I Am Home

I Am Home
Butuh waktu sendiri bukan motivasi



Flashback


Namira menangis pilu dengan tangan yang menutupi seluruh wajahnya, seharusnya kata kata yang baru saja Dimas ucapkan membuat dia merasa sangat bahagia, ajakan menikah dari Dimas harusnya Namira balas dengan tangis haru kebahagiaan bukan malah tangisan pilu.


Namira masih tegugu dalam tangisnya, Dimas bingung dengan apa yang terjadi, dia bisa merasakan jika air mata yang di keluarkan oleh Namira bukanlah air mata bahagia, air mata itu lebih terasa seperti air mata seorang pendosa yang sedang meminta ampunan.


"Mir" lirih Dimas sembari memegang bahu Namira.


"Ada apa?" tanya Dimas dengan sejuta rasa tidak enak yang tiba tiba muncul dalam hatinya, firasatnya mengatakan hal buruk sebentar lagi akan terjadi.


"Maaf" lirih Namira di sela sela tangisnya.


Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, sekedar kata maaf tidak bisa menjawab semua pertanyaan dalam pikiran Dimas, sejuta kata maaf pun mungkin tidak akan mampu menyebuhkan luka Dimas nantinya.


"Maaf?, Untuk?" Dimas masih berusaha tenang, meski hantinya mulai merasa gundah.


Hampir 15 menit mereka dalam keheningan, hanya isakan tangis Namira yang terdengar, tak ada kata yang dapat Dimas dengar untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi saat itu.


"Mau sampai kapan kamu menangis Mir, bicara lah aku siap mendengar apapun jawaban mu" ucap Dimas dengan nada yang mulai menunjukkan rasa putus asa.


"Maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu, maafkan aku yang sekali lagi melukai hatimu Dim" Air mata keluar dengan deras dari kedua bola mata indah Namira, tidak ada lagi wajah berbinar dan senyuman hangat saat ini.


"Kenapa?" tanya Dimas dengan tatapan nanar "Kenapa kamu menolak ku?, kenapa kamu menolak hal yang akan melengkapi kebahagiaan kita Mir?"


Namira menggeleng, lidahnya kelu seakan tidak bisa menjelaskan apapun pada Dimas saat ini, dia sadar dirinya begitu jahat pada Dimas yang kembali memberikan ketulusan setelah dia pergi meninggalkan lara yang teramat sangat dalam hati Dimas, bahkan ketika rasa sakit itu belum sembuh sepenuhnya Namira kembali menambah luka di dalamnya.


"Apa ada orang lain yang membuat mu nyaman?"


Namira mengangguk.


"Apakah rasa nyaman itu lebih besar di banding dengan rasa yang aku berikan?"


Namira kembali mengangguk.


"Apakah dia mencintai dan menyayangimu lebih dari aku?"


Namira terdiam, dia kemudian mengedikkan bahunya.


"Aku tidak tahu" lirihnya "Tapi hanya ada nama dia saat ini di hatiku".


Dimas menarik nafas dalam, dia sedang berusaha mencabut satu persatu duri yang menusuk di hatinya setelah mendengar penuturan Namira.


"Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk kita saling meyakinkan Mir? untukku berjuang menuliskan namaku kembali dalam hatimu?" permintaan yang seharusnya menjadi pukulan telak atas pengkhianatan Namira.


Namira menggeleng "Dia melamarku malam ini". jawabnya.


"Kamu menerimanya?"


Namira mengangguk.


Dimas terdiam, hancur sudah harapannya, hancur semua mimpinya, kenapa harus Namira yang kembali menghancurkan dirinya, kenapa harus Namira yang memberi rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya.


"Apakah dia Leo?" tanya Dimas, Namira hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dimas, tanpa Namira jawab sesungguhnya Dimas sudah tahu siapa laki laki yang berhasil memenangkan hati Namira, kecemasan dan kegundahan Dimas selama ini akhirnya terbukti, rasa nyaman yang di berikan oleh Leo berhasil menjerat Namira dan membuatnya ketergantungan dengan hal itu.


