I Am Home

I Am Home
Mama Gue



Mama Dimas berjalan dengan anggun masuk ke dalam ruangan BK, langkahnya berhenti sembari pandangan matanya mengedar ke dalam ruangan tersebut, terlihat 4 orang berada di ruangan, 2 orang yang diyakini sebagai guru, 1 orang ayah Aldo dan satu orang adalah Ardi.


"Permisi" ucapnya ketika berada di pintu ruangan.


"Saya mamanya Ardi" Mama Dimas memperkenalkan diri sebagai mama Ardi.


"Silahkan masuk bu" ucap guru BK sopan


"Terimakasih" jawab mama Dimas tidak kalah sopan.


Diskusi antara kedua guru BK dan ayah Aldo serta mama Dimas di mulai setelah sedikit berbasa basi, walaupun diskusi berlangsung sedikit alot namun tidak ada ketegangan yang terjadi, pembawaan mama Dimas yang tenang dan penuh wibawa membuat semua orang yang ada di sana segan untuk bersuara lantang.


"Saya sebagai mama Ardi meminta maaf sebesar besarnya pada ayah Aldo" ucap mama Dimas dengan tulus, senyum manis tidak lupa dia sertakan di setiap kata yang di ucapkan.


"Kalau masalah maaf itu mudah bu, tapi kondisi anak saya tidak bisa langsung sembuh dengan ucapan maaf dari ibu" ujar ayah Aldo dengan suara pelan, ayah Aldo lebih tenang sekarang dari pada sebelum kedatangan mama Dimas, pesona mama Dimas mampu meluluhkan emosi dari ayah Aldo.


"Saya tahu pak, tapi alangkah baiknya jika masalah ini selesai dengan cara kekeluargaan saja" tuturnya lembut di sertai senyum manis.


"Tapi saya belum bisa terima dengan kondisi anak saya bu" sanggah papa Aldo.


"Lalu bagaimana supaya bapak bisa menerima?" tanya mama Dimas dengan nada suara mendayu, kedipan matanya serasa mampu menghipnotis siapapun di ruangan itu, kecuali Ardi.


"Ng... Aannu..." ayah Aldo tiba tiba merasa gugup mendapat senyum manis dengan tatapan teduh dari mama Dimas, Ardi yang melihat hal itu berusaha menaha tawanya yang sudah sedari tadi ingin dia keluarkan.


"Giliran ketemu mama keok lo, tadi sok garang" ucap Ardi dalam hati melihat ekspresi wajah dari papa Aldo.


"Bagaimana pak?" tanya mama Dimas berusaha memperjelas ucapan dari ayah Aldo.


Kegelisahan ayah Aldo di sadari oleh guru BK, guru BK yang juga seorang laki laki merasa terpesona dengan mama Dimas, namun untuk menjaga wibawanya dia berusaha menahannya.


"Begini saja pak, ibu, kami dari pihak sekolah akan memberikan hukuman skorsing bagi Ardi bagaimana" ucapnya memberi solusi.


"Duh pak guru" Mama Dimas merubah posisi duduknya menghadap guru BK, lalu tersenyum manis, guru BK yang di tatap dan di senyumi oleh senyum manis mama Dimas langsung gelagapan.


"Memang tidak ada hukuman lain pak, kalau di skors kasihan Ardi, sebentar lagi kan ujian kenaikan kelas"


Tatapan memohon dengan wajah memelas langsung menggoyahkan kewibawaan guru BK.


"Ng.. anu bu"


Guru BK berbicara tergagap, dia begitu gelisan saat ini, lebih gelisah dari pada ayah Aldo tadi.


"Saya serahkan keputusan pada ayah Aldo saja" ucap guru BK cepat, dia harus segera mengalihkan pandangannya atau wibawanya jatuh karena terjerat pesona mama Dimas.


