I Am Home

I Am Home
Dimas mahendra aku mencintaimu



PoV Anna


Gemas, satu kata yang bisa aku ungkapkan saat pertama kali bertemu dengannya, pertemuan yang tak pernah aku rencanakan ternyata membawa ku ke dalam rasa cinta dan sayang yang teramat dalam untuknya, segala kejujurannya, semua ketulusannya dan segala yang ada pada dirinya membuatku jatuh cinta padanya.


Ya, dia adalah Dimas Mahendra laki laki yang memiliki kemauan keras, tidak pernah melihat ke belakang bahkan sekedar menoleh pun mungkin enggan jika hanya untuk merasakan sebuah penyesalan.


Setelah beberapa minggu aku berada di dalam satu angkutan umum dengannya akhirnya hari ini aku bertekad untuk menyapanya, tidak peduli bagaimana responnya yang penting aku harus menyapanya titik.


"Anak SMA 5 juga?" seketika aku meratapi kebodohanku setelah bertanya padanya, jelas jelas di seragamnya tertulis SMA yang sama dengan ku, kenapa aku harus tanya itu si.


"Iya"


Eh.. aku terkejut, benar benar terkejut ketika dia menjawab pertanyaanku, aku kemudian memberanikan diri untuk mencoba bertanya lebih dalam, namun hanya anggukan kepala yang dia berikan.


Huh... kesal rasanaya, aku yang biasa di kejar kejar oleh para laki laki, tak jarang banyak laki laki yang aku tolak ketika mengungkapkan perasaanya padaku, aku selalu mengacuhkan mereka, tapi hari ini aku baru tahu sakitnya di acuhkan, mungkinkan ini karma untukku?


Setiap hari aku selalu memberi perhatian lebih, walau dia terus mengacuhkanku namun aku tak peduli, aku menyapanya, selalu memberikan senyum termanisku untuknya di setiap kita bertemu walau dia sering membalas dengan senyum malas bahkan tak jarang dia tidak membalas sama sekali, namun entah kenapa aku tak pernah merasa kesal atau jengkel, aku justru bahagia hanya dengan melihat wajahnya, ah Dimas apa aku mulai jatuh cinta.


Banyak omongan miring dari orang orang di sekitarku karena aku selalu berusaha dekat dengan Dimas, bahkan tak jarang juga ada yang mencibirku, kebanyakan dari para barisan sakit hati, hehe.


Hingga suatu hari aku melihat dia dan teman temannya berkelahi, aku sangat panik, aku suruh temanku untuk memanggil guru agar memisahkan mereka, aku takut teramat takut jika Dimas ku terluka, namun bukannya berhenti Dimas justru semakin beringas menghajar lawannya, aku tak tahu apa masalahnya, namun setelah tahu aku tertawa terpingkal pingkal, huft maaf ya Dim.


Tak lama setelah kejadian itu sikap Dimas berubah, dia yang biasanya acuh bahkan mungkin tidak pernah menganggap keberadaanku tiba tiba menjadi baik, dia tak jarang memberi perhatian perhatian kecil yang membuatku yakin bahwa aku telah jatuh cinta.


Semua memori Indah yang ada di otakku tiba tiba terganti dengan rasa takut, rasa takut yang teramat sangat, aku takut Dimas pergi karena kesalah pahaman yang terjadi di rumah sakit, aku yang tengah gundah tanpa sadar menyederkan kepala di bahu Aldo, aku tidak tahu Dimas datang dan melihat hal itu, aku bahkan tak berani menatap matanya, aku takut melihat kekecewaan di matanya.


Malam itu aku memutuskan untuk menemui Dimas, apapun resikonya aku harus menemui Dimas, aku tidak mau tenggelam dalam rasa penyesalan.


Berkali kali aku menghubunginya namun tidak ada jawaban, puluhan kali pesan yang aku kirim tidak kunjung pula ada balasan, aku sempat putus asa, tapi hati kecilku berkata jika Dimas pasti datang, aku berjanji pada diriku akan mengungkapkan perasaanku jika Dimas datang, sudah ku buang jauh jauh rasa malu dan gengsi di dalam diriku.


Aku mengulum senyuman ketika melihat Dimas datang menghampiriku, namun senyum itu berubah menjadi tangis pilu ketika aku mendengar ucapannya, aku benar benar menangis dalam keheningan malam.


Secercah harapan datang, Dimas bertanya bagaimana perasanku padanya, tanpa ragu aku menjawab jika aku menyayanginya, jika aku mencintainya dan aku takut kehilangan dia, namun bukan Dimas jika tidak berkelakuan absurd bin aneh, Dimas justru menolakku, dia berkata ingin memantaskan diri dulu, dia juga mencintaiku namun dia tidak ingin memiliki diriku.


Aku terus memaksanya, aku tidak mau kehilangan dia lagi, pokoknya Dimas ku tidak boleh pergi, namun kelembutannya mampu meluluhkan hatiku, tatapannya mampu menghancurkan karang yang keras di kepalaku, aku memang sangat keras kepala dan hanya Dimas yang mampu memecahkan keras kepalaku.


Dalam benak ku bertanya apa maksud Dimas memantaskan diri, apa maksudnya malah memintaku menunggu, hingga beberapa bulan kemudian aku mendapatkan jawabannya, Dimas ku telah berubah, penampilannya sangat jauh berbeda dari sebelumnya, aku pun paham apa yang dia maksud memantaskan diri.


Saat itu ingin rasanya aku mengungkapkan perasaanku namun ketika teringat perkataan Dimas malam itu membuatku mengalah, aku harus menunggu Dimas untuk datang menjemputku.


Namun karena kebodohanku membuat semua angan anganku hancur, ya aku memang bodoh, bahkan sangat bodoh dengan menerima cinta Aldo, ingin rasanya saat itu aku berteriak tidak namun melihat tatapan memohon darinya membuat ku tak tega, Huh.