
Setelah kejadian di ruang kerja Dimas waktu itu kini Namira dan Dimas memiliki status hubungan yang jelas, Dimas memperlakukan Namira seperti dulu lagi, bedanya kini Dimas tidak mencintai Namira secara berlebihan, dia masih berusaha membentengi hatinya dari rasa sakit yang mungkin datang.
Dinda yang dulu menjadi alasan Namira meninggalkan Dimas kini telah bahagia bersama pacar pertamanya, Dimas beberapa kali bertemu Dinda saat di ajak Namira menghadiri acara keluarganya, tidak ada lagi rasa benci dan dendam satu sama lain, mereka telah berdamai dengan keadaan.
"Kamu langsung ke rumah sakit?" tanya Namira setelah turun dari mobilnya, Dimas baru saja menjemput Namira dan mengantarkan ke kampus, sudah menjadi kegiatan rutin Dimas sehari hari.
Dimas menggeleng "Ada sedikit pekerjaan di luar" tuturnya.
"Oke, semangat sayang" Namira mengecup pipi Dimas, kemudian berpamitan untuk masuk ke dalam.
Setelah Namira masuk ke dalam, Dimas melajukan mobilnya menuju ke tempat parkir kampus itu, hari ini Dimas menjadi pembicara di salah satu seminar fakultas ke dokteran yang berada di bawah universitas dengan tempat Namira mengajar.
Namira menjadi dosen psikologi di sana sesuai dengan cita cita dan bidang minatnya dulu, hal itu baru di ketahui oleh Dimas belakangan ini setelah hubungan mereka lebih jelas.
Dimas turun dari mobil kemudian melangkahkan kakinya memasuki area kampus, banyak pasang mata melihatnya dengan tatapan kagum dan mendamba, hal itu karena kesempurnaan fisik yang Dimas miliki, apalagi tubuhnya terbalut jas kebesaraan seorang dokter, menambah daya tarik bagi para mahasiswi.
"Selamat pagi dokter Dimas" sapa seorang dosen yang tengah menunggu kehadiran Dimas di ruang seminar, Dimas membalas sapaan tersebut dengan ramah dan penuh sopan santun.
"Mari pak" ucapnya mempersilahkan Dimas untuk masuk dan menempati kursi yang telah di siapkan, bisik bisik para mahasiswi seketika terdengar ketika Dimas masuk, nama besar dan ketampanan Dimas memang cukup terkenal di dunia kedokteran, Dimas sering menjadi pembicara dalam seminar ke dokteran.
Setelah mediator membuka acara, dia mempersilahkan Dimas untuk menyampaikan materi, pembawaan Dimas yang tenang membuat semua orang yang ada di ruangan itu seakan terhipnotis.
Setelah selesai menyampaikan materi kemudian Dimas memberi kesempatan untuk bertanya kepada peserta seminar, dari pertanyaan yang berbobot hingga pertanyaan nyeleneh pun ada, salah satunya berkaitan dengan kehidupan pribadi Dimas.
"Saya biasanya tidak pernah menjawab pertanyaan yang menyakut kehidupan pribadi saya" jawab Dimas ketika salah satu mahasiswi bertanya tentang status Dimas "Tapi khusus hari ini saya akan menjawab" seketika suara riuh langsung terdengar, banyak yang berharap jika Dimas masih single.
"Nampaknya kalian harus bersaing dengan salah satu dosen di kampus ini jika ingin menggantikan posisinya sebagai kekasih saya" jawab Dimas dengan lantang tetapi sembari tersenyum hangat.
Guratan kekecewaan seketika timbul di wajah para penganggumnya.
Setelah acara seminar selesai Dimas yang awalnya hendak kembali ke rumah sakit mengurungkan niatnya ketika di jalan melihat Namira sedang berjalan bersama seorang laki laki, laki laki yang Dimas ketahui bernama Leo.
Dimas mengikuti mereka hingga sampai di kantin kampus, dari jauh Dimas memperhatikan interaksi mereka yang terlihat cukup intens, Dimas mengepalkan tangannya ketika melihat Leo memegang bahu Namira apalagi tidak ada penolakan dari Namira.
Dimas masih terdiam memaku di depan pintu masuk kantin tersebut, tatapannya tidak dia alihkan dari objek yang sedari tadi dia lihat, Namira dan Leo kini terlihat duduk di salah satu meja sembari menikmati makanan, terlihat jelas Leo yang selalu berusaha menarik perhatian Namira, yang membuat Dimas kesal adalah Namira menanggapinya dengan tersenyum bahkan terkesah tidak ada penolakan sama sekali.
"Cih" Dimas berdecih kesal, ingin rasanya dia melabrak Namira saat itu, namun dia masih berfikir jika ini di area kampus, saat Dimas masih terdiam tiba tiba ada yang memanggilnya.
"Loh dokter Dimas belum pulang?" tanya seorang wanita yang baru saja datang, dia adalah moderator seminar tadi, salah satu dosen muda di fakultas kedokteran.
