
"Namira oh Namira" Gumam Dimas ketika mengingat gadis cantik yang telah merebut perhatiannya, setelah pertemuan pertama mereka di cafe waktu itu, Dimas selalu berkomunikasi dengan Namira melalui dunia maya, sering kali Dimas mengajak untuk bertemu namun dengan berbagai alasan Namira selalu menolak, hal tersebut membuat Dimas penasaran.
"Buktikan pesonamu pria tampan" monolog Dimas menyemangati diri sendiri.
Di lain sisi, aktifitas belajar mengajar sudah di mulai semenjak tiga hari lalu, selama tiga hari pula Anna belum terlihat, beberapa kali Dimas menghubungi Anna namun tidak mendapat jawaban, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir.
"Bengong aja men" tegur Ardi ketika Dimas hanya termenung saat mereka berada di kantin.
"Lagi banyak pikiran gue"
"Tua lo, sok sokan banyak pikiran" cibir Amar.
"Kenapa men?" Noval, ya Noval si pria dingin yang tidak mau ikut campur urusan pribadi sahabatnya membuka suara, pertanda ada perubahan yang ketara pada diri Dimas.
"Mikirin Namira gue" ucap Dimas "Eh.. maksud gue Anna".
Ardi mengkerutkan dahinya menatap Dimas.
"Siapa Namira?"
"Temen cewe gue" jawab Amar.
"Anying malah mikirin selir baru" gerutu Ardi.
"Terus Anna kenapa?" ketiga orang lainnya pun sontak menoleh ke arah Noval, sembari menyipitkan mata mereka bertiga menatap penuh tanya, tidak biasanya Noval ingin tahu masalah yang berkaitan dengan para selir Dimas.
"Men lo sehat kan?" Ardi menempelkan telapak tangannya di kening Noval.
"Apa si anying" sungut Noval sembari menepis tangan Ardi.
Dimas kemudian menceritakan kegelisahannya, Anna yang terakhir kali berpamitan ingin liburan ke sebuah pulau saat hari pertama mereka libur, lalu hingga hari ini tidak ada kabar juga, bahkan sepengetahuan Dimas tidak ada surat keterangan yang di kirimkan oleh Anna untuk memberi alasan ketidak hadirannya, apalagi Anna tidak pernah membalas pesan yang Dimas kirim atau mengangkat panggilan darinya.
"Hmm" Noval nampak berfikir "Kalau sampe besok gak ada kabar lo samperin rumahnya men, gue temenin sekalian"
"Hah" Dimas, Ardi dan Amar sontak menoleh, menatap Noval sembari menelisik perubahan ekspresinya.
"Kayanya kurang tidur dia men" ucap Ardi sembari melihat ke arah Dimas dan Amar secara bergantian.
"Bisa juga salah makan" Kata Amar sembari mengangguk.
"Kurang sentuhan wanita menurut gue". Dimas.
Mereka bertiga akhirnya sibuk menerka nerka apa yang terjadi dengan Noval, Noval hampir tidak pernah ikut berbicara atau sekedar mendengar jika ketiga sahabatnya itu sedang membahas tentang wanita, bahkan Noval selalu menolak jika diajak ikut nongkrong dengan para selir Dimas atau yang lainnya dengan alasan tidak masuk akal.
"Men" Ardi menatap Noval dengan penuh tanya.
"Apa" jawab Noval acuh.
"Lo sehat kan?" tanya Ardi.
"Mata lo yang gak sehat" kesal Noval.
Noval sadar diri jika apa yang baru saja dia lakukan memang terlihat aneh di mata para sahabatnya, tapi Noval punya alasan sendiri kenapa dia juga mengkhawatirkan Anna.
"Kak Dimassshhh" suara manja yang bercampur dengan ******* juga di dalamnya menarik atensi the bad boys.
"Eh.. Dinda" Dinda langsung mengalungkan tangannya di leher Dimas kemudian mengecup pipi Dimas.
"Apa kabar kak Dimas? tersenyum manja "Long time no see" Dinda duduk merapat di sebelah Dimas.
