I Am Home

I Am Home
Lo bukan sahabat gue



Dimas telah berada di ruang UKS, Anna dengan telaten dan penuh kasih sayang mengobati luka di wajah Dimas, sesekali dia meniupnya berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit, Noval yang tidak memiliki banyak luka luar langsung di bawa keruang BK.


"Kamu kenapa beratem terus si Dim?" tanya Anna sembari menempelkan plaster luka di pelipis Dimas.


"Hehehe"


"Di tanya malah senyum senyum gak jelas" gerutu Anna yang melihat Dimas tersenyum.


"Gue suka kalau lo lagi manyun manyun gitu" cubit gemas pipi Anna.


Anna hanya bisa terdenyum malu malu mendapat perlakuan manis dari Dimas.


"Ehem" Ardi datang menghancurkan moment indah mereka berdua.


"Ganggu lo" ketus Dimas.


"Buruan di tungguin di ruang BK, mama udah datang" timpal Ardi.


"Lo balik ke kelas aja Ann, gue ke ruang BK dulu"


"Aku ikut" rajuk Anna.


Dimas melihat ke arah Ardi, Ardi kemudian menggeleng tidak setuju, dengan senang hati Dimas akhirnya menggunakan jurus andalan untuk membujuk Anna, elus elus kepala, uyel uyel pipi, terakhir kecup manja di pipi Anna yang merona.


"Najis" gerutu Ardi melihat hal itu.


"Lo ke kelas ya" pinta Dimas dengan suara lembut, dengan reflek Anna mengangguk.


"Cium lagi" ucapnya manja sembari jari lentiknya menempel di dahinya.


Cup.....


"Udah" ucap Dimas "Balik ke kelas ya" lirihnya.


Anna mengangguk sembari tersenyum lebar kemudian berpamitan untuk kembali ke kelas.


"Buaya buaya" cibir Ardi setelah Anna pergi.


...****************...


Ruang BK


Dimas masuk ke ruang BK sendiri, Ardi hanya mengantar Dimas sampai ke depan pintu ruangan BK, mama Dimas menyambut kedatangan sang putra dengan cubitan di lengan, dia merasa terkejut melihat kondisi Dimas dengan baju yang sudah terkoyak sana sini di tambah banyaknya plaster luka yang menempel di wajahnya.


Dimas pun duduk di depan Noval, Noval langsung memberikan tatapan tajam, namun dia harus mengontrol emosinya, mungkin jika tidak ada mama Dimas di situ Noval sudah menyerang Dimas kembali, emosinya belum mereda.


"Pak guru bisa beri saya waktu sebentar untuk bicara dengan dua anak nakal saya ini" pinta mama Dimas yang langsung di balas anggukan kepala oleh guru BK.


"Jadi siapa yang akan menjelaskan dulu pada mama" lanjutnya.


"Noval" menatap Noval "Atau Dimas" melihat ke arah Dimas.


"Noval yang pukul Dimas duluan ma"


"Apa" pekik mama Dimas pura pura terkejut, padahal dia sudah tahu rencana Dimas.


"Lebay" ucap Dimas dalam hatinya melihat ekspresi berlebihan yang di berikanmamanya.


"Maaf ma" Noval menunduk karena melihat gurat kekecewaan di wajah mama Dimas.


"Kenapa Noval pukul Dimas?" tanya mama Dimas sembari berpura pura marah.


Huh.... Noval menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia malas untuk bercerita, namun mengingat kebaikan mama Dimas dan tidak ingin membuatnya kecewa akhirnya dia bercerita semuanya, tentang kondisi keluarganya, tentang Noval yang merasa tersinggung.


Tes.... bulir air mata keluar dari bola mata indah mama Dimas ketika mendengar penuturan Noval tentang kehidupannya, ibu Noval pergi meninggalkan Noval dan ayahnya setelah sang ayah hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, kini Noval harus menanggung semua beban keluarganya, mengurusi sang ayah dan membiayai sekolah adiknya.


Dimas terkejut mengetahui fakta itu, Dimas tak menyangka kehidupan Noval lebih berat dari apa yang dia kira sebelumnya, penyesalan langsung timbul dalam hatinya, dia merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat.


"Kenapa kamu tidak bicara sama mama sayang" mama Dimas langsung memeluk tubuh Noval dengan erat sembari berusaha menahan air mata yang keluar dengan deras.


Pertahanan Noval jebol, dia yang berusaha memendam semuanya sendiri hari ini merasa tidak kuat, dia langsung terisak di dalam pelukan hangat mama Dimas, pelukan seorang ibu yang harusnya di berikan oleh ibunya untuk memberi semangat dalam menghadapi segala kesulitan yang tengah dia hadapi.


Dimas hanya diam melihat dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya sedang menangis sambil berpelukan, tangannya terkepal erat berusaha menguatkan hati yang terasa sangat sakit mendengar penuturan Noval.


"Mulai sekarang jangan hadapi sendiri, ada mama di sini yang menjadi tempat kamu berkeluh kesah" membelai lembut kepala Noval.


Noval hanya diam tenggelam dalam isakan, terlalu berat beban yang dia tanggung, sekuat apapun Noval dia tetaplah remaja yang belum saatnya menanggung semua beban kehidupan itu, namun demi sang ayah dan adik Noval rela menelan kepahitan hidup itu sendiri, dia berusaha tegar dan tidak mengeluh.


Setelah kembali tenang mama Dimas menawarkan akan membantu semua keperluan keluarga Noval, Noval pada awalnya menolak namun setelah mendapat ancaman dari mama Dimas akhirnya membuat Noval hanya bisa pasrah.


"Sampai Noval lulus SMA biar mama yang urus semua keperluan keluarga Noval ya" ucap mama Dimas dengan penuh kasih sayang.


"Jangan ma, Noval sungkan terlalu merepotkan mama" ucap Noval.


"Ini perintah bukan penawaran" tegas mama Dimas.


"Gak ada yang di repotin men, lo bukan sahabat gue tapi saudara gue" Dimas kemudian berdiri dan memeluk Noval.


Semenjak obrolan di kamar Amar saat Dimas baru masuk ke SMA dulu, Dimas telah berjanji pada dirinya sendiri akan membalas semua kebaikan dari para sahabatnya bahkan di kehidupan selanjutnya jika bisa, ketiga orang itu pun tersenyum bahagia satu sama lain, saling menguatkan dan mensuport.


Setelah semua bisa di atasi Dimas dan Noval kembali ke kelas, mama Dimas meminta pada guru BK untuk tidak memperpanjang masalah ini karena semua sudah berhasil mama Dimas selesaikan, guru BK tanpa banyak berfikir langsung menyetujui permintaan mama Dimas.