I Am Home

I Am Home
Setangkai mawar merah



Reni langsung menarik tangan Dimas keluar dari ruang tamu, Reni membawa Dimas ke taman yang berada di samping rumahnya, ingin rasanya Reni mengacak acak rambut Dimas sembari memakinya jika tidak ada sang ayah di ruang tamu tadi.


Sesampainya di taman, Reni langsung mendorong tubuh Dimas duduk di atas bangku taman, sedangkan Reni berdiri sembari berkacak pinggang di depan Dimas, matanya melotot menatap tajam kearah Dimas, Dimas justru tersenyum mendapat tatapan tajam dari Reni.


"Lo gila ya?" hardik Reni.


"Lo kesurupan atau salah makan si?" tanya Dimas.


Arrgggg.... Reni mengacak acak rambutnya sendiri, dia sungguh merasa sangat frustasi menghadapi Dimas.


"Fix kesurupan" ucap Dimas melihat Reni sedang mengacak acak rambutnya sendiri.


"Lo" Reni menunjuk tepat di depan wajah Dimas.


"Sini duduk" Dimas menarik tangan Reni untuk duduk di sebelahnya, Reni yang awalnya ingin langsung mengamuk tapi entah kenapa dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun ketika Dimas menarik tangannya dengan lembut.


Setelah Reni duduk Dimas langsung membenahi rambut Reni yang berantakan akibat ulahnya sendiri, Reni hanya melongo saat Dimas menyentuh kepalanya dengan lembut, terasa ada desiran halus dalam hatinya.


"Mata gue sakit lihat rambut lo berantakan" ucap Dimas "Sana berdiri lagi" gurau Dimas setelah selesai merapikan rambut Reni.


"Dim gue mau bicara serius, please kali ini aja lo jangan bercanda" pinta Reni dengan tatapan memohon.


Dimas hanya mengangguk, dia sudah tahu apa yang ingin Reni bicarakan, dan dia juga sudah punya jawaban nantinya, Dimas tahu jika sedari tadi Reni menguping saat dirinya tengah berbincang dengan calon ayah mertuanya.


"Dim lo sadar gak apa yang lo omongin tadi sama ayah?"


Dimas mengangguk.


"Lo sadar seserius apa yang tadi lo omongin Dim?"


Dimas kembali mengangguk.


Reni berbicara banyak hal, dia terus menyalahkan Dimas, bahkan sesekali Reni mengutuki perbuatan Dimas yang dengan mudahnya berbicara masalah pernikahan dengan sang ayah, padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun.


"Hubungan kita akan menjadi suami istri setelah menikah"


"Dim gue serius".


"Lo pikir gue bercanda" Dimas menatap lekat lekat mata Reni, Reni langsung membuang mukanya, entahlah dia tidak kuat berlama lama bersitatap dengan Dimas, apalagi dia menemukan keseriusan di balik tatapan Dimas.


"Gue gak mau cuma sekedar jadi pelarian" ucap Reni.


"Gue juga" jawab Dimas.


Mungkin Reni akan merasa hanya sebagai pelampiasan Dimas atas rasa sakitnya terhadap Namira, tapi tanpa Reni tahu Dimas juga mengetahui penyebab berakhirnya hubungannya dengan Aldo, Aldo lebih memilih wanita lain yang menurutnya lebih baik dari Reni.


"Sekarang giliran gue yang bicara Ren, lo dengerin gue baik baik"


Reni mengangguk.


"Gue akui belum ada cinta dalam hati gue buat lo, namun hati gue sudah tertambat dalam ketertarikan pada diri lo, gue pernah merasakan sakit yang teramat sangat beberapa waktu lalu saat Namira ninggalin gue menikah dengan pilihannya".


Dimas menjelaskan setelah kehadiran Reni membuat rasa sakit dalam hatinya berangsur angsur memudar, bahkan saat ini Dimas bisa memastika jika Reni berhasil membantunya menghilangkan rasa sakit itu, meskipun belum ada rasa cinta dalam hatinya untuk Reni, namun Dimas benar benar tulus ketika berbicara dengan ayah Reni, untuk menikahi Reni.


"Sekarang keputusan ada di tangan lo, apapun jawaban lo gue tetap akan pergi dengan kepala tegak dari rumah ini" Dimas berbicara dengan yakin.


Reni terus menunduk dalam, dia tidak tahu haru menjawab apa.


"Lo tatap mata gue Ren, kalau lo temuin sedikit saja keraguan di mata gue, lo boleh menyuruh gue mundur, gue akan menjelaskan semua pada orang tua lo saat ini juga"


Reni mengangkat kepalanya, di tatapnya mata Dimas dalam dalam, hanya keyakinan dan ketulusan yang bisa Reni temukan di sana, tidak ada keraguan sedikit pun di mata Dimas.


"Gue bingung" lirih Reni.


Huh...... Dimas menghelas nafas.


"Ada dua hal yang peling gue benci di dunia Ren" Reni mendengarkan dengan seksama.


"Yang pertama adalah menunggu, entah dalam konteks apapun gue paling benci yang namanya menunggu" ucapnya dengan tegas.