"Mungkin hati ku sudah terlalu kuat sehingga aku tidak bisa merasakan rasa sakit yang kamu berikan Mir, atau mungkin hatiku telah mati karena terlalu sakit menerima perlakuanmu" ucap Dimas sembari tersenyum tipis, tatapan matanya memandang lurus ke depan.


"Kenapa kamu harus datang saat hidupku sudah baik baik saja tanpa mu Mir? kenapa kamu harus memohon di saat aku tidak lagi memberi kesempatan padamu? kenapa mir? kenapa!!" Lantang Dimas dengan suara keras, dia bukan tengah mengeluarkan rasa kecewa, tetapi Dimas tengah memaki dirinya sendiri, Dimas sedang merutuki kebodohannya sendiri.


"Harusnya aku tidak lagi membuka hati untuk mu, harusnya aku tidak memperdulikan air matamu saat itu, harusnya aku tidak perduli dengan permohonan sialan mu itu" maki Dimas.


"Maaf" lirih Namira "Maafkan aku Dim, meskipun aku tahu maaf mu tidak layak untuk ku, tapi setidaknya maaf kan aku" pinta Namira dengan tulus.


"Keluarlah, anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya" ucap Dimas tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tidak bisakah kita berteman baik setelah ini?" tanya Namira dengan tatapan penuh harap.


Dimas terbahak cukup lama dengan suara keras, Dimas terbahak membuat Namira sedikit merasa takut.


"Setelah semua yang kamu lakukan dengan gampangnya kamu minta maaf dan meminta berteman baik" Dimas memutar tubuhnya untuk mengahadap kearah Namira.


"Angkat kepalamu dan tatap mataku" ucap Dimas dengan suara tegas, Namira mengangkat kepalanya perlahan dan menatap mata Dimas.


"Jangan harap bahkan dalam bayangan mu sekalipun jangan pernah bermimpi hal itu akan terjadi".


Namira mematung mendengar ucapan sarkas Dimas.


"Itu yang adik mu katakan dulu saat aku memohon maafnya, dan memintanya untuk berdamai dengan keadaan, saat aku memberi tahu hubungan kita" sinis Dimas di barengi dengan senyuman smirk di bibirnya.


"Keluarlah Mir, jalani hidup kita masing masih, jangan pernah lagi mengingat diriku, berpura pura lah tidak mengenalku saat kita tak sengaja bertemu bahkan di kehidupan kedua atau di dunia paralel sekalipun" tukas Dimas.


"Kamu membenciku?"


Dimas mengedikkan bahunya "Saat ini" tuturnya "Tidak tahu esok atau lusa" jawabnya.


Namira membuka pintu mobil, dia tatap sebentar seseorang yang pernah memiliki hidupnya beberapa saat yang lalu, seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam setiap nafasnya.


"Aku harap kamu bahagia tanpa ku Dim" Namira keluar dari mobil Dimas.


"Aku bahkan sudah bahagia sebelum kamu datang dan memberi rasa sakit ini sialan" ucap Dimas dalam hatinya dengan tatapan mata yang menatap lekat punggung Namira yang tengah berjalan menjauh dari hidupnya.


Dimas masih terdiam dalam kesendirian, hatinya teramat sakit hingga Dimas tidak bisa lagi merasakan rasa sakit itu, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, terlihat nama Ardi di layar ponselnya.


"Dimana men?" tanya Ardi setelah panggilan terhubung.


"Kenapa?" jawab Dimas.


"Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan men" kesal Ardi.


"Gue lagi males bercanda men, langsung aja ke intinya"


Huh.... Dimas dapat mendengar dengan jelas Ardi tengah menghelas nafas.


"Lo kuatin hati lo men, gue ada kabar yang kurang baik"


"Apa?" tanya Dimas, walaupun sebenarnya dia sudah memiliki firasat tentang apa yang ingin Ardi bicarakan.


"Namira dan Leo.."


"Gue udah tahu" potong Dimas.


"Lo dimana gue kesitu sekarang"


"Saat ini gue butuh waktu sendiri men bukan sekedar kata kata motivasi"


Dimas langsung memutuskan sambungan telfon, dia matikan ponselnya kemudian dia lempar ke belakang, dia memang benar benar butuh waktu untuk menyediri dan menata hatinya kembali.


Flashback off.....