I Am Home

I Am Home
I'm the winner



Dimas dan Reni sudah berkomitmen satu sama lain untuk menjalani hidup bersama dan belajar saling mencintai, karena mereka yakin cinta akan hadir seiring waktu.


Ada satu garis yang tidak boleh di langgar oleh keduanya yaitu penghianatan, keduanya telah berjanji satu sama lain akan memaafkan apapun kesalahan masing masing, memaafkan sebesar apapun kesalahan kecuali penghianatan.


Reni dan Dimas adalah korban dari sebuah pengkhianatan di masa lalu, mereka telah merasakan sakitnya di khianati, oleh karena itu mereka berjanji satu sama lain untuk tidak saling menyakiti dengan berkhianat.


Hari ini Dimas seakan sedang mendapat kado pernikahannya dari Tuhan, setelah berjuang selama berbulan bulan untuk membuktikan kapasitasnya sebagai dokter, Dimas akhirnya memperoleh apresiasi atas kerja kerasnya, hari ini Dimas di lantik sebagai kepala departemen bedah umum.


"Selamat sayang" Reni memberi pelukan hangat ketika Dimas baru saja keluar dari aula tempat serah terima jabatan dan pelantikan dirinya sebagai kepala departemen bedan umum.


"Semua karena dukungan darimu Ren" Dimas mengecup pucuk kepala Reni.


Mereka berjalan sembari bergandengan mesra menjauhi aula rumah sakit menuju ruang kerja Dimas yang baru.


"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri" tutur Reni setelah dia duduk di sofa ruang kerja Dimas yang baru.


"Apa kamu sudah yakin melepas karir yang selama ini kamu perjuangkan dengan susah payah?" tanya Dimas.


"Aku melepas sesuatu untuk yang lebih baik" Reni manatap wajah Dimas "Menurutku itu sepadan" jawabnya sembari tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah mata.


Reni memutuskan mengundurkan diri atas kesadarannya sendiri, meskipun Dimas tak pernah memintanya agar fokus mengurus rumah tangga nantinya, namun Reni menyadari jika dirinya lebih baik berada di rumah untuk mengurus Dimas dan keluarga kecilnya nanti.


Rumah tangga mereka kedepannya akan lebih mudah jika Reni memiliki banyak waktu luang, dia sadar resiko pekerjaan Dimas yang akan sulit menyempatkan waktu untuk dirinya, maka dari itu nantinya Reni yang akan selalu menyempatkan waktu untuk Dimas.


"Baiklah jika itu keinginan mu, aku akan selalu mendukung mu Ren" jawab Dimas.


"Semua demi kita nantinya sayang"


Dimas mengangguk "Aku tahu".


"Oh ya bagaimana dengan cuti mu sayang?" tanya Reni.


Pernikahan Dimas dan Reni akan di langsungkan dua bulan lagi berdasarkan kesepakatan bersama kedua belah pihak saat pertemuan keluarga.


"Mungkin aku hanya akan dapat cuti menikah 3 hari saja, karena tahun ini aku sudah terlalu banyak ambil cuti" jawab Dimas lirih.


"Hehehehe" Reni terkekeh melihat wajah lesu Dimas "Lagian di tinggal nikah aja ngambil cuti lama banget" ledek Reni.


Dimas hanya tertawa melihat Reni yang sedang meledeknya, dalam hatinya berkata.


"Nanti juga kamu merasakan".


"Apa kamu mau bertaruh?"


"Bertaruh?" tanya Reni bingung.


"Iya"


"Bertaruh apa?"


"Kamu akan menangis semalaman jika mantan pacar mu menikah"


"Tidak mungkin" jawab Reni cepat penuh dengan keyakinan.


"Kalau begitu tidak masalah bukan jika kita bertaruh?" tawar Dimas.


"Biar pemenang yang akan menentukan nanti" ucap Dimas sembari menatap mata Reni "Bagaimana?"


"Apa kamu terlalu yakin jika kamu yang akan menang?"


Dimas mengangguk.


