
Amar yang tengah berada di ruang sekretariat osis langsung keluar begitu mendengar adanya keributan antara panitia dan murid baru, dia yang bertanggung jawab sebagai ketua pelaksana harus turun langsung untuk membereskan masalah ini.
"Siapa si yang pagi pagi gini bikin masalah, gue gamparin ntar tuh orang" gerutu Amar sembari berjalan menuju ruang BK bersama dua orang anggota OSIS lainnya.
"Men ngapain lo di sini?" tanya Amar begitu sampai di ruang BK, di sana terlihat Dimas tengah duduk sembari menyandarkan punggungnya di sofa ruang BK.
"Lo yang ngapain di sini?" Dimas membalik pertanyaan Amar.
"Nyari panitia yang bikin masalah, kampret bener tuh orang pagi pagi bikin kerjaan aja, pengin gue gamparin rasanya" gerutu Amar sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang BK.
Amar pun berhenti ketika tatapannya bertemu dengan tatapan tajam dari Dimas.
"Hehehe" Amar tersenyum kecut, dia menyadari jika sahabatnya lah yang baru saja membuat keributan.
"Lo jadi gamparin gue" sinis Dimas.
"Tahun kemarin dua cecunguk bikin masalah sama panitia, tahun ini lo jadi panitia bikin masalah sama anak baru" Amar berjalan mendekati Dimas sembari berdecak kesal, dia kemudian duduk di sebelah Dimas.
"Gimana ceritanya men" tanya Amar.
Dimas kemudian bercerita awal mula terjadinya permasalahan, dia menceritakan kronologi kejadian dengan lengkap tanpa ada yang di kurangi atau di tamabah sedikit pun, Amar mengangguk setelah Dimas selesai bercerita, mimik wajah serius langsung berubah menjadi mimik wajah yang menjengkelkan setelahnya.
"Oh jadi bukan gara gara dia gak bawa batang MOS lo emosi men?"
"Maksud lo?" tanya Dimas bingung.
"Anna" celetuk Amar yang membuat Dimas langsung memukul kepalanya.
"Hobby banget lo pukul kepala gue bangs*t" sungut Amar.
"Lo tunggu di ruang OSIS dulu, gue beresin masalah ini sama BK" ucap Amar kemudian melihat ke arah dua orang anggota OSIS yang tadi ikut bersamanya "Anterin dia ke ruang OSIS" perintah Amar.
Setelah Dimas dan dua orang anggota OSIS pergi Amar langsung menghadap guru BK, Amar kemudian menyampaikan kronologi kejadian kepada guru BK.
"Tapi tidak seharusnya di selesaikan dengan kekerasan seperti ini mas" ucap guru BK setelah mendengar penjelasan Amar terkait kronologi kejadian.
"Tidak bisa mas, ini harus masuk ke ranah BK" bantah guru BK.
Kemudian terjadi sedikit perdebatan yang cukup sengit, Amar masih kekeh jika masalah yang terjadi selama MOS harus OSIS yang menyelesaikan, namun guru BK bersikeras jika masalah harus tetap masuk ke ranah mereka.
"Baiklah jika begitu, saya sebagai ketua pelaksana akan mengundurkan diri hari ini juga, dan saya pastikan sebagian besar dari panitia MOS juga akan mundur jika bapak masih bersikeras seperti ini" ancan Amar.
"Loh kok malah kamu yang mengancam saya" ucap guru BK menatap tidak percaya kepada Amar.
"Percuma saya bekerja jika masih ada intervensi dari BK dan BK tidak menaruh kepercayaan kepada kami".
Diskusi pun terus berlanjut, Amar selalu berhasil memberi argumen yang membuat guru BK berfikir keras, akhirnya setelah berapa lama terjadi perdebatan guru BK menyetujui permintaan Amar.
"Baiklah, tapi kalau OSIS tidak bisa menyelesaikan maka kami akan turun tangan" titah guru BK mengakhiri perdebatannya dengan Amar.
Amar kemudian berpamitan, dia langsung menuju ke ruang sekretariat OSIS untuk menyidang Dimas dan anak baru, sebelum itu Amar singgah terlebuh dahulu ke kelas X3 untuk melihat kondisi di sini.
"Ann" panggil Amar ketika sampai di depan pintu ruang kelas "Sini" ucapnya ketika Anna menoleh.
"Lo bisa handle kelas ini sendiri gak?".
"Dimas kemana?"
Amar langsung menggerutu kesal ketika Anna bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Pacar bayangan lo bikin masalah mulu, gue mau kelarin dulu" pipi Anna merona ketika Amar menyebut Dimas sebagai pacar bayangannya "Jadi sementara lo bisa handle sendiri gak?" tanya Amar.
"Susah kayanya, kirim aja pengganti Dimas sementara" pinta Anna.
"Oke ntar gue kirim satu orang, lo handle dulu bentar"
Amar kemudian pergi meninggalkan kelas itu, dia malas terlalu lama berada di situ karena Anna pasti akan terus bertanya banyak hal mengenai Dimas.