
Dimas masih duduk termenung di sudut warung kecil itu, dari wajah murungnya terlihat jelas dia sedang banyak beban pikiran, mulai dari Namira yang keberadaannya entah dimana sampai dengan persahabatannya yang terancam hancur hanya gara gara wanita.
"****" maki Dimas tiba tiba, dia baru saja memaki dirinya sendiri memaki kebodohannya sendiri.
Tanpa Dimas sadari di sekitarnya ada beberapa murid SMA sebelah yang tengah nongkrong di situ.
"Maksud lo apa bro?" tanya seorang yang terlihat paling dominan dari ke empat temannya yang duduk tak jauh darinya.
"Apa bro?" tanya balik Dimas dengan nada tinggi.
"Lo nyolot njing" bentaknya
"Kalo gue nyolot masalahnya apa buat lo?" Dimas berdiri.
Mereka saling menatap tajam satu sama lain, deru nafas terdengar saling bersahutan, seketika suasana kacau terjadi, mereka terlibat adu mulut dan saling memaki.
"Ngajak ribut lo?" bentak murid itu.
"Gak ada cowo ribut pakai mulut bangs*t" Dimas langsung memberin pukulan telak di dagu murid itu, beruntung ketika teman temannya akan mengeroyok Dimas pemilik warung langsung memisahkan mereka.
"kalau berani duel kita di depan" ancamnya.
"Jangankan lima kecoa kaya kalian, seratus aja gak ada takut gue" tantang balik Dimas.
Mereka berlima keluar dari warung itu menuju ke tepi jalan dengan di ikuti Dimas di belakangnya, emosi Dimas yang sudah memuncak membuatnya tidak mengenal rasa takut.
Tanpa babibu Dimas langsung menerjang kelima orang itu setelah posisinya cukup jauh dari warung, Dimas bak kesetanan memukul dan menendang ke segala arah, pukulan dari lawan seakan tidak terasa walaupun wajah Dimas sudah babak belur.
Bugh.... tendangan tepat di perut Dimas membuatnya terjungkal, sekuat apapun Dimas akhirnya tumbang juga karena lawan yang tidak seimbang.
Ketika Dimas sudah pasrah saat kelima orang itu berjalan ke arahnya tiba tiba keajaiban terjadi, entah dari mana datangnya Namira langsung menarik tubuh Dimas ke atas motor yang dia pakai setelah itu Namira langsung menancap gas sehingga motor langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Dimas tersenyum ketika menyadari jika Namira yang baru saja menyelamatkannya, Dimas kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Namira, setelah itu dia tidak bisa mempertahankan kesadarannya.
Dimas perlahan membuka matanya ketika suara seseorang yang sedang marah mengusik tidur panjangnya, sejenak Dimas mengerjapkan mata untuk memulihkan kesadarannya.
Senyum langsung mengembang ketika kesadaran Dimas kembali, Dimas menyadari jika saat ini dirinya berada di rumah sakit, di depannya terlihat Namira sedang memarahi ketiga orang sahabatnya yang hanya bisa berdiri mematung sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau ada apa apa sama Dimas lo bertiga gue pastiin ikut berbaring di atas ranjang rumah sakit" hardik Namira.
"Kok lo nyalahin gue si, ide si Amar ini" protes Ardi sembari menunjuk ke arah Amar.
Pletak....
"Aw..." Ardi langsung mengaduh karena kepalanya di pukul Namira dengan cukup keras.
"Masih berani protes lo" Sungut Namira, Ardi langsung menggeleng.
"Lo berdua mau protes juga" Noval dan Amar yang merasa dirinya sebagai tertuduh pun langsung menggeleng.
Dimas tersenyum lebar melihat tingakah Namira, Namira tetaplah Namira gadis bar bar yang Dimas kenal, gadis yang tidak memiliki rasa takut.
"Uhuk.. uhuk..." Dimas berpura pura batuk untuk menarik perhatian mereka berempat.
Namira dan ketiga the bad boys langsung melihat ke arah Dimas, Namira langsung menghambur mendekati Dimas.
