I Am Home

I Am Home
Kucing beneran



Ting.....


Bunyi ponsel Dimas yang menandakan ada pesan masuk, Dimas segera membaca pesan tersebut, kemudian dia tersenyum setelah mendapat balasan dari Dinda yang mengatakan jika saat ini Dinda sedang tidak berada di rumahnya.


"Yok gue anter pulang Mir" setelah selesai makan Baso Dimas mengajak Namira untuk berkeliling kota sejenak, hal itu dia lakukan sembari menunggu pesan balasan dari Dinda, Dimas harus memastika jika Dinda tidak berada di tempat yang sama dengan dirinya dan Namira atau perang dunia akan kembali terjadi.


"Bukannya dari tadi" kesal Namira, awalnya Namira meminta Dimas langsung mengantarnya pulang setelah selesai makan Baso namun bukannya langsung diantar ke rumah justru Dimas mengajaknya berkeliling kota selama hampir 1 jam.


"Kan gue suntuk, lo gue ajak nongkrong gak mau"


"Tau gini gue pulang sendiri, lo udah buang waktu berharga gue" sungut Namira.


"Marah marah mulu" mencolek dagu Namira, Namira pun langsung membuang muka, dia tidak mau jika Dimas melihat wajahnya yang merona, tidak bisa di pungkiri jika Namira sudah menaruh hati pada sosok Dimas sang buaya itu.


Namira tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, banyak laki laki yang menjauh setelah mendekati Namira, Namira yang jutek bahkan terkesan galak membuat banya laki laki berfikir dua kali jika ingin menjadikannya kekasih, berbeda dengan Dimas, puluhan kali Namira mengacuhkannya, namun Dimas tak pernah mundur selangkah pun hingga akhirnya Namira luluh lantah dengan pesona Dimas.


"Mau mampir dulu?" tawar Namira ketika mobil Dimas sudah berhenti di depan halaman rumahnya.


"Gue langsung aja Mir, udah malem besok ada tugas" kilah Dimas, padahal sebenarnya dia takut jika Dinda tiba tiba pulang.


"Oke hati hati di jalan" Namira meraih tangan Dimas kemudian dia cium punggung tangannya


Namira melambaikan tangan ketika mobil Dimas melaju meninggalkan rumahnya, setelah mobil itu tak terlihat lagi Namira masuk ke dalam rumah.


...****************...


Pagi hari


Tempat duduk Anna yang sebelumnya tidak boleh ada yang mengisi kini di isi oleh murid baru yang benama Daisi, walaupun awalnya Dimas melarang namun karena intimindasi wali kelas akhirnya dengan berat hati Dimas mengizinkannya, karena memang tidak ada lagi bangku kosong yang lain.


Daisi seorang gadis cantik dengan wajah blasteran, memiliki kepribadian yang sangat ramah, mudah mengakrabkan diri dengan teman temannya, keceriaan Daisi sedikit banyak menarik perhatian Dimas karena mengingatkan dirinya pada sosok Anna.


"Ais mau ikut ke kantin gak?" ajak Dimas ketika bell tanda istirahat berbunyi.


"Jangan panggil Ais Dim, ish gak suka aku" protes Daisi.


"Tapi gue suka" ucap Dimas.


Daisi menunjukkan kotak makan yang dia bawa, hal yang seolah langsung menjawab ajakan Dimas tadi, Dimas mengangguk paham, dia kemudian keluar dari kelas bersama the bad boys.


The bad boys masih setia dengan menjadikan kantin bunda sebagai destinasi utama ketika mereka istirahat, Dinda tak sering menemui Dimas di kantin karena setelah kelas 2 hampir tidak pernah Dinda mengunjungi kantin Bunda.


Setelah memesan makanan dan minuman the bad boys duduk di posisi favorit mereka masing masing, tidak terjadi percakapan ketika mereka menikmati makanan tersebut.


"Men gue mau ngomong serius" ucap Amar setelah menyelesaikan acara makannya.


"Ngomong tinggal ngomong aja gak usah sok serius" cibir Dimas.


"Gak usah muter muter satt" maki Dimas jengah karena Amar type orang yang tidak langsung to the poin saat bicara.


Amar kemudian melanjutkan ucapanya, dia berbicara jika Anggi kerap kali menanyakan perihal hubungan Dimas dan Namira, apalagi jika Dimas menghilang atau terlambat dalam menemui Namira jika sudah membuat janji, Namira akan langsung menghubungi Anggi dan tentu saja Anggi langsung bertanya banyak hal pada Amar.


"Gue takut keceplosan men, secara gak langsung gue juga kena imbasnya kalau semua terbongkar" kata Amar kenyampaikan keresahannya pada Dimas.


"Inget men jangan bermain api kalau lo gak mau terbakar" ucap Ardi dengan kata bijaknya.


"Sok bijak lo kambing" cibir Dimas.


Dimas termenung sejenak, tidak bisa di pungkiri jika sampai Namira tahu hubungan Dimas dan Dinda secara tak langsung juga akan berdampak pada hubungan Amar dan kekasihnya yang merupakan sahabat dekat Namira, bagaimanapun mendekatkan Dimas dan Namira adalah salah satu ide dari the bad boys untuk membantu Dimas untuk bangkit, awalnya Anggi sempat menolak, karena Anggi sudah mengetahui sedikit banyak tentang Dimas, namun dengan bujuk rayu Amar dan Amar menakut nakuti Anggi jika Dimas sampai bunuh diri membuat Anggi akhirnya mau membantu ide the bad boys.


"Lo mau sampai kapan kucing kucingan kaya gini men?" tanya Amar setelah sekian lama terdiam.


Dimas berpikir sejenak, dia kemudian tersenyum miring.


"Santai aja men, gue akan main rapi dan cantik yang penting lo jangan sampai keceplosan" ucap Dimas.


"Gue usahain tapi gue juga gak bisa janji, tau sendiri selir lo itu si Namira udah kaya dukun bisa baca pikiran orang" Dimas mengangguk mendengar penuturan Amar.


"Tenang aja gue gak bakal kucing kucingan lagi" jawab Dimas dengan yakin.


"Maksud lo, lo udah mau nentuin pilihan?" tanya Amar dengan mata berbinar dan senyum penuh harap berusaha memastikan.


Dimas menggeleng.


Amar menautkan alisnya seakan meminta penjelasan dari Dimas, Ardi memasang telinganya tajam, Noval tak peduli apapun, dia tetap acuh jika berkaitan dengan para selir sahabatnya itu.


"Gue bakal jadi kucing beneran biar gak ada yang curiga"


"Anji*g" maki Ardi dan Amar bersamaan setelah mendengar ucapan konyol dari Dimas.


Ardi hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis melihat tingkah Dimas, sedangkan Amar merasakan kegelisahan dalam hatinya, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu pada Dimas jika.


"Men" Amar menatap mata Dimas dalam dalam.


"Sebagai sahabat bahkan saudara lo, gue bahagia saat lo bahagia men, tapi firasat gue gak enak kalau lo gini terus".


"Muter muter lagi omongan lo" kesal Dimas ketika Amar mulai mengeluarkan petuah petuahnya.


Huh.... Amar membuang nafas kasar.


"Kita tidak pernah tahu betapa berharganya apa yang kita miliki saat ini, sampai Tuhan mengambilnya dari kita. Jadi, jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita cintai, cobalah untuk mencintai apa yang kita miliki" ucapnya dengan tegas.


Dimas mengangguk pelan, secara tidak langsung apa yang di ucapkan oleh Amar memang sangat menggambarkan kebidupan Dimas saat ini.