa yang lo mau lakukan kali ini?" tanya Noval, Daisi mengedikkan bahunya.


"Aku juga gak tau"


"Lo masih sayang sama Dimas?" tanya Noval kembali.


Daisi mengangguk.


"Lo masih mau berjuang?"


Daisi mengedikkan bahunya kali ini.


"Dais lihat gue" Daisi mengangkat kepalanya menatap mata Noval, tatapan mata Noval memang selalu menenangkan ketika Daisi sedang gundah.


"Keputusan ada di tangan lo, lo yang ngejalanin hidup lo, gue gak akan bilang lo harus bertahan atau lo harus menyerah karena lo sendiri yang tahu mana yang terbaik" Noval berbicara dengan tegas sembari menatap mata Daisi lekat lekat.


"Lo masih kuat bertahan?"


Daisi terdiam sesaat mendengar pertanyaan Noval, ingin rasanya Daisi menyerah namun dalam lubuk hatinya dia masih menyayangi Dimas.


"Gue sayang sama Dimas, tapi gue gak bisa menahan perasaan gue yang setiap hari semakin sakit karena sikapnya" Daisi kembali terisak, Noval mengelus lembut bahu Daisi.


"Apa lo nyaman ketika berada di sisi Dimas dengan segala bayang bayang Anna?"


Daisi menggeleng.


"Apa lo bisa jauh dari Dimas?" Daisi menatap mata Noval kembali.


"Aku gak tau Val karena aku belum mencobanya, selama ini aku nyaman dalam pelukan hangat Dimas"


Mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing masing, sampai kemudian.


"Peluk aku Val?"


"Hah" Noval terkejut.


Noval segera menggeser duduknya, dia kemudian menarik tubuh Daisi kedalam pelukannya, Daisi terdiam sembari menarik nafas dalam, dia tengah merasakan kahangatan pelukan Noval.


"Aku udah tahu jawabannya?" ucap Daisi yang membuat Noval menautkan alisnya.


"Aku hanya terlalu bergantung pada Dimas, aku hanya takut kehilangan pelukan yang dapat menenangkan ku, ternyata selama ini aku tidak benar benar sayang pada Dimas" jelas Daisi yang membuat Noval terkejut.


"Pelukan mu lebih menenangkan dari pelukan Dimas" Noval langsung menganga mendengar penuturan Daisi, hingga tanpa sadar Noval mengelus kepala Daisi, di bawah alam bawah sadar Noval sesungguhnya dia juga merasa nyaman dengan Daisi.


Mereka kembudian berbincang beberapa hal, Noval berusaha mengalihkan fokus Daisi terhadap Dimas, ketika mereka tengah tertawa tiba tiba seseorang menarik kerah baju Noval dari belakang.


"Brengs*ek" umpat Dimas, tanpa menunggu dia kemudian langsung memberikan pukulan tepat di wajah Noval.


Bugh....


Daisi langsung menjerit ketika melihat Noval tumbang karena pukulan Dimas.


"Men tenang men, lo salah paham men" ucap Noval sembari memegang pipinya yang tadi di pukul Dimas.


"Gak tau diri lo, anji*g" Dimas kembali menerjang tubuh Noval yang masih terduduk di lantai, melihat hal itu Daisi langsung berteriak, teriakan Daisi menarik perhatian orang orang yang ada di situ, beberapa orang langsung menarik tubuh Dimas dan menjauhkannya dari Noval yang sudah terkapar, Noval sama sekali tidak membalas pukulan Dimas, bahkan menahan pukulan Dimas pun tidak dia lakukan, semata agar tidak terjadi kesalah pahaman yang lebih panjang.


"Tega teganya lo selingkuh di belakang gue" Dimas menunjuk Daisi "Lo sahabat gue kenapa lo nusuk gue dari belakang" tatapan tajam Dimas berikan pada Noval.


"Men gue bisa jelasin semuanya" ujar Noval di sela sela rintihannya karena merasa sakit di seluruh bagian wajahnya.


Dimas bermaksud kembali memukuli Noval, namun cengkraman dari beberapa orang membuatnya tidak berkutik.


"Gue gak butuh penjelasan lo" ucapnya dengan nada tinggi kepada Noval "Lo ambil aja cewe murahan itu" cibirnya sembari menatap jijik pada Daisi.


Plak.....


Daisi menampar wajah Dimas dengan sangat keras, dia tidak terima Dimas menyebutnya murahan.


"Jaga mulut kamu Dimas" maki Daisi.


"Cih" Dimas meludah di tepat di depan Daisi "Gue salah udah nganggep lo sebagai Anna, lo gak ada apa apanya di banding Anna, dasar murahan" umpat Dimas.


Noval yang sedari tadi berusaha menahan diri akhirnya terpancing karena Dimas terus memaki dengan kata kata tidak pantas pada Daisi, Noval yang sedari tadi berdiri bebas langsung menendang tubuh Dimas hingga membuat Dimas dan dua orang yang tengah memeganginya terpental ke belakang.


"Lo orang yang gak pernah bersyukur, gak pernah bisa lihat kebaikan orang lain" maki Noval sembari menunjuk wajah Dimas.


Dimas kemudian bangkit, dia menatap Noval dan Daisi dengan sengit.


"Penghianat lo berdua" hardiknya kemudian pergi meninggalkan cafe itu, Noval yang awalnya ingin mengejar Dimas mengurungkan niatnya ketika Daisi menahannya.


"Percuma kamu jelasin pada Dimas sekarang, lebih baik hubungi orang yang bisa nenangin Dimas" saran Daisi.


Noval mengangguk, dia kemudian langsung menghubungi Amar, Noval kemudian menceritakan apa yang barusaja terjadi antara dia, Daisi dan Dimas pada Amar, lalu Noval meminta Amar untuk menghubungi Namira.


Noval tahu satu satunya orang yang bisa menenangkan Dimas saat ini adalah Namira, tanpa banyak bertanya Amar langsung mengiyakan permintaan dari Noval.