"Dim kamu sudah sadar?" Dimas mengangguk lemah.
"Apa yang sakit Dim? katakan apa yang sakit Dimas!" ucap Namira dengan nada tinggi namun terlihat jelas raut wajah khawatir.
"Ini" Dimas menunjuk dadanya.
"Dada mu sakit? apa karena di tendang sama mereka?" Namira memegang dada Dimas.
Dimas menggeleng.
"Dasar" cibir Namira kesal, Namira kemudian mencubit lengan Dimas dengan cukup keras.
"Aduh... aduh..." rintih Dimas.
"Gak usah pura pura aku gak akan percaya" sungut Namira.
Dimas kemudian menaikkan lengan baju pasien yang dia pakai, mata Namira seketika melotot melihat tangan Dimas yang berwarna merah kebiruan.
"Ya ampun Dimas, maaf ya maaf" Namira menyentuh tangan Dimas denga lembut, sementara Dimas tersenyum penuh kemenangan, tiga anggota the bad boys yang melihat modus Dimas hanya bisa mencibir sembari memaki sahabatnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian Anggi dan Daisi masuk ke dalam ruang perawatan Dimas sembari membawa paper bag di tangannya.
"Nih titipan nyokap lo" ujar Anggi dengan nada ketus.
"Mama mana?" tanya Dimas.
"Dasar anak mama" cibir Anggi.
"Anggi" ucap Namira sembari menatap tajam Anggi "Jangan gitu" tegurnya yang hanya di balas senyum kecut oleh Anggi.
"Nyokap lo udah pulang, ntar kesini lagi katanya" jawab Anggi dengan nada tak seketus tadi, Dimas pun mengangguk.
Mereka kemudian duduk mengelilingi ranjang tempat Dimas berbaring.
"Anji*g udah kaya mau mati gue lo pada duduk ngelilingin gue" gerutu Dimas yang hanya di balas senyum mengejek oleh yang lain.
"Men" Dimas menatap Noval.
"Sorry men gue udah salah paham sama lo" ujarnya tulus.
"Santai aja men, kaya baru pertama kali aja lo mukulin gue" gurau Noval yang di balas cengengesan oleh Dimas.
"Daisi" Dimas kini menatap Daisi, dia sudah tidak lagi memanggil Daisi dengan sebutan Ais.
"Gue minta maaf atas semua kesalahan gue, gue minta maaf karena obsesi gue bikin lo sakit hati" terlihat raut wajah penyesalan Dimas.
"Iya Dim, aku udah lupain semua kok" jawab Daisi dengan lembut.
"Iya lah udah ada yang baru pasti cepet lupa" celetuk Ardi sembari melirik Noval, semua pandangan pun langsung mengarah ke arah Noval.
"Lah apaan kenapa bawa bawa gue?" ucap Noval dengan wajahnya yang memerah.
"Muka lo aja merah men, masih mau ngeles aja lo" timpal Amar yang membuat Noval salah tingkah.
"Udah men santai aja gue ngerestuin hubungan lo berdua" Dimas ikut menggoda Noval.
"Emang lo bokapnya Daisi sok sokan kasih restu lo kambing"
Gelak tawa seketika memecah kecanggungan yang terjadi antara Dimas, Daisi dan Noval, mereka semua kemudian melanjutkan obrolan seakan tidak pernah terjadi masalah apapun.
"Sekali lagi gue minta maaf pada lo semua, khususnya lo bertiga" Dimas menunjuk ke arah tiga sahabatnya.
"Gak perlu kata maaf buat persahabatan men, persahabatan di atas segalanya" jawab Noval yang di angguki kedua sahabatnya.
"Lo gak minta maaf sama Namira" celetuk Anggi.
Dimas langsung mentap Namira.
"Namira bakal maafin gue walaupun gue gak minta maaf"
"Pede abis" cibir Anggi.
Namira hanya tersenyum malu, ketika mendapati Dimas tengah menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang, akhirnya sore itu di tutup dengan momen yang sangat indah, walaupun Dimas harus terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.