I Am Home

I Am Home
Bagian hidup



Ketiga anggota the bad boys duduk dengan gelisah di dalam kamar milik Amar yang mereka sebut markas, Dimas baru saja menghubungi mereka untuk datang ke rumah Amar, ada sesuatu yang ingin Dimas bicarakan.


Amar baru saja memutuskan panggilan dengan Anggi, Anggi memberitahunya tentang hubungan Dimas dan Namira yang baru saja berakhir setelah Dimas berkata jujur tentang masa lalunya bersama Dinda, hal itu membuat ketiganya langsung tahu tentang apa yang ingin Dimas bicarakan.


"Menurut lo berdua apa yang akan terjadi sama Dimas kali ini?" tanya Amar kepada dua sahabatnya.


Ardi mengedikkan bahunya.


"Gue yakin Dimas gak akan larut dalam kesedihan seperti saat dia kehilangan Anna" jawab Noval dengan keyakinan yang terlihat jelas di matanya.


"Kenapa lo bisa yakin men?" tanya Ardi.


Noval mengedikkan bahunya "Gue hanya yakin Dimas sudah tahu ini akan terjadi" Noval menghembuskan nafas dengan kasar "Cuma satu harapan gue, Dimas gak benci sama Namira dan Dinda" ucapnya penuh harap, kedua sahabatnya mengangguk berharap hal yang sama.


Ketiga orang itu langsung melihat ke arah pintu kamar ketika terdengar suara, Dimas masuk dengan langkah gontai dan wajah yang terlihat sendu, Dimas langsung duduk sembari menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana.


Bahunya naik turun menandakkan tangisan pilu Dimas.


"Menangislah men, tumpahkan semua yang lo rasakan, kita tahu lo baru saja melalui hal yang sangat berat" Noval mengusap bahu Dimas, tangisan Dimas kini terdengar lebih kencang dari sebelumnya, ketiga sahabatnya hanya diam menyaksikan itu.


"Gue udah tahu kalau hal ini akan terjadi, tapi gue gak pernah menyangka rasanya sesakit ini men" Ucap Dimas tergagap di sela sela tangisannya.


"Yakinlah, akan ada pelangi setelah hujan" Ardi menepuk pundak Dimas berharap bisa sedikit mengurangi bebannya.


"Men..." Ardi yang akan bicara lagi langsung terdiam ketika Amar memberi kode melalui matanya, Amar tahu Dimas hanya butuh bahu untuk bersandar bukan hanya sekedar bualan.


Dimas masih terus menangis, hanya usapan dan tepukan di bahunya yang bisa di berikan oleh ketiga sahabatnya, tidak ada kata kata bijak dari Noval, tidak ada gurauan Ardi yang biasanya mampu memecahkan suasana dan tidak ada analisa dari Amar yang mampu menemukan akar permasalahan kemudian mereka cari solusinya bersama.


Walaupun Dimas sudah tahu jika hal itu akan terjadi namun ternyata Dimas tak sekuat yang dia bayangkan, Dimas tetap lah manusia yang memiliki hati, dia merasa hancur karena kepergian Namira.


Setelah beberapa lama tenggelam dalam tangisan Dimas akhirnya mengangkat kepalanya, dia menyeka sisa air mata di wajahnya, Dimas berusaha tersenyum sembari menatap satu persatu sahabatnya.


"Terimakasih lo semua selalu ada buat gue" ucapnya tulus.


"Kita keluarga men, gak perlu terimakasih untuk hal semacam ini" kata Noval yang di setujui oleh Amar dan Ardi.


Dimas tersenyum, seakan mampu membaca raut wajah khawatir sang sahabat "Lo tenang aja, gue gak akan menyalahkan siapapun, kalaupun ada yang harus di salahkan di sini adalah gue" ujarnya yang menimbulkan senyuman di wajah ketiga sahabatnya.


"So, apa rencana lo kedepannya?" tanya Ardi.


"Yang pertama gue harus pulang karena besok harus sekolah" Dimas tersenyum "Lalu gue akan mewujudkan mimpi gue jadi dokter yang bisa menolong Dimas Dimas yang lain agar tidak mengalami kepahitan hidup seperti gue" Dimas kemudian berdiri, dia menepuk pundak sahabatnya satu persatu, kemudian berlalu pergi.


Setelah kepergian Dimas ketiga sahabatnya kembali terlibat diskusi yang cukup panjang terkait masa depan mereka dan juga Dimas.


"Salah satu dari kita harus ada yang tinggal di sini untuk menemani Dimas dan memastikan dia baik baik saja saat mengejar mimpinya" ujar Ardi yang membuat kedua sahabatnya terdiam.


"Gue gak mungkin men, setelah lulus gue udah janji sama Anggi buat kuliah sama sama di luar negeri, itu komitmen gue sama Anggi sebelum ketemu lo semua" ucap Amar, Ardi dan Noval pun mengangguk.


"Gue harus masuk ke akademi abdi negara sesuai amanat bokap gue, otomatis gue harus ke luar kota dan mungkin hanya sesekali gue bisa liat kondisi Dimas" ujar Noval menjelaskan mimpi dan alasannya.


Noval dan Amar pun serentak melihat ke arah Ardi, Ardi yang merasa menjadi terdakwa langsung gelagapan.


"Gue gak mungkin jadi dokter men, kan lo berdua tahu kapasitas otak gue" kilah Ardi berusaha memberi alasan.


"Gak ada yang nyuruh lo jadi dokter kampret" sungut Amar.


"Terus?"


"Beg* lo" hardik Noval.


Noval kemudian menjelaskan tugas Ardi hanya memastikan jika Dimas baik baik saja selama menempuh pendidikan nantinya, Ardi bebas berkuliah di mana saja dan jurusan apa saja yang paling penting Dimas masih berada di dalam jangkauannya dan selalu berada di bawah pengawasannya.


"Oke deal, gak ngomong dari tadi lo berdua".


"Lo aja beg*" cibir Noval dan Amar bersamaan.


Mereka bertiga sudah menganggap Dimas adalah bagian dari hidup mereka yang tidak akan mereka lupakan begitu saja, layaknya sebuah keluarga yang selalu mengkhawatirkan keadaan satu sama lainnya akhirnya Ardi berkorban untuk bertahan berada di sisi Dimas dan memastikan kondisi sahabatnya dalam keadaan baik baik saja.