
Dimas mengerjap sesaat setelah membuka mata dari tidur panjangnya, sudah dua hari terakhir kerjaan Dimas hanya makan tidur dan banyak menghabiskan waktunya di rumah, saat ini kelas X dan XI di liburkan karena sekolah sedang mengadakan ujian nasional untuk kelas XII.
The bad boys yang biasanya menemani Dimas dalam kesepian sedang sibuk masing masing, Noval dan Ardi sedang mendaki gunung, Amar sedang mengunjungi rumah saudaranya yang berada di luar kota, tidak jauh berbeda Anna pun sedang menikmati masa liburan di sebuah pulau yang memiliki keindahan alam yang luar biasa.
Dinda, satu nama yang beberapa waktu terakhir menjadi partner bertukar keringan Dimas sedang mengunjungi pacarnya yang berada di luar kota, ingin rasanya Dimas menculik Anita jika tidak sedang ujian nasional.
Dimas awalnya hendak ikut untuk mendaki bersama dengan Noval dan Ardi, namun seketika dia mengurungkan niatnya setelah melihat video di sebuah media sosial yang berkisah tentang keangkeran gunung, Dimas langsung ciut dan membatalkan niatnya untuk ikut dalam acara pendakian, walaupun harus mendapat cibiran dan hinaan dari kedua sahabatnya yang menyebut Dimas buaya takut hantu.
Di tengah rasa bosan yang mulai menghinggapi Dimas, tiba tiba ponselnya berdering, terlihat nama Amar di sana.
"Men" pekik Amar setelah panggilan terhubung.
"Biasa aja kambing" gerutu Dimas sembari meniup tangannya kemudian dia tempelkan di telinga yang berdenging.
"Dimana men?"
"Kenapa nanya nanya" kesal Dimas.
"Yaudah kalo gak mau, padahal gue mau ajak keluar".
"Bukannya lo lagi di luar kota?"
"Ya sudah anggap aja gue masih di luar kota".
"Men men men" Dimas yang merasa bosan seakan mendapat angin surga.
Amar baru saja kembali dari rumah saudaranya, dia bermaksud mengajak Dimas bertemu dengan kekasihnya karena kekasih Amar juga mengajak temannya.
"Cakep gak?" tanya Dimas.
"Banyak nanya lo" kesal Amar.
"Tinggal di jawab doang anying".
"Sesuai selera lo".
Dimas tersenyum lebar, dia langsung berlari ke kamar mandi untuk mebersihkan diri, Amar bilang satu jam lagi akan sampai di rumah Dimas.
"Semangat bener kambing" sindir Amar ketika baru sampai di rumah Dimas, Dimas sudah siap dengan penampilan rapi.
"Dua hari gue bengong doang, bosen banget" keluh Dimas.
"Pakai mobil lo men"
"Wokey"
Dimas langsung mengeluarkan mobil dari garasi, setelah memanaskan sebentar mereka langsung pergi menuju tempat yang sudah di sepakati Amar dan kekasihnya.
"Lama bener men, udah karatan nih gue" gerutu Dimas setelah 30 menit menunggu di cafe namun kekasih Amar belum juga datang.
"Sabar men, namanya juga cewe dandannya pasti lama"
"Tau gini cuci mata dulu tadi di luar"
"Gaya lo".
Dimas terus menggerutu sedangkan Amar hanya tertawa melihat tingkah Dimas, Amar sudah sangat hafal bagaimana Dimas, Dimas adalah orang yang paling anti jika di suruh menunggu, dia lebih memilih membatalkan sebuah janji jika harus menunggu, tak terkecuali dengan Anna sekalupun, Dimas bahkan pernah meninggalkan tempat dia janjian dengan Anna karena Anna terlambat datang 15 menit.
"Nah itu dia men" tunjuk Amar ke arah pintu masuk cafe.
Dimas tubuhnya memutar tubuhnya karena posisi duduk Dimas membelakangi pintu masuk cafe, pandangan matanya mengikuti arah jari telunjuk Amar, terlihat dua orang wanita baru saja masuk ke dalam cafe, Dimas mengenali salah satu wanita itu, Anggi kekasih Amar, matanya langsung menatap tajam tanpa berkedip melihat wanita yang sedang berjalan bersama kekasih Amar.
