I Am Home

I Am Home
Pernikahan



Akhir pekan biasanya Dimas akan menghabiskan waktu di kamar tidurnya, waktu libur yang sangat jarang dia dapatkan membuat Dimas ingin bermalas malasan seharian di atas kasur.


Dimas mengerjapkan matanya beberapa kali, di lihatnya jam kecil yang berada diatas meja baru menunjukkan pukul 07 pagi, namun suara bell dan gedoran pintu saling bersahutan mengganggu mimpi indahnya.


"Iya sabar woy" teriak Dimas emosi karena tidurnya terganggu, dengan langkah gontai Dimas berjalan menuju pintu depan.


"Siapa sih pagi pagi ganggung banget" gerutu Dimas sembari membuka kunci pintu rumahnya.


"Men" pekik Ardi.


"Ngapain sih lo pada pagi pagi udah berisik banget" sungut Dimas ketika melihat kehadiran tiga sahabatnya.


"Anjir lo bukannya nyambut kedatangan kita malah ngomel ngomel" ucap Amar sembari melangkah masuk di ikuti oleh Noval dan Ardi.


"Gue tuan rumah belum mempersilahkan lo masuk woy" sungut Dimas.


"Bodo amat" jawab ketiganya kompak.


Noval dan Amar langsung menginvasi ruang tamu apartemen Dimas, sedangkan Ardi tanpa tahu malu membuka kulkas milik Dimas.


"Gila, gila" ucap Ardi sembari menggelengkan kepala "Gaji lo perbulan bisa beli satu mobil tapi isi kukas lo air mineral doang men" kesal Ardi.


"Waktu gue habis di rumah sakit gak sempat ngurus gituan men" Dimas menghempaskan tubunya ke atas sofa, ingin rasanya memejamkan mata kembali tapi kehadiran tiga sahabatnya membuat hal itu hanya menjadi impian saja.


"Laper gue men" ucap Ardi sembari membawa tiga botol air mineral.


"Laper makan bukannya malah main" cibir Amar yang di balas tatapan sinis Ardi.


"Lo bawa tiga doang?" tanya Dimas ketika melihat Ardi meletakkan tiga botol air mineral di atas meja.


"Tuan rumah ambil sendiri gak usah manja" sahut Noval sembari meneguk air mineral.


Keempatnya mengobrol banyak hal layaknya sahabat yang baru berjumpa setelah sekian lama, keseharian dan keluarga menjadi topik utama perbincangan.


"Men buruan lo siap siap acara penting nih" ucap Amar sembari mendorong tubuh Dimas untuk bangkit.


"Perasaan bukan acara lo, kenapa lo yang semangat si kampret" sungut Dimas sembari bangkit.


Setelah kurang lebih 30 menit Dimas sudah rapi dengan stelan formal, jas lengkap dengan sepatu pantofel yang terlihat memiliki harga cukup fantastis pun dia kenakan, mereka bergegas menuju ke tempat acara setelah semua siap.


Keempat sahabat itu berjalan beriringan menuju ke tempat parkir, mereka menggunakan satu mobil untuk menuju ke tempat acara.


"Istri lo mana?" tanya Dimas yang duduk di kursi penumpamg bersama Amar.


"Anggi?"


"Emang lo punya istri berapa?" Dimas menoyor kepala Amar.


"Udah di sana sama istrinya Noval" jawab Amar.


Sepanjang perjalanan hanya di hiasi dengan obrolan ringan, tidak ada kata motivasi atau sekedar memberi semangat dari ketiga anggota the bad boys untuk Dimas.


Beberapa saat kemudian mobil tiba di salah satu hotel mewah yang ada di ibu kota, keempatnya turun secara bersamaan, Dimas terlihat menarik nafas beberapa kali untik sekedar mengusir rasa tidak nyaman di hatinya, mereka melangkah memasuki hotel.


"Perasaan gue gak ngirim kiriman bunga men?" tanya Dimas pada ketiga sahabatnya saat melihat sebuah karangan bunga ucapan turut berbahagia dengan namanya tertulis sebagai pengirim.


"Gak usah lo pikirin" cawab Ardi memberi tepukan di bahu Dimas, Dimas hanya mengangguk kemudian melangkah memasuki lobby hotel, langkahnya terhenti tepat di depan pintu masuk ballroom, Dimas bisa melihat dekorasi mewah ballroom hotel yang akan di jadikan tempat resepsi pernikahan, diatas pintu masuk tertulis nama pengantin dengan ukiran yang indah.


..."Leonard Thomson & Namira Kania"...


Dimas menatap tulisan tersebut dengan perasaan yang berkecambuk, seharusnya namanya yang tertulis di sana, namnya yang bersanding dengan nama Namira di sana, meskipun mulutnya berbicara ikhlas namun hatinya masih terasa sakit, jawaban Namira atas permintaan Dimas saat mengajaknya menikah masih terngiang di pikirannya.


"Lo pasti bisa men" Ardi menepuk pundak Dimas.


"Tunjukkan pada mereka lo baik baik saja men" Amar berusaha memberikan semangat pada Dimas.


"Lo masih ingat omongan gue soal jodoh men" Dimas mengangguk "Lo pasti dapat yang lebih baik dari Namira bahkan yang terbaik sudah Tuhan siapkan buat lo" Noval mencengram lengan Dimas dengan cukup erat.


Dimas menunduk sembari menarik nafas dalam dalam, kenyataan pahit harus kembali dia telan untuk kedua kalinya, kepahitan yang kembali di berikan oleh Namira meskipun tak sesakit saat Namira pertama kali pergi meninggalkannya, Dimas berusaha menghibur diri dengan memberikan sugesti setidaknya bukan dia tokoh antagonis di sini, hanya satu yang Dimas sesali yaitu memberi kesempatan dan kepercayaan kedua untuk Namira.


"Yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada" ucap Dimas dengan senyum getir, ketiga sahabatnya pun kembali memberika tepukan semangat pada Dimas.


"Ayo men, gue siap" Dimas melangkah masuk ke dalam ballroom di ikuti oleh ketiga sahabatnya.