
Dimas sudah mengenakan pakaian santai, tidak formal seperti biasanya, Dimas hanya mengenakan kaos di balut dengan blazer yang memiliki warna senada di tambah celan jeans dan sepatu kets yang menyempurnakan penampilannya.
Setelah mengendarai mobil selama beberapa menit dari rumah sakit tempatnya bekerja kini Dimas sudah berada tepat di depan gerbang sebuah gedung berlantai 10 dengan nama universitas yang cukup terkenal tertulis di depannya, dia kemudian mengeluarkan ponsel lalu mengirimkan pesan singkat pada seseorang.
"5 menit lagi aku turun" balasnya setelah mendapat pesan singkat dari Dimas.
Dimas lalu keluar dari mobil, dia memasang gaya se cool mungkin untuk menyabut Namira, di pikirannya sudah terbayang ekspresi wajah Namira yang terkejut nantinya, dengan menyilangkan tangan di depan dada Dimas berdiri membelakangi gedung itu, persiapan yang sempurna seperti di sinetron yang pernah dia tonton.
"Dokter Dimas" terdengar suara yang sudah sangat dia kenali memanggil namanya, suara yang sudah lebih dari 10 tahun tidak dia dengar, suafa yang lebih indah dari pada alunan musik apapun, perlahan Dimas memutar tubuhnya dengan ekspresi dingin yang melekat di wajahnya.
Dimas langsung melongo ketika melihat Namira tengah tertawa cekikikan sembari berjalan menuju ke tempatnya berdiri, bayangan wajah Namira yang terkejut mendadak sirna, tidak ada Namira yang berjalan gontai dengan tangan menutup mulutnya seperti bayangan Dimas, justru Dimas melihat Namira yang tengah tertawa sembari memasang tatapan mengejek.
"Kamu tidak terkejut?" tanya Dimas dengan tatapan kecewa ketika Namira sudah berdiri di depannya.
"Kamu berharap aku terkejut" Namira kembali tertawa "Baiklah"
"Dimas" Namira mengguncang tubuh Dimas pelan "Benar kamu Dimas, ya Tuhan apa aku bermimpi" ucapnya sembari berusaha menahan tawa.
"Acting mu jelek" cibir Dimas sembari merengut.
Melihat hal itu bukannya bersimpati justru Namira tertawa terpingkal pingkal.
"Sudahlah ayo masuk" Dimas yang sudah tidak tahan mendengar tawa mengejek dari Namira akhirnya membukakan pintu mobil, Namira kemudian masuk ke dalam sembari tersenyum jenaka.
Dimas melajukan mobilnya menjauh dari kampus tempat Namira mengajar, ekspresi wajahnya terlihat masam, Dimas tengah kesal karena Namira terus saja tertawa, suara tawa yang terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Dimas.
"Kamu sungguh bahagia bertemu dengan ku" ketus Dimas yang merasa jengkel karena Namira terus menertawakan dirinya.
"Oh aku sungguh bahagia sekali Dimas, aku tak menyangka bertemu kembali dengan mu, sampai aku tidak harus dengan cara apa aku berterimakasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita kembali" jawab Namira sembari tersenyum lebar.
"Bisakah berhenti mengejek ku?" sungut Dimas.
Namira kembali tertawa, dia merasa lucu melihat ekspresi Dimas saat pertama kali bertemu tadi, wajah Dimas yang terlihat cool tapi di buat buat membuat Namira tidak dapat menahan tawanya.
"Bagaimana kamu bisa langsung mengenaliku?" tanya Dimas setelah Namira berhenti tertawa.
"Kamu ini dokter tapi bodoh sekali" cibir Namira.
"Apa kamu baru saja mengatai ku, Heh...!? Sungut Dimas.
Namira kembali tertawa yang membuat Dimas langsung menekuk wajahnya.
"Kalau kamu masih tertawa lebih baik aku langsung pulang setelah mengantar mu" ancam Dimas.
"Baiklah baiklah tuan dokter yang ngambekan"
Dimas berdecih kesal.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku"
"Yang mana?" Namira tersenyum sembari mengedipkan matanya.
