
Hubungan Dimas dan ketiga selirnya terlihat sangat harmonis, Dimas seorang buaya yang sangat ahli dalam berkilah dan meluluhkan hati wanita membuat dia dengan mudah menyembunyikan hubungan tersebut, apalagi dia seakan di berkahi dengan kelebihan dalam berbicara, mulut manis Dimas selalu berhasil menenangkan ketiga selirnya ketika merajuk.
Setelah kejadian panas di kamar Amar waktu itu, Dimas seakan sudah kecanduan dengan pelepasan bersama Anita, sering kali mereka melakukannya, melakukan perbuatan yang dalam perhitungan Dimas masih dalam batas wajar, Anita yang selalu menuruti kemauan Dimas pun membuat Dimas semakin terlena, namun Dimas masih memegang prinsipnya untuk tidak mengambil sesuatu yang berharga pada Anita.
Hubungan dengan Anna pun masih mesra seperti biasa, jika ada waktu Dimas akan selalu bermanja bersama Anna, sesekali juga mereka keluar berdua untuk sekedar nongkrong di cafe atau menghabiskan waktu di Mall.
Dinda, selir Dimas yang merupakan wanita tercantik kelas 1 Dimas tempatkan sebagai cadangan, Dimas terus menjaga hubungan baik dengan Dinda, mereka lebih sering bertemu di kantin, tak jarang Dimas menggoda Dinda.
The bad boys masih seperti biasa, agenda mereka hanyalah nongkrong di kantin bunda ketika istirahat, jadwal rutin nongkrong di rumah Amar tak pernah mereka lewatkan, akhir akhir ini hidup the bad boys datar datar saja tidak pernah ada masalah yang berarti, hanya sesekali Ardi yang masih sering di labrak cewe, Noval sudah menjalani hidup layaknya pelajar biasa, sokongan yang di berikan oleh mama Dimas sangat cukup untuk membiayai hidupnya dan keluarga.
Jam kosong menjadi waktu favorit the bad boys untuk bersantai, Dimas sedang bermanja dengan Anna di belakang ruang kelas, dia merebahkan badannya dengan paha Anna sebagai bantal, wajahnya menghadap ke perut Anna, Anna membelai lembut kepala Dimas yang membuat Dimas semakin nyaman.
"Dim"
"Hmm" jawab Dimas malas.
"Nanti anter pulang ya"
"Waduh" hari ini jadwal Dimas bersama Anita.
Dimas dan Anita tidak memiliki ikatan apapun, Anita yang tidak menuntut status hubungan mereka membuat Dimas senang, apalagi pelayanan yang di berikan Anita sang kakak kelas cantik membuat dimas tidak rela membagi waktunya walau hanya sebentar saja.
"Kayanya gak bisa hari ini Ann".
"Kenapa?"
"Kenapa ya?"
"Aku mau servis mobil Ann"
"Ya sudah" rajuk Anna.
"Aduh" Dimas harus segera memutar otak, dia tidak bisa membiarkan Anna merajuk terlalu lama.
"Kamu mau nunggu di rumah Amar dulu gak?" Dimas baru saja menemukan sebuah ide cemerlang.
"Kenapa harus nunggu?"
Dimas kemudian menjelaskan jika dia akan servis mobil di daerah barat, setelah servis selesai baru Dimas akan menjemput Anna di rumah Amar.
"Aku bisa ikut".
"Mampus"
"Mmmm, yaudah gue servis mobilnya besok hari ini khusus buat lo waktu gue".
"Ih Dimas" manja Anna sembari mencubit gemas hidung Dimas.
"Ntar malem aja lah sama Anita, dari pada runyam" pikir Dimas dalam hati.
Mereka kembali bermesraan, terdengar suara cekikian dari mulut Anna ketika dimas menggelitik perut Anna dengan wajahnya, terlihat seperti pasangan yang sangat harmonis, hingga tiba tiba.