"Loh kok saya?" menunjuk diri sendiri "Kan bapak guru di sini" ayah Aldo yang awalnya ingin menghukum Ardi dengan tangannya sendiri kini malah memilih menyerah saja, dari pada dia yang wibawanya jatuh.


"Tapi kan tadi ayah Aldo juga mau menghukum Ardi sendiri" balas guru BK tidak mau kalah.


"Itu kan tadi.. eh..." Ayah Aldo langsung menghentikan ucapannya ketika menyadari tatapan mama Dimas kini beralih padanya.


"Bagaimana pak? bisa kan kita damai saja" tanya mama Dimas yang seakan mengerti situasi saat ini.


Untuk hukuman Ardi mama Dimas berjanji akan menghukumnya sendiri, dengan di sertai kedipan mata membuat ayah Aldo reflek menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu saya ucapkan terimakasih pak" mama Dimas menjabat tangan ayah Aldo kemudian menjabat tangan guru BK.


Ardi langsung tertawa terpingkal pingkal ketika keluar dari ruang BK, jika tidak di tegur oleh mama Dimas mungkin Ardi akan tertawa lebih keras.


"Aduh maaf ma, habisnya guru BK sama ayah Aldo langsung keok gitu pas ketemu mama awalnya aja sok garang" ucap Ardi sembari masih berusaha menahan tawanya.


"Sudah sudah jangan ketawa lagi" ucap mama Dimas sembari merangkul Ardi "Ayo antar mama ke kelas kalian"


Ardi berjalan beriringan dengan mama Dimas, banyak pasang mata memandang ke arah mereka, Ardi yang merupakan jajaran pria tampan di sekolah tentu saja banyak menarik perhatian, di tambah dia perjalan dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik tapi terlihat sangat anggun di usia yang sudah lebih dari empat puluhan itu.


"Paling mereka di kantin ma" ucap Aldo ketika tidak mendapati ketiga sahabatnya di dalam kelas.


"Ayo ke kantin"


Ardi dan mama Dimas kemudian melajutkan langkahnya untuk menuju kantin, dari kejauhan terlihat 3 orang yang tengah tertawa tawa di kantin, tentu saja mereka pasti tengah menertawakan kejadian di ruang BK, karena tanpa sepengetahuan yang lain Dimas tadi menguping dari luar.


"Kalian malah ketawa tawa di sini" tegur mama Dimas ketika sudah berada di dekat mereka.


"Loh ma" Dimas terkejut akan keberadaan sang mama.


"Mama" Amar dan Noval menyalami mama Dimas secara bergantian.


"Minum apa ma?" tawar Ardi setelah duduk di sebelah Noval.


"Samain aja sama kalian" jawab mama Dimas.


"Bunda" Ardi berteriak "Es teh manis dua ya" lanjut Ardi setelah mendapat perhatian dari pemilik kantin.


"Kamu ini Ardi teriak teriak, mama kaget tau" mama Dimas mengelus dadanya sedangkan Ardi hanya tersenyum bodoh seperti biasa.


Ardi tersenyum sembari menggoda mama Dima "Mama kaget aja lucu" hal yang langsung di balas oleh cibiran ketiga sahabatnya.


Mereka kemudian berbincang ringan, tentang kondisi sekolah, tidak lupa mama Dimas menasihati keempat sahabat itu agar tidak lagi berkelahi.


"Iya ma, Ardi pasti nurut, tapi gak tau yang lain" ucap Ardi sembari menunjuk ketiga sahabatnya.


"Kan ada mama yang luar biasa" Dimas tersenyum tengil "Kalau kita berkelahi pasti urusan selesai kalau mama turun tangan" sambung Dimas yang di balas tatapan tajam sang mama "Hehehe, hebat kan mama gue" ucapnya dengan sombong di depan ketiga sahabatnya.


"Lah, mama gue juga kali" Ardi tidak terima.


"Mama gue".


"Mama gue".


Ardi dan Dimas terus beradu mulut tanpa tahu malu padahal banyak pasang mata yang tengah menatap ke arah mereka, mama Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.