"Kenapa kamu begitu menyebalkan sekarang" ucap Dimas dengan tatapan tajam.
"Lalu apa kamu terkejut begitu tahu jika aku yang menolong mu?" tanya Dimas penuh harap.
"Apa kamu benar benar ingin melihat ku terkejut" balas Namira dengan tatapan mengejek.
"Sudah lah, kamu benar benar menyebalkan Namira" ketus Dimas.
Namira kemudian mencerikan jika sebenarnya Namira sempat tersadar ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia awalnya tekejut begitu mendapati Dimas tengah mengemudikan mobilnya, namun untuk menyembunyikan rasa terkejutnya Namira memutuskan untuk berpura pura masih pingsan, setelah sampai di ruang UGD Namira langsung membuka matanya setelah tahu jika Dimas tidak ada di situ, untuk memastikan jika memang yang dia lihat adalah Dimas yang Namira kenal, maka Namira mencari informasi tentang Dimas di rumah sakit, setelah mendapat informasi itu Namira yakin bahwa dia tidak salah, orang di tambah dengan informasi yang ada di internet tentang Dimas, membuat keyakinannya lebih besar.
"Setidaknya kamu sempat terkejut" komentar pertama yang Dimas berikan setelah Namira selesai bercerita.
"Apakah itu menghibur mu?"
"Kau!" Dimas menatap tajam Namira "Menyebalkan" lanjutnya, Namira kembali tertawa melihat ekspresi wajah Dimas.
"Berhentilah tertawa" kesal Dimas "Dimana rumahmu?"
"Apa kamu akan menginap di rumahku malam ini?"
Ting... Namira mengedipakan mata untuk menggoda Dimas.
Arggggg...... Dimas benar benar kesal dengan Namira, bagaimana Namira yang dulu sangat ketus kini berubah menjadi Namira yang menjengkelkan.
"Apa perutmu sakit?" tanya Namira karena mendengar Dimas menggeram.
"Telingaku yang sakit"
Namira mengulum senyum "Aku bisa merekomendasikan dokter THT terbaik untuk mu".
"Terimakasih atas perhatianmu, tapi apa kamu lupa jika aku seorang dokter"
"Sombongnya" Namira mencubit lengan Dimas karena merasa gemas.
Mereka berbincang dengan serius, tidak ada lagi tawa mengejek dari Namira dan tak ada ekspresi wajah kesal dari Dimas, beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Dimas sampai di parkiran sebuah restaurant.
"Terimakasih" ucap Namira seraya menyambut uluran tangan Dimas setelah pintu mobil terbuka dari luar.
Dua manusia yang pernah memiliki cerita masa lalu itu bejalan bergandengan tangan masuk ke dalam restauran, meskipun puluhan tahun tak berjumpa, namun tidak ada rasa sungkan atau jarak yang menjadikan suasana canggung di antara mereka.
"Cokelat hangat?" tanya Namira ketika Dimas memesan minuman yang sama dengan puluhan tahun lalu, cokelat adalah minuman kesukaan Dimas, dan Namira masih mengingat hal itu.
"Seleraku tidak pernah berubah" jawab Dimas "Termasuk terhadap wanita" ucapnya sembari menatap mata Namira.
Namira hanya tersenyum simpul tanpa ada keinginan untuk membalas ucapan Dimas, mungkin Namira merasa terlalu cepat apa bila mereka harus membicarakan masa lalu yang belum selesai.
Mereka menikmati makan malam dalam keheningan, satu hal yang Namira lihat berbeda dari sosok Dimas sekarang, Dimas telah berubah menjadi sosok yang lebih kaku dan tidak banyak bicara, tak seperti Dimas yang dulu, Dimas yang selalu menggodanya dengan berbagai hal konyol yang terucap dari mulutnya.
"Aku senang bertemu kembali dengan mu"
Dimas hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Namira, padahal dalam hatinya ingin sekali dia berteriak jika dia juga sangat senang bertemu kembali dengan Namira.