"Eh bu Inggit" Dimas membalas senyum "Saya kebetulan free hari ini, jadi mau keliling kampus malah sampai di kantin" kilah Dimas.
"Kalau begitu mari bergabung, ada rekan dosen lain juga di dalam, pasti mereka suka lihat dokter Dimas ikut begabung" pintanya yang di setujui Dimas.
Dimas kemudian berjalan mengekori Inggit, posisi Namira yang membelakangi pintu masuk membuatnya tidak menyadari kehadiran Dimas.
Dimas di persilahkan duduk di salah satu kursi yang terletak tapat di belakang Namira, Dimas yang ingin menolak tapi tidak punya alasan akhirnya mau tidak mau duduk di sana.
Dimas dapat mendengar dengan jelas obrolan Namira dan Leo, kebanyakan obrolan tentang perkuliahan, namun Dimas merasa sedikit emosi saat Leo mengajak Namira untuk keluar bersama di akhir pekan nanti dan tanpa berfikir panjang Namira langsung menyanggupinya.
"Dokter Dimas dari tadi saya perhatikan melamun terus?" goda salah satu dosen muda sembari tertawa.
"Wah beda memang kalau dokter hebat seperti dokter Dimas ini" pujinya yang langsung di sambut gelak tawa oleh yang lain.
Dimas hanya tersenyum simpul.
"Tadi pas dokter Dimas bilang sudah punya kekasih tiba tiba bu Inggit langsung murung loh" goda salah satu dosen senior membuat wajah Inggit memerah malu malu.
"Kan baru kekasih, tenang saja bu Inggit masih ada peluang" timpal dosen lain seakan memberi semangat "Benarkan dokter Dimas?"
Dimas yang hendak menjawab langsung menghentikan niatnya ketika suara Namira memanggil namanya.
"Loh dokter Dimas" ucap Namira pura pura terkejut melihat keberadaan Dimas di sana, padahal saat dosen muda menegur Dimas karena melamun Namira langsung menoleh karena mendengar nama Dimas di sebut.
Semua orang yang berada di situ langsung menoleh ke arah Namira.
"Bu Namira kenal juga dengan dokter Dimas?" tanya dosen yang sedari tadi banyak bicara.
"Iya" jawab Namira sembari melirik tajam ke arah Dimas "Saya teman dari dokter Dimas" ucapnya membuat yang lain ber oh ria sedangkan Dimas menatap tajam Namira.
"Teman hidup dokter Dimas maksud saya" ucap Namira sembari tersenyum miring pada Dimas.
"Hah...." beberapa orang berteriak cukup kencang dengan wajah terkejut.
"Namira kekasih saya" jelas Dimas guna memperjelas ucapan Namira sebelumnya, beberapa dosen senior tersenyum bahagia setelah mengetahui Namira adalah kekasih Dimas, namun para dosen muda yang belum memiliki pasangan langsung patah hati walau tetap mendoakan hubungan Dimas dan Namira.
Setelah sedikit berbasa basi Namira mengajak Dimas untuk pindah tempat duduk agar duduk satu meja dengannya.
"Kamu tadi bilang ada pekerjaan di luar?" tanya Namira dengan wajah cemberutnya.
"Memang benar, kan aku sedang tidak di rumah sakit" jawab Dimas sembari menggoda Namira.
"Ish... nyebelin" Namira memajukan bibirnya yang membuat Dimas gemas.
"Ehem.." suara deheman menarik atensi Dimas dan Namira, Leo yang sedari tadi merasa seperti obat nyamuk membuatnya gerah.
"Oh iya lupa" Namira terkekeh pelan "Sayang kenalin ini Leo teman aku dari masa kuliah dulu" Dimas mengulurkan tangannya "Leo ini Dimas pacar aku" ucap Namira sembari menatap Dimas dengan penuh cinta.
Leo pun menyambut uluran tangan dari Dimas, Leo meremas tangan Dimas ketika bersalaman sembari memberi tatapan dingin pada Dimas, Dimas yang merasa Leo sedang menabuh genderang perang membalas remasan tangan Leo dengan tatapan dingin juga, mereka seakan sedang terlibat perang dingin.
"Lama banget salamannya" gurau Namira sembari menepuk tangan mereka berdua.
Dimas yang merasa baru saja di tantang langsung memanas manasi Leo dengan bersikap manja pada Namira, Leo yang melihat hal itu memberi tatapan tidak sukanya.
Setelah beberapa saat berada dalam situasi yang kurang mengenakkan, panggilan telfon dari rumah sakit terpaksa membuat Dimas harus pergi.
"Aku ada operasi darurat Mir, nanti pulang aku jemput ya" pamit Dimas seraya mengecup pucuk kepala Namira.
"Iya, semangat ya sayang" Namira membalas kecupan Dimas dengan mencium punggung tangannya.
Sebelum pergi tak lupa Dimas memberi tatapan tajam pada Leo sembari tangannya mengelus lembut kepala Namira.