"Anna"
Dimas dan Anna kompak menoleh ke arah sumber suara, Dimas kembali ke posisi semula setelah melihat jika orang yang baru saja memanggil Anna adalah Aldo, sedangkan Anna hanya terlihat santai saja, tidak ada kepanikan sama dekali di wajahnya, tidak seperti orang yang sedang ketahuan selingkuh.
"Ann" Aldo kembali memanggil Anna dengan suara lirih.
"Anna!" Aldo yang sudah kehilangan kesabaran pun membentak Anna.
"Anji*g" umpat Noval yang merasa terganggu, dia pun bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan menghampiri Aldo.
"Woy!" teriak Noval tepat di depan wajah Aldo "Lo masuk kelas orang gak izin, gak ada sopan sopannya malah teriak teriak, mau jadi jagoan lo" Noval mendorong tubuh Aldo dengan cukup keras sehingga Aldo sampai mundur beberapa langkah.
"Gue gak ada urusan sama lo" jawab Aldo sembari menatap tajam Noval.
Noval mendungus kesal, dia langsung mencekik leher Aldo, tubuh Aldo di dorong oleh Noval hingga rapat dengan dinding, kemudian......
Bug......
Eugh.....
Aldo langsung melenguh kesakitan setelah pukulan Noval mendarat di perutnya, Noval yang ingin memberi pelajaran lebih mengurungkan niatnya ketika Dimas mencegahnya.
"Men" Dimas angkat suara, dia kemudian menggelengkan kepala memberi kode pada Noval.
"Ann lo ajak dia ngomong di luar aja, lo gak mau kan liat si Noval ngamuk di kelas kaya tempo hari" ucap Dimas sembari duduk.
Anna pun tersenyum manis lalu mengangguk, dia kemudian berdiri menghampiri Aldo.
"Kita bicara di luar" tidak ada lagi senyum manis di wajah Anna ketika berbicara dengan Aldo, hanya wajah judes yang Anna berikan, Anna kemudian berjalan melewati aldo menuju ke luar kelas.
Mereka berdua kini sudah duduk di pelataran kelas.
"Anna bisa gak kamu hargain perasaan aku" pinta Aldo sembari menahan sesak di dadanya "Sedikit saja Ann".
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Ann kamu sadar gak sih aku ini pacar kamu".
Anna tersenyum miring, dia tatap wajah Aldo kemudian terkekeh pelan.
"Kamu yang anggap aku pacar aku si engga" ketus Anna.
Aldo terus berbicara menyudutkan Anna, hal yang membuat Anna bukannya luluh justru semakin merasa geram.
"Do denger ya, aku gak pernah minta kamu jadi pacar aku dan aku gak pernah minta kamu untuk bertahan" Anna menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Tapi kamu juga gak minta aku pergi Ann".
"Hahahaha" Anna tertawa sinis "Aku gak minta kamu buat datang terus ngapain harus minta kamu pergi" Sinis Anna, dia kemudian berdiri masuk ke dalam kelas meninggalkan Aldo yang tenggelam dalam kebisuan.
Memang benar Aldo lah yang selama ini mengejar Anna, Aldo yang meminta Anna untuk menjadi pacarnya tanpa tahu bagaimana perasaan Anna kepadanya, mungkin orang lain akan menilai Anna sebagai tokoh yang jahat di sini namun Aldo lah yang membuat Anna menjadi jahat dalam hidupnya, andai saja Aldo tidak mendekati Anna, andai Aldo tidak meminta Anna untuk menerimanya menjadi pacarnya tentu saja tidak akan ada rasa sakit yang Anna berikan.
Aldo kemudian berdiri pergi meninggalkan kelas Anna, dia menoleh sesaat dan memandang kelas Anna dengan tatapan sendu, kepalanya kemudian tertunduk, Aldo menyeka buliran air mata yang tiba tiba keluar dari sudut matanya.
"Makasih Ann atas rasa sakit ini" ucapnya dalam hati sebelum akhirnya Aldo benar benar menjauh dari kelas Anna.