I Am Home

I Am Home
Dinda tahu



Dimas dan Ardi langsung menuju kantin bunda setelah bell pulang sekolah berbunyi, setelah berdiskusi dengan ketiga sahabatnya Dimas akhirnya memiliki keberanian untuk bertemu Dinda dan membicarakan hubungannya dengan Namira.


Awalnya Dinda menolak permintaan dari Dimas untuk bertemu, sudah terlalu sakit yang Dinda rasakan dan sudah terlalu dalam luka yang Dimas tinggalkan, namun berkat bantuan dari Ardi yang berbicara dengan Dinda akhirnya dia pun mau untuk bertemu Dimas.


"Kenapa men gelisah banget kaya mau ketemu calon mertua" ejek Ardi yang melihat Dimas duduk dengan gelisah, bahkan keringat nampak mengucur cukup deras dari keningnya.


"Nih minum biar asik" Ardi menyodorkan segelas minuman, Dimas menerimanya dan langsung menenggak sampai habis berharap minuman itu bisa mengurangi rasa cemasnya.


"Ck... ck... ck... " Ardi berdecih sembari tersenyum mengejek "Mana pesona buaya lo men" ledeknya.


Dimas hanya memberi tatapan sengit pada sahabatnya yang terus mengejek dirinya.


"Males gue nemenin lo aslinya" keluh Ardi.


"Perhitungan banget lo jadi orang" gerutu Dimas.


"Terakhir gue bantu lo men, lain kali ogah gue" ucap Ardi.


Ardi awalnya malas untuk terlalu jauh ikut campur, namun karena desakan Dimas dan kedua sahabatnya mau tidak mau Ardi harus turun tangan, apalagi syarat dari Dinda jika Ardi harus ikut dalam pertemuan itu akhirnya membuat Ardi ikut duduk di situ.


"Kak Ardi" sapa Dinda yang baru saja sampai di kantin bunda.


"Eh Dinda" Ardi langsung memasang senyum mesumnya "Duduk sini Din" Ardi menunjuk kursi di sebelah Dimas.


"Dinda duduk di sini aja kak" jawab Dinda sembari duduk di samping Ardi.


Ardi tersenyum penuh kemenangan sembari menatap Dimas dengan tatapan mengejek.


"Awas lo" ucap Dimas tanpa mengeluarkan suara.


"Dinda mau minum apa?"


"Dinda minta punya kak Ardi aja boleh?" Ardi langsung mengangguk dengan antusias.


"Ehem" Dimas berdehem cukup keras, dia sudah merasa seperti makhluk astral karena keberadaanya seakan tidak bisa di lihat oleh Dinda.


"Kak Ardi tinggal dulu ya, Dinda bicara sama Dimas berdua" pamit Ardi, Dinda langsung mencekal lengannya.


"Kalau kak Ardi pergi, Dinda juga pergi" ancam Dinda yang membuat Ardi tidak berkutik.


Ardi langsung menatap jengkel pada Dimas, seakan berkata.


"Gara gara lo kunyuk"


"Yaudah kak Ardi gak pergi" Ardi kembali duduk.


"Men buruan" lirih Ardi pada Dimas, Dimas mengangguk.


"Mmm.. Dinda" Dimas mengatur nafasnya "Gue minta maaf" ucapnya dengan tubuh menegang.


"Maaf untuk?" Tanya Dinda ketus.


"Untuk semua salah gue sama lo"


Jawab Dimas.


Dinda langsung terkekeh, Ardi dan Dimas yang melihat hal itu langsung saling tatap.


"Kenapa lo ketawa Din?" Tanya Ardi dengan tatapan bingung


"Sejak kapan manusia gak punya hati bisa minta maaf" jawab Dinda sembari menatap sinis Dimas.


Jleb.....


Ucapan Dinda langsung menusuk dada Dimas dengan sangat keras, sedangkan Ardi sahabat laknat itu malah tertawa terpingkal pingkal mendengar penuturan Dinda.


"Benar kan kak?" Dinda menatap Ardi meminta persetujuan.


"Iya benar" jawab Ardi penuh semangat.


Pletak....


"Aw.." ringis Ardi setelah sebuah korek mendarat dengan sempurna di dahinya.


"Uh... sakit ya kak" Dinda memegang dahi Ardi, Ardi mengangguk manja, Dimas semakin geram melihat tingkah sahabatnya itu.


"Oke Din, gue akui gue jahat sama lo" ucap Dimas cepat.


Dimas kemudian seakan sedang melakukan pengakuan dosa pada Dinda, semua Dimas akui tanpa ada yang dia tutup tutupi, mulai dari Dimas yang hanya memanfaatkan Dinda sebagai penghibur saat dia sedang kesepian, sampai Dimas juga mengaku bahwa Dinda hanya sekedar pelampiasannya saat Dimas sedang gundah atau marah.


"Kamu benar benar jahat kak" tangis yang sedari tadi Dinda tahan akhrinya pecah juga, Ardi segera memeluk Dinda, Dinda menangis sesegukkan dalam pelukan Ardi.


"Maaf Din" lirih Dimas " Tapi bisa kah kita menjalin hubungan baik layaknya seorang teman" pinta Dimas dengan penuh harap.


"Setelah semua yang kamu lakukan sama Dinda dengan gampangnya kamu minta maaf dan meminta berteman baik" Dinda berbicara dengan nada tinggi.


"Jangan harap, bahkan dalam bayangan mu sekalipun jangan pernah bermimpi hal itu akan terjadi" Dinda kemudian melepaskan pelukan Ardi, dia langsung berdiri sembari menatap Dimas dengan sengit.


"Satu lagi" Dinda menunjuk wajah Dimas "Jangan pernah bermimpi bisa dekat sama kak Namira"


Deg.....


Dimas terkejut, sangat terkejut, bagaimana Dinda bisa tahu hubungannya dengan Namira, tidak ada yang tahu hubungan mereka kecuali sahabat dan orang dekat Dimas saja.


Dinda langsung berlari meninggalian kantin, Dimas masih termenung dengan keterkejutannya itu.


"Gue kejar Dinda dulu men" Ardi langsung berlari meninggalkan Dimas yang masih duduk mematung, pikiran Dimas sudah melayang entah kemana, dia tidak bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk jika Dinda bercerita pada Namira.