I Am Home

I Am Home
Jangan pernah Meminta maaf



Dimas duduk termenung sendiri, Amar baru saja pergi karena di paksa Anggi untuk menemui Namira di depan, entah mengapa Dimas merasa tidak siap bertemu Namira, jiwa buaya nya mendadak hilang menguap begitu saja.


Karena merasa bosan Dimas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang pesta itu, tanpa sengaja pandangannya bersitatap dengan seorang yang sangat dia kenal, orang itu adalah Aldo, Aldo tengah menatap Dimas dengan penuh kebencian.


Huh.......


Dimas menghela nafas panjang, dia kemudian memutuskan untuk pulang, karena jika Dimas terus berada di situ sudah bisa di pastika dia akan terlibat pertengkaran dengan Aldo, Dimas mengirim pesan terlebih dahulu pada Dinda, Dimas beralasan badanya terasa sangat tidak enak.


Di sisi lain Anna tengah menatap ponselnya dengan tersenyum, dia baru saja menerima kiriman video dari Aldo, tidak ada aura kemarahan atau kecemburuan di wajah Anna, Anna justru mengulas senyum manis melihat video kedekatan Dimas dan Dinda.


"Setidaknya kamu bisa bahagia ketika aku pergi" monolog Anna, dia kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah.


...****************...


Ke esokan harinya.


Anna tengah duduk di bangkunya, bibirnya terus menebarkan senyum manis, matanya menatap lekat layar ponselnya, sesekali terdengar suara tawa pelan dari bibir mungilnya, di tatapnya wajah seorang pria yang sangat dia sayangi di dalam video itu, ekspresi yang di tunjukkan sangatlah lucu dan menggemaskan.


"Ann"


"Dimas" Anna terkejut mendapati Dimas yang sudah berdiri di sampingnya, dia yang terlalu fokus menonton video itu hingga tidak menyadari.


Mata Dimas melirik layar ponsel Anna.


Deg....


Jatung Dimas berdetak dua kali lebih cepat, nafasnya langsung memburu dengan keringat yang tiba tiba keluar dari dahinya, Dimas baru saja melihat video dia dengan Dinda di layar ponsel Anna.


"Ann, gue bisa jelasin" ucap Dimas.


"Jelasin?" Anna terlihat bingung.


"Itu" Dimas menunjuk ponsel Anna melalui ekor matanya.


"Eh..." Anna yang sekarang terkejut, dia lupa jika ponselnya masih memutar video Dimas dan Dinda.


Anna segera menutup aplikasi pemutar video, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam laci meja.


"Ann" panik Dimas.


"Kenapa si Dimas panik gitu kaya orang baru ketahuan selingkuh" ejek Anna seraya tertawa pelan.


Dimas segara meraih tangan Anna, mengajak Anna untuk menuju ke tempat biasa mereka bermesraan saat waktu istirahat tiba, dengan perlahan Dimas mendudukkan Anna di atas permadani yang sudah di gelar di belakang kelas.


Tanpa berbasa basi Dimas langsung menjelaskan terkait video itu, Dimas bercerita tentang hubungannya dengan Dinda pada Anna, namun Dimas masih menyembunyikan terkait sejauh apa hubungannya dengan Dinda, Dimas hanya takut jika Anna akan menjauh setelah mengetahui hubungan dirinya dengan Dinda, sudah tidak terhitung berapa kali Dimas meminta maaf di sela sela ceritanya itu, Anna mengulum senyum melihat tingkah Dimas.


"Jangan pernah meminta maaf" ujar Anna sembari memberikan senyum terbaiknya setelah Dimas selesai bercerita.


"Eh..." Dimas terpekik melihat reaksi Anna, Dimas kira Anna akan marah marah setidaknya memberi tamparan di wajah Dimas, namun faktanya Anna justru tersenyum sembari berbicara dengan sangat lembut.


"Sebesar apapun kesalahanmu aku akan memaafkan itu tanpa kamu minta maaf, setidaknya aku bisa memastikan kamu bahagia sebelum aku pergi".


Dimas diam seribu bahasa berusaha mencerna setiap kata kata Anna.


"Maksudnya?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah bingung.


