I Am Home

I Am Home
Tetap bertahan



Pagi hari, ketiga personel the bad boys masuk ke dalam kelas dengah senyum lebar, sepanjang jalan menuju sekolah Ardi menceritakan keberhasilannya dalam mempengaruhi Dinda untuk menemui Dimas, hal yang di sambut baik oleh Noval dan Amar.


"Kenapa lo bertiga?" tanya Dimas dengan tatapan penuh curiga melihat ketiga sahabatnya masuk kelas dengan rona bahagia.


"Pagi Daisi cantik" Ardi langsung meraih tangan Daisi kemudian mengecupnya.


"Kampret lo main pegang aja" sungut Dimas yang langsung mendorong tubuh Ardi menjauh.


"Sukses" ucap Ardi tanpa mengeluarkan suara kepada dua sahabatnya yang lain, Ardi melakukan hal itu untuk mengalihkan perhatian Dimas agar tidak bertanya lebih banyak.


Lima menit sebelum bell istirahat berbunyi Ardi keluar kelas setelah mendapat izin dari guru yang mengajar, dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kelas Dinda.


"Dinda mana?" tanya Ardi pada salah satu teman sekelas Dinda karena saat Ardi masuk tidak mendapati Dinda di kelas.


"Di kantin kak" jawab orang yang di tanya.


"Ish" Ardi menggerutu kesal, kemudian menuju ke kantin, Dinda sebelumnya sudah menginfokan pada Ardi jika jam pelajaran sebelum istirahat gurunya tidak masuk.


Sesampainya di kantin Ardi langsung mencari sosok Dinda, setelah mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kantin Ardi tidak kunjung menemukan dimana Dinda.


"Kak Ardi" sapa seseorang yang Ardi kenali.


"Kemana aja sih Din, di cari dari tadi" omel Ardi.


"Dinda dari toilet" ucapnya sembari menunjuk ke arah toilet yang tidak jauh dari kantin.


"Ya sudah ayo" Ardi langsung berjalan di ikuti Dinda dari belakang, sepanjang perjalanan Ardi terus meyakinkan Dinda yang beberapa kali akan mengurungkan niatnya, dengan segala tipu daya serta sedikit provokasi akhirnya Dinda kembali bertekad untuk menemui Dimas.


"Kak Dimas" teriak Dinda dari pintu kelas, Dimas yang tengah bersantai dengan Daisi langsung membelalakan matanya mengetahui Dinda yang baru saja memanggil namanya.


"Bentar Ais" pamit Dimas yang di balas anggukan oleh Daisi, Dimas pun bergegas menghampiri Dinda.


Setelah Dimas keluar dari kelas tanpa di komando Amar dan Noval langsung menjalankan perannya sebagai biang nyiyir.


"Men gue kok tiba tiba mau ke caffe itu ya" ucap Amar memulai provokasi.


"Kenapa men?" Noval sedikit melirik ke arah Daisi "Lo kangen Anna ya" lanjutnya sembari terus memperhatikan Daisi.


Daisi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya langsung melirik ke arah Noval dan Amar ketika mereka menyebut nama Anna.


"Mungkin men" lanjut Amar setelah mendapat kode dari Noval jika Daisi sedang memperhatikan mereka.


Amar kemudian melanjutkan ucapannya dengan menyebutkan semua tempat yang penuh kenangan antara Dimas dan Anna.


"Iya men, gue juga kangen kita berempat sama Anna nongkrong di taman, Dimas yang dulu sering ngajakin kita nongkrong, kita gangguin Anna yang malu malu, ah benar benar kengen gue sama Anna, kapan kapan kita napak tilas ya men" Noval tersenyum tipis setelah melihat perubahan ekspresi di wajah Daisi, Daisi terlihat kesal menahan amarah.


"Aku tahu kalian berdua lagi nyindir aku sama Dimas kan" ucap Daisi yang sudah berdiri di belakang kedua orang itu.


"Eh Daisi" ucap mereka pura pura terkejut "Nyindir apa ya?" tanya Amar dengan tampang bodohnya.


