I Am Home

I Am Home
Memungut sampah



Setelah kejadian perdebatan dalam perjalanan mengantar Namira pulang waktu itu, Dimas tidak lagi mengubungi Namira, Namria yang selalu menghubungi Dimas tak pernah dia respon, tak terhitung berapa pesan yang Namira kirim yang hanya di baca tanpa Dimas balas, tak terhitung berapa kali ponsel Dimas berdering setiap harinya karena panggilan dari Namira.


Bukannya Dimas egois, dia hanya ingin menjaga jarak dari Namira, entahlah firasatnya mengatakan jika dia akan kembali merasakan sakit jika tetap melanjutkan hubungannya dengan Namira.


Dimas yang saat ini telah berbeda dengan Dimas yang dulu, dia tidak pernah mau mendewakan cinta yang justru selalu membuatnya terluka, perkataan dari Noval saat Dimas menghadiri pesta pernikahannya membuat Dimas berubah "Jangan pernah lagi hancur karena cinta men, kalau dia memang jodohmu sejauh apapun kamu pergi pasti akan kembali bertemu, tapi jika dia bukan jodohmu seerat apapun kamu menggenggamnya pasti akan terlepas".


Dimas percaya kata kata itu karena Noval tidak hanya bicara tapi dia memberikan bukti, dia bersanding dengan orang yang sangat tidak di sangka sangka oleh the bad boys.


Dimas baru saja menjalani operasi yang sangat melelahkan, selama hampir enam jam dia berkutat di ruang operasi, tubuhnya terasa sangat letih, dia bahkan menyeret langkahnya keluar dari ruang operasi.


Dimas berjalan pelan menuju ruang kerjanya, sesekali dia membalas sapaan dari para staff rumah sakit yang mengenalnya walau hanya dengan senyum tipis, saat sudah berada dekat dengan ruang kerjanya langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang tengah menunggunya.


Dimas kemudian mendekati orang yang tengah duduk di depan ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya Dimas pada Namira.


"Kamu kemana aja sih Dim, aku hubungi gak pernah kamu jawab" ucapnya dengan wajah sendu.


"Sibuk" jawab Dimas sembari memasukkan kombinasi angka untuk membuka pintu ruang kerjanya.


"Masuk" ucap Dimas setelah pintu terbuka.


Namira melangkah masuk terlebih dahulu kemudian di ikuti Dimas "Duduk di situ" Dimas menunjuk sebuah sofa yang ada di ruangannya "Aku ganti baju dulu" Dimas berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Silahkan" Dimas menyerahkan sebotol minuman ringan, dia sudah mengenakan baju baru.


"Terimakasih" Namira menerimanya sembari tersenyum.


"Bukain" ucapnya manja setelah mendapati jika tutup botol minuman itu belum terbuka, Dimas menyambutnya tanpa berucap apapun, kemudian kembali menyerahkan botol yang sudah terbuka pada Namira, lalu Dimas duduk di depan Namira.


"Ada apa?" tanya Dimas setelah Namira selesai minum dan meletakkan botolnya di atas meja.


"Kamu kenapa sih Dim?" kesal Namira atas sikap Dimas.


"Tidak apa apa" acuh Dimas.


"Tidak mungkin" sergah Namira "Kamu seakan menghidariku, pasti ada alasan kamu melakukan itu, Kenapa Dim?


"Bukankah kamu sendiri yang bilang jika aku sibuk tidak perlu menemui mu?" sinis Dimas.


"Buka begitu maksudku".


"Lalu?" Dimas menautkan alisnya.


Huh..... Namira menghela nafas.


"Lupakan saja" lirihnya "Sekarang aku mau tanya kamu kenapa?"


"Kamu tanya kenapa?" Dimas tersenyum tipis "Sebelum kamu tanya kenapa pada orang lain seharusnya kamu tanya dulu pada dirimu sendiri" Dimas menunjuk ke arah Namira.


"Sebelum kamu tanya kenapa aku begini, harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri apa kesalahanmu sehingga membuat aku begini"


"Pulang dan istirahatlah, aku harus segera pergi ada operasi darurat" ucap Dimas memberi alasan, sesungguhnya dia sangat tidak mood untuk lebih lama bersama Namira.


"Gak mau" rajuk Namira "Kalau aku salah aku minta maaf, tapi aku minta jangan begini, aku bukan cenayan yang bisa baca pikiran orang lain" ucapnya masih dalam posisi duduk.


"Apa kamu sudah kehilangan kemapuan mu dalam mebaca pikiran orang?" cibir Dimas teringat jika dulu Namira sangat gemar belajar ilmu psikologi, bahkan Namira pernah berkata jika dia bisa mengetahui seseorang berkata jujur atau bohong dari ekspresi wajahnya.