"Wow, Bidadari surga" ucapnya sembari menganga.
"Gak nyesel kan lo nunggu" cibir Amar.
"Seharian nunggu juga rela gue" ucap Dimas yang masih menatap kagum dan penuh damba pada teman Anggi.
"Ehem" Amar berdehem untuk menyadarkan Dimas yang masih terus bengong.
"Kenalin men cewe gue"
"Udah kenal gue" jawab Dimas sembari memberi kode pada Amar untuk mengenalkan cewe yang datang bersama Anggi.
"Oh iya ini Namira sahabat Anggi"
"Dimas".
"Mir sorry itu ada sesuatu di mata lo" ucap Dimas seraya tersenyum manis.
"Ehh.. ada apa" Namira mengucek matanya "Gak ada apa apa kok" lanjutnya.
"Ada gue di mata lo"
"Wooo buaya" cibir Amar dan Anggi bersamaan, sementara Namira hanya tersenyum saja melihat tingkah Dimas, karena sedikit banyak Namira sudah tahu bagaimana Dimas dari cerita Anggi.
Mereka berempat kemudian berbincang bicang, perbincangan yang lebih banyak di hiasi oleh gombalan Dimas untuk Namira.
"Namira gak ada yang nyari keluar gini"
"Engga, udah izin tadi pas keluar".
"Maksud gue takut di cari penjaga surga, soalnya satu bidadarinya turun ke Bumi"
"Basi" celetuk Amar, sementara Anggi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dari sahabat kekasihnya itu.
Perbincangan mengalir begitu lancar, apalagi Dimas yang sangat mudah dekat dengan lawan jenis, semua tidak lepas dari jasa Ardi, Ardi mengajari semua hal yang berkaitan dengan lawan jenis, dari mulai cara mendekati sampai dengan menaklukkan hati mereka ketika sedang merajuk.
"Padahal tadi Namira gak mau loh yank aku aja kesini" Namira langsung mencubit lengan Anggi.
"Aww apasi Mir"
"Giliran ketemu Dimas jadi betah" Sindir Anggi yang membuat Namira tersenyum malu.
Dimas lebih berani menggoda Namira setelah mendengar penuturan Anggia, walaupun Namira lebih banyak menanggapi gombalan Dimas dengan senyum malu malu atau sesekali terkekeh pelan.
"Namira satu sekolah sama Anggi?" tanya Dimas sembari menopang dagunya dengan tangan kanan.
"Gak mutu banget pertanyaan lo men" sindir Amar.
Dimas hanya melirik malas pada sahabat laknatnya itu.
Namira mengangguk.
"Iya satu kelas dari kelas X" lirih Namira.
"Woah" mata Dimas berbinar "Gue besok mau pindah ke sekolah kalian" ucapnya.
"Udah men panas kuping gue" sungut Amar.
"Nyaut mulu lo" kesal Dimas sembari menoyor kepala Amar.
Mereka berempat berbincang banyak hal, Dimas terus menggoda Namira sedangkan Amar terus menampilai ucapan Dimas dengan celetukan yang terdengar menjengkelkan bagi Dimas.
"Kosong berapa Mir?"
"Maksudnya?" tanya Namira bingung.
"Nomor lo, kosong berapa?" jawab Dimas seraya tersenyum mesyum.
Namira terkekeh pelan, dia kemudian memberi nomor telfon kepada Dimas.
Setelah beberapa jam nongkrong di cafe mereka memutuskan untuk pulang, Dimas awalnya ingin mengantar Namira dan Anggi, tapi ternyata mereka berdua membawa kendaraan, akhirnya mereka berpisah di parkiran.
"Tak kira kamu kesini tadi terbang Mir?"
"Kok terbang?"
"Kan bidadari".
"Masih aja" celetuk Amar.
Lambaian tangan Dimas dan Amar melepas kepergian Anggi dan Namira, kesan pertama bertemu Namira cukup membekas di hati Dimas, apalagi paras Namira yang cantik seakan membuat Dimas terlena.
Namira
Anggi