"Gak usah pura pura, tanpa kalian sindir aku udah sadar kok kalau Dimas memperlakukan aku dan melihat aku sebagai Anna".


Deg..... Noval dan Amar tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.


"Eng... anu Dais" Noval langsung menepuk paha Amar dengan cukup keras setelah Amar mulai bicara ang eng ang eng.


Tes... air mata seketika jatuh membasahi pipi Daisi yang membuat Amar dan Noval panik.


"Jangan nangis dong" ucap Amar panik.


Semua sudah di luar rencana, mereka membayangkan jika Daisi akan marah dan mengamuk lalu memutuskan Dimas detik itu juga.


"Men gimana men" Amar menyenggol lengan Noval.


"Lo berdiri" Noval kemudian melihat ke arah Daisi "Duduk sini Dais" Daisi tetap berdiri mematung, Noval langsung menarik tubuh Daisi pelan kemudian dia dudukkan di tempat Amar duduk tadi.


"Tenang dulu Dais tenang, lo dengerin gue" ucapnya sedikit panik karena Daisi terus menangis.


"Lo temuin Ardi bilang gimana caranya supaya Dimas jangan masuk dulu" Amar mengangguk setelah mendapat perintah dari Noval, dia bergegas keluar kelas.


"Dais dengerin gue ya, lo dengerin baik baik" Noval kemudian bercerita perihal keresahan the bad boys karena melihat tingkah Dimas yang selalu hidup dalam bayang bayang Anna, lalu Noval juga menceritakan rencana ketiga bad boys itu untuk menyadarkan Dimas bahwa yang dia lakukan salah, awalnya mereka bertiga mengira jika Daisi akan marah dan memutuskan Dimas namun realita memang kadang tak sesuai harapan, Daisi justru menangis setelah mendengar obrolan Amar dan Noval.


"Aku selalu berusaha Val supaya Dimas gak nganggep aku sebagai Anna" Daisi menyeka air matanya "Tapi gak ada perubahan sedikit pun, aku juga lelah Val kaya gini terus".


"Eh....."


Noval terkejut, sangat sangat terkejut ketika Daisi tiba tiba menjatuhkan kepalanya di dada Noval, dia yang sebelumnya tidak pernah se intim itu dengan lawan jenis mendadak menjadi bingung dan salah tingkah, namun untuk sesaat Noval merasa sensasi lain dalam hatinya, sensasi yang baru pertama kali dia rasakan.


"Da-dais" gugup Noval.


Daisi yang sadar akan kegugupan Noval pun langsung mengangkat kepalanya, dia bahkan dengan jelas mendengar suara detak jantung Noval yang berpacu lebih cepat.


"Sorry".


Noval mengangguk.


"Terus sekarang lo mau gimana Dais?" tanya Noval.


"Aku tetap mau berusaha buat Dimas mandang aku sebagai Daisi"


"Lo yakin?" Daisi mengangguk.


"Oke kalau itu keputusan lo, gue bakal dukung, tapi kalau lo udah gak kuat lo boleh nyerah, gak ada yang bakal nyalahin lo"


"Makasih Val"


Noval terus berusaha menenangkan Daisi, bisa kacau kalau Dimas masuk melihat Daisi sedang menangis, apalagi Daisi menangis di depan Noval, bisa ada keributan karena salah paham.


Walaupun detak jatung Noval sedang tidak baik baik saja setelah kejadian yang cukup intim itu namun sekuat tenaga Noval berusaha menenangkan diri.


"Udah sekarang lo tenang dulu ya, jangan nangis kalau Dimas liat lo nangis gue yang kena" ucap Noval sedikit panik.


Akhirnya bertepatan dengan bell tanda istirahat telah habis Daisi pun bisa tenang, dia berusaha menormalkan kembali wajahnya walau sangat kentara jika Daisi baru saja menangis.


"Lo ke toilet dulu gih, beresin wajah lo"


"Emang wajah aku berantakan apa" Sungut Daisi yang hanya di balas cekikikan oleh Noval.


Daisi berjalan keluar dari kelas, Noval menatap nanar punggung Daisi, tanpa sadar dia tersenyum, hatinya saat ini terasa berdesir.