"Hahaha" Anna tertawa "Duh aku jadi ngelantur bicara mungkin karena cemburu" Anna mengedipkan sebelah matanya, sesungguhnya Anna tengah berusaha menutupi rasa gugupnya karena hampir saja dia keceplosan.


"Gitu ya" ucap Dimas dengan ekspresi wajah bodohnya.


Dimas berusaha mempercayai ucapan Anna, namun insting tajam yang dia miliki merasa ada sesuatu yang telah Anna sembunyikan, Dimas segera menepis perasaan itu, dia mencoba untuk berfikir positif.


"Ann aku mau nanyi sebuah lagu, mau denger gak" Anna mengangguk dengan antusias, Dimas segera mengambil gitar yang berada di pojokan ruang kelas, dia langsung segera memposisikan dirinya di depan Anna.


...----------------...


Bila aku harus mencintai


Namun bila ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa cinta


Element - Rahasia hati.


...----------------...


"Itu janji gue ke lo Ann" ucap Dimas setelah selesai menyanyikan lagu itu.


Anna menggeleng.


"Kamu harus bahagia meskipun tidak bersama ku" lirih Anna.


"Kebahagiaan gue kalau sama lo Ann" kekeh Dimas.


"Terserah kamu, intinya kamu harus tetap bahagia walau itu tidak bersamaku"


Dimas akhirnya mengangguk pasrah karena Anna terus mendebat ucapannya.


Anna mengulas senyum, dia mati matian menahan supaya air matanya tidak tumpah.


"Aku gak akan pergi sebelum memastikan kamu bahagia" ucap Anna dalam hati kemudian menghambur memeluk Dimas.


Dimas terus bercengkrama dengan Anna, Anna menampilkan senyum manis terkadang tertawa karena mendengar celotehan Dimas, walau sebenarnya Anna sedikit merasa risih karena ada seseorang yang terus menatapnya dengan tatapan tajam.


Ardi mengajak Noval ke kantin untuk membeli minum, awalnya Dimas enggan tapi karena Anna meminta di belikan minum akhirnya Dimas mau juga beranjak dari duduknya.


"Sampai kapan Ann?" tanya Noval setelah Dimas pergi ke kantin untuk membeli minuman yang di inginkan Anna.


Anna tertunduk lalu dia mengedikkan bahunya.


"Sampai kapan lo bohongin Dimas dengan rahasia itu?" ucap Noval dengan suara tegas.


"Sampai aku siap" lirih Anna.


"Sampai kapan pun lo gak akan siap Ann" Noval bangkit dari duduknya, dia berjalan perlahan mendekat Anna.


"Biar gue yang ngomong kalau lo gak siap"


Noval berdiri di depan Anna dengan posisi tangan yang menyilang di depan dada.


"Jangan" sahut Anna.


"Aku mohon Val" Anna menatap mata Noval dengan tatapan memohon "Setidaknya aku bisa menikmati sisa waktu dengan kebahagiaan tanpa ada embel embel apapun" pinta Anna dengan tulus.


Huh..... Noval menghela nafas.


"Gue gak tahu sampai kapan mulut gue bisa terkunci buat jaga rahasia ini"


Mereka saling menatap satu sama lain, Anna menatap Noval dengan tatapan memohon sedangkan Noval menatap Anna dengan tatapan tajam penuh intimindasi.


"Serius banget men" ucap Dimas ketika baru saja tiba, dia langsung duduk di sebelah Anna.


Noval sedikit terkejut dengan kedatangan Dimas dan Ardi, dia yang tengah fokus menatap Anna tidak menyadari kedatangan kedua sahabatnya itu.


"Lagi ngobrol masalah pelajaran" kilah Noval berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Wih tumben lo" celetuk Ardi yang ikut duduk di sebelah Dimas.


Noval langsung menatap Ardi tajam.


"Biasa aja kali" sengit Ardi yang mendapat tatapan tajam dari Noval "Minum dulu nih biar asik" Ardi melempar sebotol minuman ringan pada Noval.


Noval menerimanya kemudian kembali ke bangkunya meskipun Dimas mengajaknya bergabung, Noval merasa bersalah ketika melihat senyum bahagia di wajah Dimas ketika bersama Anna.