
Dimas tengah duduk di dalam mobilnya, pandangan matanya tak pernah lepas dari gerbang sekolah Namira, Dimas sudah pasrah dengan hubungan mereka, biar Tuhan yang menentukan, saat ini yang bisa Dimas lakukan hanya menyusuri jalan takdirnya.
Lamunanya buyar ketika suara ketukan kaca terdengar, Dimas langasung mengembangkan senyum di wajahnya setelah tahu siapa yang mengetuk.
"Hay" sapa Dimas dengan mata genit setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Genit banget si" ucap Namira sembari tertawa riang.
Dimas terkesiap seketika melihat Namira tertawa, ada rasa perih dalam hatinya ketika membayangkan Namira akan pergi begitu saja setelah tahu masa lalu Namira.
"Kemana kita boy?" Tanya Namira membuat Dimas menautkan alisnya.
"Boy?"
"Yes, boyfriend" Namira cekikikan melihat ekspresi wajah Dimas yang tersipu.
"Ke mall aja gimana girl" jawab Dimas.
"Lets go" ucap Namira penuh semangat, Dimas hanya melongo.
"Kok malah diam si boy"
"Lo gak nanya kenapa gue panggil girl"
"Udah tahu" Namira memiringkan kepalanya "Girlfriend kan" jawabnya sembari mengerlingkan mata.
"Ah gak seru" Dimas mengusap kepala Namira dengan gemas.
Sesaat Dimas menatap wajah Namira yang terlihat sangat ceria dengan senyum manis menghiasi wajah ayu nya.
"Tuhan jika boleh meminta satu hal, hentikan lah waktu saat ini, agar bisa melihat tawa itu selamanya" Doa Dimas dalam hati.
"Ayo jalan kok malah ngelamun"
"Cuma lagi bingung aja?"
"Bingung?" Namira menggeser posisi duduknya menghadap ke arah Dimas.
"Ada bidadari turun ke bumi kok malaikat gak nyariin"
"Basi" Namira menepuk lengan Dimas dengan manja.
Dimas melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Namira, sepanjang jalan Namira terus tertawa mendengar celotehan Dimas, wajahnya sesekali tersipu ketika Dimas menggodanya.
Mobil sampai dengan selamat di parkiran sebuah mall, Dimas segera turun kemudian membukakan pintu mobil untuk Namira, lalu dia menggandeng tangan Namira masuk ke dalam mall.
"Sekalian cari kado ya Dim?" Pinta Namira sesaat setelah mereka masuk ke dalam mall.
"Kado? Buat siapa?" Tanya Dimas.
Deg......
Dimas berhenti, tubuhnya sedikit kaku, langkahnya terasa berat mengetahui Dinda akan ulang tahun, sudah bisa di pastikan hari itu merupakan hari penghakiman bagi Dimas.
"Ayo ish" Namira menarik tangan Dimas "Kok malah begong" ucapnya kemudian.
Dimas mengikuti langkah Namira dengan perasaan tak menentu, awalnya Dimas semangat ketika menjemput Namira, dia sudah membayangkan hal hal indah yang akan mereka berdua lakukan, namun semua bayangan Dimas sirna seketika setelah mendengar Namira yang menyebut Dinda.
Mereka melangkah masuk ke salah satu toko yang menjual aneka barang khusus perempuan.
"Beli apa ya Dim yang bagus?" Tanya Namira sembari melihat lihat barang yang ada di dalam toko tersebut.
"Adik mu perempuan?" Tanya Dimas, Dimas berharap supaya Namira memiliki adik selain Dinda yang akan berulang tahun.
"Perempuan, adik ku cuma satu Dinda namanya" jawab Namira yang masih fokus melihat beberapa barang "Nanti aku kenalin ya" jawabnya seraya mengambil salah satu baju yang tergantung di etalase toko.
Dimas mematung, tidak ada kesempatan lagi pikirnya.
"Dim"
"Eh...." kaget Dimas.
"Dari tadi bengong terus si, kaya lagi banyak pikiran gitu" ucap Namira.
"Gak kok, kecapean aja tadi di sekolah habis ujian praktik olahraga" elak Dimas.
"Oh gitu, yaudah kamu duduk aja di situ" Namira menunjuk kursi yang di sediakan untuk duduk tamu "Aku pilih barang dulu ya" Lanjutnya.
Dimas mengangguk patuh, dia kemudian berjalan ke arah kursi tunggu itu, di hempaskannya tubuh Dimas ke atas kursi, kakinya seakan tidak bisa menopang berat tubuhnya.
Pandangan matanya mengikuti gerak gerik Namira yang terlihat sesekali tersenyum ketika memperhatikan barang yang menurutnya bagus untuk kado.
"Gue udah siap Mir kalau lo pergi, setidaknya lo pergi bukan karena lo yang menginginkan tapi karena gue yang emang gak pantes buat lo" ucap Dimas dalam hatinya.
Dimas harus segera menguatkan hati agar tidak terlalu sakit ketika Namira pergi, kesedihan pasti ada setidaknya Dimas tidak terpuruk ketika Namira pergi.
"Dim" panggil Namira.
"Udah?" Tanya Dimas.
Namira menunjukkan sebuah paper bag, lalu menggoyangkkannya tepat di depan Dimas.
"Makan dulu kita" ajak Namira yang langsung diangguki Dimas.
Dimas menggenggam erat tangan Namira serasa itu adalah hari terakhirnya menggenggam tangan Namira.