"Yang kedua" Dimas mengangkat dua jari tangan kanannya tepat di depan wajah Reni "Gue benci yang namanya penghianatan, hal yang paling menjijikan adalah penghianatan" ucap Dimas denga emosi yang berkobar dalam dirinya, Reni bisa merasakan sebesar apa emosi Dimas saat dia sedang berbicara mengenai penghianatan.


"Tapi gue butuh waktu Dim" pinta Reni.


"Tapi sayangnya gue gak bisa kasih waktu buat lo Ren" timpalnya.


"So, lo mau jawab atau lo akan tetap meminta waktu untuk menjawab" tawar Dimas.


"Kalau gue tetap minta waktu?" tanya Reni.


"Gue yang akan memutuskan"


"Apa keputusan yang akan lo ambil bisa menyakiti hati seseorang?".


Dimas tahu apa yang di maksud oleh Reni, Reni tidak ingin hati orang tuanya sakit karena keputusan Dimas nantinya, keputusan yang akan menghancurkan harapan mereka, harapan yang sudah mereka bangun setinggi mungkin akan kelanjutan hubungan Dimas dan Reni.


"Setidaknya tidak akan terasa begitu menyakitkan karena luka yang tergores belum terlalu dalam" jawab Dimas.


Huh.... Reni menundukkan kepalanya, dia berada di tengah tengah jalan beecabang yang harus dia pilih untuk masa depannya, satu sisi ada orang tuanya dan Dimas yang menunggu di ujung jalan, namun di sisi lainnya ada kebahagiaan yang selalu Reni impikan sedang menunggunya untuk di gapai.


"Akan selalu ada konsekuensi yang lo terima apapun jawaban lo Ren"


"Apa itu?" tanya Reni.


"Jika lo memilih ikut ke jalan yang gue buat, gue gak akan penah nyakitin lo dalam bentuk apapun, meskipun gue gak tahu lo bisa bahagia atau gak, yang pasti gue akan selalu berusaha membahagiakan lo selama lo ada di sisi gue".


"Tapi kalau lo pilih jalan lo sendiri, yang pasti lo pergi di iringi air mata orang tua lo, dan ada dua kemungkinan" Dimas tatap mata Reni dalam dalam sembari tersenyum smirk "Mungkin saja lo bisa bahagia atau bahkan lo lebih menderita nantinya".


Dimas tetaplah Dimas, buaya dengan segala akal liciknya, dia seakan mampu memberi pilihan mudah pada Reni walaupun sesungguhnya pilihan itu membuat Reni harus mengorbankan perasaannya.


Reni terdiam, merenung dalam dalam terkait langkah apa yang harus dia ambil, karena keputusan yang akan dia ambil bukan lah keputusan sesaat namun keputusan yang akan mengikat dirinya bersama Dimas selamanya.


"Lo tahu dalam hati gue masih terukir dalam nama Aldo"


Dimas mengangguk.


"Jika suatu hari Aldo datang menawarkan jalan yang dia buat saat gue sudah memutuskan memilih ikut jalan yang lo buat, dan gue ninggalin lo demi jalan baru yang Aldo tawarkan, apa yang bakal lo lakuin?"


Dimas memberikan senyum iblis pada Reni.


"Gue akan mempersilahkan lo pergi dengan jalan yang menurut lo lebih baik, tapi gue akan mengutuki setiap langkah lo dan membenci lo dengan seluruh hidup gue" ucap Dimas tanpa ada keraguan sedikit pun dalam hatinya.


Reni semakin bimbang, dalam hatinya masih penuh dengan pengharapan untuk hidup bersama Aldo, namun di sisi lain Dimas datang dengan semua kepastian.


"Lo bayangkan dalam pikiran lo Ren, seandainya saat ini Aldo datang dengan membawa jutaan tangkai bunga mawar ditangannya sedangkan gue hanya membawa setangkai mawar mana yang lo pilih?"


Dimas menatap lekat lekat mata Reni, dia ingin melihat kejujuran dari mata Reni saat menjawab pertanyaannya, Reni menarik nafas dalam dalam, Reni tahu dengan arah pembicaraan Dimas, Dimas sedang mengajak Reni berfikir dengan logika saat ini, bukan dengan mementingkan perasaan.


"Gue akan pilih lo dengan setangakai bunga mawar itu" jawab Reni mantap, dia masih bisa menggunakan logikanya.


Dimas tersenyum, dia bisa melihat kejujuran di mata Reni.


"Kenapa?" tanya Dimas ingin mendengar alasan dari Reni.


"Karena walaupun lo cuma kasih gue setangkai mawar saat ini gue yakin jika yang lo kasih adalah mawar merah, sedangkan jutaan tangkai mawar yang Aldo berikan adalah mawar hitam".


Dimas tersenyum penuh kemenangan, otak liciknya berhasil mempora porandakan logika Reni.


"So?" ucap Dimas.


"Pinta gue jadi istri lo sekarang"


"Will you marry me Khayraeni Amalia?"


"Yes, i do" teriak Reni dengan lantang, dia langsung menghambur ke dalam pelukan Dimas.


Air mata bahagia keluar dari kedua bola mata pasangan itu, Dimas hanya bermodal keyakinan serta kejujuran di mata Reni saat memilih Reni sebagai permaisuri dalam hidupnya, sedangkan Reni menerima Dimas sebagai calon suami karena kesungguhan dan ketulusan yang dia lihat dari mata Dimas.