"Baik Din" jawab Dimas singkat.
Setelah terjalin hubungan simbiosis mutualisme antara Dimas dan Dinda, membuat Dinda tak canggung menampakka kemesraan di depan umum, hal itu membuat Dimas merasa tak nyaman.
"Kak minggu depan ada waktu?" tanya Dinda.
"Waktu?" beo Dimas.
"Iya" Dinda mengangguk "Temenin Dinda ke acara ulang tahun kakak ya" pintanya dengan mimik wajah menggemaskan.
"Mmmmm" Dimas mencoba menimbang nimbang, ada rasa enggan dalam hati Dimas untuk mengabulkan permintaan Dinda.
"Bisa ya?" pinta Dinda "Bisa kan?" lanjutnya sembari bergelanjut manja "Pasti bisa!" kecup pipi Dimas yang membuat Dimas reflek mengangguk.
"Ye, makasih kak Dimas ganteng, muah" setelah mencium pipi dimas untuk kesekian kalinya Dinda langsung berlari meninggalkan kantin.
"Ck.. ck.. ck.." Ardi berdecak kagum "Gila gila pesona Dinda bisa membuat seorang buaya kelas kakap mendadak jadi beg*".
"Hahahaha" Amar tertawa keras "Muka lo gak enak banget men pas ngangguk tadi" menunjuk muka Dimas.
"Puyeng gue ngadepin Dinda lama lama men" keluh Dimas, terlihat sedikit raut penyesalan di wajahnya.
"Anjir buaya curhat coy" celetuk Amar yang di sambut gelak tawa oleh Ardi, Noval tetap dalam mode acuhnya.
Dimas kemudian menceritakan tingkah Dinda yang menurutnya sangat menyebalkan akhir akhir ini, Dinda selalu memaksakan kehendak, banyak maunya dan selalu memaksa, membuat Dimas tidak lagi menaruh simpati pada Dinda.
"Itu akibat udah kejerat lobang men" cibir Ardi.
The bad boys sudah tahu sejauh apa hubungan Dimas dan Dinda, bukan karena Dimas yang menceritakan aib nya, justru Dinda lah yang tak sengaja memberi tahu, saat Dimas sedang berada di rumah Amar, Dinda mengirim pesan mengajak Dimas bertemu dengan alasan rindu kehangatan Dimas, karena sata itu Ardi tengah meminjam ponsel Dimas tanpa sengaja dia membaca pesan itu, sontak saja Ardi langsung menginterogasi Dimas, Dimas berkilah jika bukan dia yang pertama untuk Dinda, alasan itulah yang membuatnya lolos dari belenggu kemarahan Ardi.
"Terua gue harus gimana".
"Lo jauhin pelan aja, jaga jarak aman mulai sekarang".
Dimas mengangguk menyetuji saran yang di berikan oleh Ardi.
"Kalau biasanya seminggu lima kali lo bobol gawang dia, kurangin men mulai sekarang"
Dimas mengangguk.
"Cukup empat kali" ucap Ardi yang dibalas tatapan tajam Dimas dan Amar.
"Sama aja beg*" maki keduanya.
Perbincangan pun terus berlanjut membahas hubungan Dimas dan Dinda, Amar dan Ardi berusaha memberi solusi terbaik untuk Dimas bisa perlahan lepas dari jerat kenikmatan Dinda.
"Puyeng kepala gue men" ucap Dimas sembari meminit kepalanya.
"Kepala atas atau kepala bawah" gurau Amar.
"Serius jing" kesal Dimas.
Belum selesai permasalahan Anna yang seolah hilang tanpa kabar, di tambah lagi Dinda yang semakin lama semakin menjerat Dimas dalam dekapan kenikmatan, meskipun pada awalnya Dimas yang selalu meminta Dinda untuk melakukan hubungan, namun lama kelamaan Dimas menjadi jengah, bukan karena rasa yang berbeda, tapi karena sikap Dinda yang semakin posesif dan menjerat Dimas.