I Am Home

I Am Home
Hitam itu putih



Kantin bunda pukul 10.00 WIB.


Tidak ada suara dari keempat anggota the bad boys, semua tenggelam dalam lamunan masing masing, fakta mencengangkan baru saja di ungkapkan oleh Noval, Dimas menunduk dalam sembari berusaha mengusap air mata yang terus mengalir deras.


Ardi yang penuh dengan celotehan hari ini seakan kehilangan tajinya, umpatan dan kata sarkas yang biasa Amar keluarkan tidak lagi terdengar untuk memeriahkan suasana, analisa Amar yang selalu bisa mencari solusi untuk memecahkan semua permasalahan sahabatnya kini tidak mempan.


"Saran gue lo jalani hari seperti biasa men seakan akan lo gak tau apa apa atau dia akan pergi menjauh" ucap Noval memecahkan keheningan.


Diam, hening, gelap itulah yang saat ini Dimas rasakan, ingin marah, ingin memaki, ingin menumpahkan segala gundah gulana tentang keresahan yang tengah dia hadapi.


Ucapan Noval masih saja terngiang dengan jelas di pikiran Dimas, dia awalnya berharap jika Noval bercanda, dia berharap Noval membohongi dirinya, dia berharap Noval untuk hari ini saja menjadi seorang pendusta, namun itu hanyalah sebuah harapan saja, tetapi kenyataan yang Dimas dapat sangat jauh berbeda.


"Sorry gue baru ngomong sekarang men, Anna sakit, Anna menderita sakit Leukimia mungkin umurnya gak akan lama lagi".


Deg.....


Aliran darah seketika berhenti, detak jantung terdengar memompa lebih cepat dari biasanya, air mata entah bagaimana caranya keluar dengan deras dari mata Dimas, nafasnya naik turun tak beraturan, tangannya terkepal erat dengan rahang yang mengeras.


"Kenapa?" pertanyaan yang sangat simpel tapi harus di jawab dengan rumit, bahkan mungkin tidak akan ada jawaban dari siapapun.


"Kenapa harus Anna".


Dimas langsung bangkit, dia langsung berjalan menjauh dari kantin tanpa berucap apapun pada ketiga sahabatnya.


"Kemana men?" tanya Noval ketika melihat Dimas berdiri.


Dimas hanya melirik sesaat, dia pergi ke arah pintu samping yang biasa mereka gunakan untuk bolos, Amar dan Ardi yang awalnya ingin mengejar Dimas terpaksa membatalkan niatnya setelah Noval menahan mereka.


"Dimas butuh waktu sendiri" ucap Noval yang membuat Amar dan Ardi menghela nafas berat.


Ardi dan Amar kembali terduduk dengan kepala menunduk, mereka juga tegoncang dengan fakta yang baru saja Noval ungkapkan.


Noval yang sebelumnya mau mengabulkan permintaan Anna untuk menjaga rahasianya dan sempat berjanji untuk hal itu, hari ini terpaksa dia ingkari.


Senyuman Dimas terus menghantui dirinya beberapa hari ini, Noval selqlu bermimpi buruk terkait sahabatnya itu, mimping yang berkaitan dengan kepergian Anna akhirnya membuat dirinya memutuskan untuk mengungkapkan rahasia yang selama ini dia pendam.


"Bukannya Leukimia masih bisa sembuh men?" tanya Ardi dengan suara lirih.


Noval mengangguk.


"Tapi Anna sudah menginjak stadium tiga saat ini" jelas Noval dengan tatapan nanar "Mungkin sebentar lagi masuk stadium empat".


"Artinya?" Amar mencoba memperjelas ucapan Noval.


"Kita hanya bisa berdoa dan berharap keajaiban" lirih Noval.


"F*ck" umpat Ardi.


Ardi adalah orang yang paling dekat dengan Dimas dari kedua sahabat Dimas yang lain, bayangan buruk langsung melintas di kepalanya, bayangan tentang bagaimana kehancuran Dimas nantinya.


"Kita harus suport Dimas, jangan sampai Dimas menunjukkan kesedihan di depan Anna nantinya" Ardi dan Amar mendengarkan dengan seksama penuturan Noval "Yang membuat Anna bisa bertahan sampai saat ini adalah Dimas, jadi jika Dimas hancur mungkin saja Anna.." Noval tidak bisa meneruskan kata katanya, lidahnya seketika kelu ketika akan menyebutkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Anna.


...****************...


Di tempat lain pada waktu yang sama Anna tengah duduk di depan kelas, di sebelahnya terlihat Aldo yang sedang berbicara panjang lebar, intinya Aldo tengah berusaha menjelekkan Dimas, berharap Anna kehilangan simpati pada Dimas.


"Kamu tahu bedanya Dimas sama kamu?" tanya Anna memotong Aldo yang terus berbicara.


Aldo mengangguk mantap "Aku gak pernah nyakitin kamu kan?" ucapnya penuh percaya diri "Sedangkan Dimas mainin kamu".


Anna berdecak kesal.


"Salah" ketusnya "Dimas gak pernah jelekin orang lain hanya untuk mewujudkan obsesinya". jawab Anna mantap dengan tatapan tajam yang dia hunuskan ke arah Aldo.


"Gak pantes orang sebaik kamu buat Dimas Ann"


"Kamu benar" Aldo tersenyum senang.


"Dimas terlalu baik, Dimas terlalau tulus, hingga aku juga merasa gak pantes untuk bersanding dengan Dimas, bahkan berkhayal pun aku gak berani".


Skak....


Aldo tergugu.


Dimas, sebuah nama yang telah mengisi seluruh relung hati Anna, nama yang telah ada di tempat terdalam di dalam hati Anna, nama yang menjadi alasan Anna tersenyum sampai hari ini di tengah luka yang harus dia hadapi, di tengah badai yang tengah membawanya terombang ambing di tengah keputus asaan dan kesedihan.


"Kamu lihat itu" Anna menunjuk dinding yang berada di depannya.


Aldo mengangguk.


"Apa warnanya?" tanya Anna.


"Hitam" jawab Aldo.


"Kamu benar" Aldo kembali mengangguk.


"Tapi jika Dimas bilang itu putih, aku lebih percaya apa yang Dimas katakan, jika Dimas bilang itu putih tapi aku melihatnya hitam berarti mataku yang bermasalah".


Jelas Anna yang membuat Aldo menatap nanar ke arahnya.


"Kamu tahu apa artinya?"


Aldo menggeleng.


"Dimas adalah kebenaran yang aku yakini".


jawab Anna sembari berdiri kemudian beranjak pergi meninggalkan Aldo yang diam seribu bahasa, Aldo tak menyangka dengan semua yang Anna ucapkan, Aldo tak pernah menyangka sedikitpun dengan apa yang Anna pikirkan tentang Dimas, bahkan Aldo tak pernah tahu sebesar apa rasa sayang Anna untuk Dimas.


"Semua sudah berakhir" ucap Aldo dalam hati sembari berjalan menjauh meninggalkan kelas Anna.


Anna mengulas senyum walau hatinya tengah menangis, tidak bisa di pungkiri dari dalam lubuk hatinya terasa sakit mengetahui fakta kedekatan Dimas dan Dinda, namun demi Dimas, demi kebahagiaan Dimas, Anna tidak ingin egois dengan membelenggu Dimas dalam cengkramannya, Anna hanya ingin Dimas tetap bahagia jika tanpa dirinya.