"Dim" Namira menatap Dimas dengan tatapan memohon "Jika aku salah aku mohon kasih tahu kesalahanku, percuma aku selalu minta maaf tapi aku tidak tahu kesalahanku" ucapnya dengan kristal bening yang mulai menumpuk di bola mata indahnya.


"Lebih tepatnya tidak menyadari kesalahanmu" cibir Dimas.


"Maaf" lirih Namira.


Huh...... Dimas menghembuskan nafas berat.


Namira langsung menitihkan air mata mendengar penuturan Dimas, hatinya terasa sakit.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Dim?" ucap Namira di sela sela tangisnya.


"Aku hanya tidak mau mengalami sakit untuk kedua kalinya dengan berharap padamu"


Namira masih tergugu dalam tangisnya.


"Jalani hidup mu kembali tanpa kehadiranku seperti sebelumnya, aku juga akan menjalani hidup ku tanpa kehadiran mu, jika kamu ingin kita masih tetap bisa berteman seperti ucapan mu tempo hari"


Deg......


Namira langsung menyadari kesalahannya, tanpa dia tahu sikap dan perlakuan yang dia berikan sejak bertemu dengan Dimas seakan memberi harapan bagi Dimas, namun dia juga yang menghancurkannya.


Namira langsung luruh terduduk di depan Dimas, dia memposisikan dirinya seakan sedang memohon pada Dimas, Namira sudah tak peduli apapun lagi, persetan dengan harga diri, dia tidak mau kehilangan Dimas karena ke egoisannya lagi, cukup satu kali dia menyakiti dirinya karena keegoisannya sendiri.


"Apa kamu sedang memungut sampah yang sudah kamu buang dulu?" sinis Dimas.


Namira tetap bergeming walau Dimas sedang menghina harga dirinya.


"Duduklah, aku tidak ingin terkesan sebagai tokoh antagonis di sini".


Namira menggeleng.


"Baiklah tetaplah seperti ini, tapi ingat jangan pernah berharap lagi, aku tidak akan menepati janjiku dulu yang aku ucapkan saat perpisahan kita"


Namira mengangkat wajahnya, dia bingung dengan apa yang di maksud oleh Dimas, seingatnya Dimas tak pernah berjanji apapun padanya, setelah menatap wajah Dimas dan merlihat keseriusannya Namira kemudian bangkit dan kembali duduk di atas sofa.


Dimas kemudian bercerita tentang apa yang di ucapkannya saat itu, tentang janjinya yang akan menagih jawaban dari Namira, tentang janjinya yang akan kembali pulang dalam pelukan Namira, tentang janjinya yang akan memperjuangkan Namira sekali lagi.


"Aku sudah membukakan pintu untukmu, apa kamu tidak ingin masuk?" ucap Namira setelah Dimas selesai bercerita.


"Aku bahkan ingin mendobrak pintu itu saat pertama kali bertemu dengan mu, tapi ketika aku melihat ada orang lain yang akan bertamu aku lebih memilih untuk pulang"


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Leo"


"Leo?" tanya Dimas yang merasa asing dengan nama itu.


"Namanya Leo, orang yang kamu lihat sangat akrab denganku" terang Namira, Dimas pun mengangguk pelan.


"Jika kamu tidak mau menepati janjimu, aku yang akan memohon" Namira menatap wajah Dimas "Aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus semua kebodohanku di masa lalu" pinta Namira dengan tulus.


Dimas dapat melihat ketulusan di mata Namira, bohong jika Dimas tidak ingin mengulang kisah indahnya dulu bersama Namira, bohong jika Dimas tidak lagi mengharapkan kehadiran Namira dalam hidupnya, tapi rasa kecewa dan sakit yang Namira tinggalkan dulu masih tersisa dalam hatinya.


"Kamu tahu hal yang paling menyakitkan setelah kepergianmu dulu, bahkan rasa sakit itu masih terasa nyata sampai hari ini?" Namira menggeleng.


"Rasa sayang untuk mu, karena rasa sayang itu bahkan aku tidak bisa membencimu sedetik pun" ucap Dimas sembari menatap nanar.


Namira bangkit, dia langsung melangkah mendekati Dimas, Namira langsung memeluk erat Dimas, dia tenggelamkan kepalanya di dada Dimas.


"Beri aku satu kesempatan Dim untuk menebus semua kesalahan dan kebodohanku di masa lalu"


"Apa kamu yakin akan kembali memungut sampah yang telah kamu buang" Namira menggeleng.


"Aku sedang mengambil berlian yang telah aku buang dulu, aku sangat menyesal karena mengira berlian dalam genggaman ku adalah samapah" jawab Namira dengan yakin.


"Baiklah, buktikan semua ucapan mu".


Namira langsung mempererat pelukannya setelah Dimas membalas pelukan itu, dia menangis bahagia dalam pelukan Dimas.


"Semoga keputusanku tidak akan membuatku menyesal nanti" ucap Dimas dalam hati, entahlah Dimas merasa ada sedikit ganjalan dalam hatinya.