"Ck... ck... ck...." Reni berdecak "Kamu terlalu percaya diri sayang" cibirnya.


"So?"


"Oke aku menerima tantangan mu dokter Dimas".


Dimas tersenyum smirk, dia kemudian melempar sebuah undangan pernikahan yang tepat mendarat di pangkuan Reni, undangan pernikahan Aldo yang dia dapatkan tadi pagi dari Dinda, menurut pengakuan Dinda jika Namira lah yang meminta Aldo untuk mengundang Dimas.


Reni membuka undangan yang tadi di lepar oleh Dimas, tangannya langsung bergetar ketika membaca nama yang tertulis di sana, kepalanya seketika di penuhi awan hitam, matanya langsung berkaca kaca.


"Yes, I'm the winner" teriak Dimas kencang sembari tertawa terbahak bahak.


Reni langsung menghapus air mata yang baru saja turun.


"Aku tidak menangis!" teriak Reni, walaupun mulutnya berbicara dia baik baik saja, namun hatinya tidak bisa berbohong, matanya terus mengalirkan buliran bening, sekuat apapun Reni menahan sesak di dalam dadanya tidak dapat di kompromikan lagi dengan logikanya.


Dimas berjalan mendekat ke arah Reni, dia peluk erat erat tubuh Reni, dia dekap dengan penuh kasih sayang.


"Menagislah, menangislah sekencang yang kamu mau hari ini, tumpahkan segala rasa sakit di hatimu agar tidak ada lagi air mata untuk menangisi kepedihan itu esok hari"


Reni menangis dengan kencang dalam pelukan Dimas, sungguh sakit ternyata, dengan mudah dia meledek Dimas karena di tinggal menikah, kini dia merasakan rasa sakit yang sama.


Dimas masih mendekap erat tubuh Reni dalam pelukannya.


"Aku berjanji tidak akan meledek mu hari ini, tapi tak berjanji untuk hari esok, lusa atau seterusnya"


Reni seketika mengangkat kepalanya, dia pukul dada Dimas berulang kali.


"Kamu masih sempat bercanda" kesal Reni di sela sela tangisnya, Dimas terbahak melihat hal itu, dia yakin Reni akan cepat melupakan Aldo dan mengukir namanya di dalam hatinya, jika Dimas yang berada di posisi Reni dia tidak akan peduli dengan apapun saat dia menangisi kepedihan atas luka yang tengah dia rasakan, namun Reni masih bisa mengalihkan kesedihannya yang berarti luka dalam hatinya sudah sedikit mengering.


Dimas terus berceloteh menggoda Reni, walaupun dengan air mata yang terus mengalir dari mata indahnya sesekali Reni membalas Dimas.


"Aku memenangkan dua hal hari ini" ucap Dimas.


"Apa?" lirih Reni dengan suara serak.


"Pertama aku menang taruhan atas dirimu" Dimas mencolek dagu Reni, Reni membalasnya dengan memukul lengan Dimas.


"Kedua aku akan segera memenangkan hatimu" Dimas menarik kembali tubuh Reni ke dalam pelukannya, walaupun Reni masih terisak namun tak sehisteris tadi.


"Bantu aku melupakan rasa sakit ini dan bantu aku lebih cepat mencintaimu sayang" lirih Reni di tengah tengah isak tangisnya.


"Pasti" Dimas mengecup pucuk kepala Reni, tangan kananya mengusap lembut punggung wanita yang kini mulai mengisi hatinya perlahan lahan.


"Meskipun ada seribu wanita cantik yang akan datang, walaupun ada banyak pelukan yang menawarkan kehangatan nanti, aku berjanji hanya kamu yang aku lihat, aku berjanji hanya pelukan mu yang akan menjadi tempat ku berkeluh kesah dan mencari kehangatan serta kenyamanan" ucap Dimas dalam hati sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah yakin akan memberikan seluruh hati ku pada mu, aku teramat yakin untuk memberikan hidup ku untuk mu Khayraeni Amalia, aku mencintaimu dengan seluruh hidupku" tanpa sadar Dimas menitihkan air mata.